Resensi Film: Princess Mononoke

Ditulis untuk tugas mata kuliah Politik Lingkungan dan Sumber Daya Alam.


Film Hayao Miyazaki yang berjudul Princess Mononoke berkisah tentang konflik antara manusia, dengan segala kemajuan dan pembangunannya, dan alam, yang dirusak dan dirampas oleh hasrat manusia yang melampaui batas. Konflik tersebut diceritakan melalui perjalanan hidup seorang pejuang muda bernama Ashitaka dari suku Emishi, sebuah suku di daratan Timur yang dahulu mengalami penindasan dan pengusiran oleh kaum penguasa.

Di awal film, Ashitaka melindungi kampungnya dari Nago, seekor dewa babi hutan yang berubah menjadi setan akibat luka dari sebongkah logam yang ditemukan di dalam perutnya. Ashitaka berhasil membunuh Nago namun terkena luka ‘kutukan,’ yang secara perlahan akan menyebar ke seluruh tubuhnya dan lambat laun membunuhnya. Ashitaka akhirnya berkelana ke negeri Barat untuk menemukan sumber dari penderitaan Nago, dan menemukan sebuah kota-pabrik penghasil besi (Ironworks) yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Eboshi. Dengan kekuatan senjata-senjata api, Eboshi dan para prajuritnya dahulu telah mengusir para binatang serta menebang pepohonan di hutan dan pegunungan tempat ia dirikan kota, dan hingga sekarang terlibat dalam konflik dengan beberapa suku binatang, terutama suku serigala, yang mencoba untuk membunuh atau mengusir kaum manusia dan merebut kembali tanah mereka.

Ashitaka terlibat dalam konflik tersebut dan menyadari bahwa Nago dan sukunya dihabiskan oleh Eboshi. Ashitaka kemudian membangun hubungan dengan San, perempuan manusia-serigala yang merupakan bagian dari suku serigala dan salah satu tokoh yang paling gigih dalam mencoba untuk membunuh Eboshi dan berperang melawan manusia. Konflik tersebut akhirnya diperumit dengan adanya pihak-pihak luar yang atas nama Kaisar menginginkan untuk membunuh Dewa Rusa yang merupakan penjaga dari hutan-hutan di sekitar kota Ironworks, demi mendapatkan kepalanya. Alhasil, para binatang terlibat dalam perang terbuka dengan manusia, dan Dewa Rusa kepalanya berhasil dicopotkan dari badannya, namun tidak mati. Dalam amukannya, hutan-hutan menjadi hancur dan busuk dan Ironworks lenyap dimusnahkan, hingga akhirnya Ashitaka dan San berhasil mengembalikan kepalanya ke badannya. Tanah yang tadinya busuk akhirnya subur kembali dan muncul aneka tumbuhan dan pohon-pohon baru.

Film berakhir dengan perdamaian sementara antara manusia dan alam. Walaupun berakhir dengan sebuah nada optimis, namun akhir film tersebut masih mengisyaratkan tanda tanya terhadap nasib kedua belah pihak di masa depan.

Menurut saya, terdapat banyak analogi, makna moral, serta hal-hal menarik yang terkandung dalam konflik yang secara eksplisit ditampilkan dalam film ini. Secara mendasar, film ini merupakan analogi langsung dari kehidupan manusia pasca-Revolusi Industri, di mana beriringan dengan perkembangan kapitalisme, ekspansi dan pembangunan manusia tumbuh secara eksponensial dan berbanding lurus dengan laju eksploitasi dan perusakan ekologis. Film ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menemukan kembali cara hidup tradisional ‘ketimuran’ (Ashitaka dari suku Emishi dari timur) dengan alam yang penuh keseimbangan, yang dikontraskan dengan wajah ekspansi dan akumulasi kapital yang ‘kebaratan’ (yang direpresentasikan oleh kota penghasil besinya Eboshi, yang terletak di barat).

Menurut saya, Eboshi merupakan wujud dari kapitalisme global abad ke-21. Sekilas, dia tampak memiliki hati yang baik karena menunjukkan empati terhadap pelacur dan orang-orang yang terkena penyakit leprosy dengan memberikan mereka pekerjaan di pabrik besinya. Namun, empati tersebut ternyata hanyalah bagian dari keberlangsungan proses produksi dan ekspansi pabriknya; kebaikan-kebaikannya sirna di hadapan ketamakan dan kerakusannya untuk terus berekspansi dan berakumulasi demi memperoleh kekayaan, tanpa sedikitpun memperdulikan kondisi ekologis yang dirusaknya.

Hal tersebut sama dengan kapitalisme modern, yang oleh Zizek dinamakan cultural capitalism. Analogi yang diberikan oleh Zizek adalah secangkir kopi Starbucks: Anda seakan-akan tergiur untuk membeli secangkir kopi Starbucks, karena dalam pembelian secangkir kopi, Anda terlihat seakan-akan membela kelestarian lingkungan (dengan bahan cangkirnya yang dapat didaur ulang, kopinya yang organik, dan lain-lain). Faktanya, hal tersebut tidak menghapus kontradiksi pokok bahwa Starbucks merupakan ikon dari kapitalisme global, yang terus berekspansi dan berakumulasi, sembari secara sistematis menyengsarakan petani-petani kopi lokal di seluruh dunia.

Kapitalisme juga seringkali memberikan ilusi reward kepada orang-orang yang justru ia eksploitasi habis-habisan, sama seperti para penderita leprosy yang dikirimkan sake oleh Eboshi karena sudah bekerja dengan keras. Watak elitis dalam kapitalisme untuk selalu memberikan alokasi kapital yang terbesar kepada segelintir pemiliknya juga terlihat dalam adegan Eboshi mengajak Ashitaka ke taman pribadinya — satu-satunya adegan yang menunjukkan adanya tanaman dan tumbuh-tumbuhan di dalam kota Ironworks, yang ironisnya dimiliki oleh Eboshi (“My garden, where none dare come”), yang walaupun secara besar-besaran mengeksploitasi alam di sekitarnya, namun ternyata memiliki selera untuk menikmati keindahan alam secara privat.

Hal menarik lainnya adalah amukan Dewa Rusa ketika kepalanya dicopot, yang menghancurkan hutan dan pegunungan dan akhirnya menghancurkan secara total kota Ironworks. Hal ini menurut saya merepresentasikan boomerang effect dari perusakan ekologis, di mana segala kerusakan yang manusia lakukan terhadap alam, pada akhirnya akan merusak dan mengancam kesalamatan hidup manusia itu sendiri (yang sangat jelas dalam adegan Ironworks yang hancur).


25 Februari 2014