Freefall

Tulisan ini menuturkan ingatan pertamaku tentang ketidakadilan, saat aku sekeluarga sedang tinggal di Melbourne, Australia. Aku mungkin baru berumur lima atau enam tahun. Bapakku pada saat itu sedang bekerja sambilan sebagai dosen di suatu universitas. Pekerjaan utamanya, tentu saja, adalah menjadi api di dalam hatiku.


Kata Ibu, malam ini Bapak akan pulang. Sudah seminggu Bapak pergi, seminggu yang berlalu bagiku bagaikan sebulan, atau mungkin lebih. Malam itu aku menanti, menyerap detik demi detik, menit demi menit, seperti karet gelang yang ditarik pelan-pelan sampai ambang batas pertahanannya. Andaikan karet gelang bisa bicara, pastinya ia sudah meronta-ronta, mengisi seluruh ruang dan udara dengan jeritan maut yang lirih. Sedikit lagi robek dan putus (hanya sedikit lagi).

Lampu kamar sudah mati. Jam segini biasanya aku sudah tertidur pulas, namun malam ini berbeda. Di bawah selimut aku tetap terjaga, bergulat dengan gegap-gempita detak jantungku sendiri, seakan-akan aku telah melompat dari atap pencakar langit namun tak kunjung menghantam trotoar, terjun bebas tanpa tahu lagi mana atas dan mana bawah; tubuhku yang mungil diputar-putar dan dipermainkan oleh angin yang bergemuruh dan berkobar di gendang telingaku. Kapan aku akan menabrak tanah?

Di bawah selimut aku dipeluk erat oleh sesak-gelapnya kamarku sendiri. Di atas kasur aku menahan isak. Terjun bebas aku dalam rindu, karena malam ini Bapak akan pulang.


Aku dengar pintu apartemen membuka, menutup. Derap langkah sepasang boots yang berat. Dari bawah selimut aku mendengar Ibu di ruang tamu tertawa lepas: suaranya menusuk dan meretas kesunyian malam seperti pasien dalam koma yang terbangun kembali setelah dihentakkan oleh aliran listrik. Bagaikan lomba balap lari, jantungku menyadari bahwa dia telah memasuki lap terakhir — sprint. Pahlawanku telah pulang.

Pelan-pelan aku tarik selimut yang menyelubungiku, hingga mataku mampu mengintip di balik kegelapan. Ada sosok di balik pintu. Pintu kamarku membuka, dan bayangan raksasa masuk dan menghampiriku. Dengan penuh lemah lembut dia mencium keningku. Sudahlah — dengan kecepatan penuh, gravitasi telah mempertemukan aku dengan trotoar, dan aku tak malu-malu untuk menghantamnya. Hanya saja, trotoar berubah menjadi tangan dan badan perkasanya Bapak, harum tubuhnya yang menenangkan, pelukannya yang memeras habis segenap rinduku yang selama seminggu (berbulan-bulan) telah kupendam, memeras hingga tetes terakhir.

Bapak telah pulang, dan seperti biasa, Bapak membawa cerita.


Aku tidak tahu Bapak pergi ke mana kali ini. Seperti biasa, dia pergi melintasi bumi untuk membasmi kejahatan, untuk melawan orang-orang yang melukai orang lain, dan untuk membela kebenaran. Itu saja yang kutahu, dan yang selama ini aku ketahui. Tak ada yang berubah. Yang jelas, di bawah selimut, kami berdua memasuki fase interaksi yang paling dalam antara seorang Bapak dan Anak: melalui ceritanya, Bapakku sedang mengisi relung jiwaku dengan arus dan aliran perjuangan hidupnya. Aku tahu aku takkan pernah lupa. Setiap suntikan suara di telingaku membakar imajinasiku dan mengukir memorinya sendiri di lanskap otakku, merembes dan menembus ke hatiku, hingga jiwaku tak lagi berbentuk sama, hingga perjuangannya menjadi peganganku, yang akan terus aku simpan dalam gunung es di balik kesadaran primalku yang paling dalam.


Bapak bercerita tentang bagaimana dunia ini semakin panas, karena ulah orang-orang tamak dan rakus. Bagaimana pabrik-pabrik terus membakar dan mengeluarkan asap dan racun yang merusak dan menjadikan tipis lapisan ozon di atmosfir. Oleh karenanya, panasnya sang surya semakin tak terbendung.

Bapak bercerita bagaimana untuk pertama kalinya dalam sejarah, suku-suku Inuit di dekat Kutub Utara menderita penyakit kaki gajah. Kaki mereka membesar hingga berbentuk kembung dan aneh. Hal tersebut dapat terjadi akibat dunia yang semakin panas, hingga nyamuk-nyamuk yang membawa penyakit kaki gajah semakin berani untuk terbang ke Utara, ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk mereka.

Orang-orang Inuit tak mengerti apa yang terjadi kepada mereka. Mereka sama sekali tidak punya rekam jejak ingatan atau tuturan bersama yang turun-temurun mengenai penyakit kaki gajah. Mereka pun terjun bebas, didorong dari tebing gunung es oleh siluet penjahat yang berbentuk asap. Mereka tak tahu pula mana lagi atas dan mana lagi bawah. Mereka dihanyutkan oleh lelehnya es tempat mereka berpijak, didekap oleh panasnya dunia, dan dibakar oleh panasnya kaki-kaki abnormal mereka yang di dalamnya menjalar api dari gigitan nyamuk pembawa penyakit.


Aku menangis. Aku menangis terisak-isak. Air mataku tak kunjung berhenti. Di dalam kepalaku, adegan demi adegan bermain tanpa putus seperti roll film yang diputar terus-menerus dalam kegelapan bioskop. Aku kira aku telah terjun bebas untuk mencari Bapakku, namun ternyata, di luar dinding-dinding kamarku, hidup manusia-manusia yang setiap hari terjun bebas untuk mencoba memaknai penderitaan. Keran air mataku dibuka oleh ukiran Bapak di dalam otakku, yang digerakkan pula oleh api yang menyala sunyi di dalam hati mungilku.

Tangisanku mengalir sepanjang malam. Aku menangis untukmu, wahai suku-suku Inuit. Aku menangis untuk kalian yang Bapakku perjuangkan dengan darah dan keringatnya. Aku menangis untuk dunia yang aku kenal belum sampai sepuluh tahun, untuk lorong-lorong gelapnya, untuk rahasia dan misterinya, untuk perjuangan dan pengharapannya.

Malam ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu bahwa dunia ini tidak baik-baik saja.


Pulo
15 Oktober 2015


One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.