39.

Hari ini genap saya berusia 39 tahun.

Tidak seperti sepuluh tahun lalu, 39 bukan angka 29 yang saya sakralkan karena tahun depannya digit depan akan berubah. Justru saya tak sabar ingin segera menginjak angka 40 karena entah kenapa, semakin kesini, semakin saya merasa nyaman dengan diri sendiri. Saya merasa angka 40 akan membebaskan diri saya lebih jauh lagi.

Tapi mari kembali ke angka 39, yang merupakan usia saya hari ini.

Banyak yang menggoda: “Ulang tahun keberapa, sih?” Dengan ekspektasi saya akan menjawab dengan canda, “Ke-17 dong,” sebagaimana layaknya wanita jika ditanya berapa usianya. Tapi saya harus mengecewakan para penanya dengan menjawab terus terang, menyebutkan angka yang mungkin tabu bagi sebagian wanita.

Saya tidak ingin mempertanyakan mengapa timbul tabu atau aturan kesopanan ala Eropa bahwa menanyakan usia seorang wanita bisa membuat seseorang dianggap lancang. Saya ingin kita berintrospeksi.

Mengapa kita harus terganggu jika ada yang menanyakan berapa lama kita telah eksis di dunia fana ini? Ini bukan kompetisi, bukan pula ajang cari kelemahan.

Usia adalah hal yang signifikan dalam hidup. Tiap pijakan naiknya adalah tanda bahwa satu fase kehidupan sudah terlewati, satu paket memori, pengalaman dan pelajaran sudah berlalu, siap disimpan di salah satu pojok otak untuk kemudian dibuka jika sewaktu-waktu perlu. Jumlah usia menandakan bahwa kita sudah melalui berbagai transformasi baik fisik maupun mental.

“Ya maksudnya toh sama: jadi tua.”

Apa yang salah dengan “menjadi tua” sih?

Kita akan bergerak lebih lamban, ya. Akan lebih sulit cari pekerjaan, betul. Lebih rentan kena penyakit, pasti. Nggak bisa party lagi, belum tentu tergantung pergaulan (egimana?). Makan mesti dijaga, tepat. Jadi ubanan dan keriputan, sudah seharusnya.

Manusia menjadi tua, itu memang sudah takdirnya. Adalah benar bahwa zaman now sudah banyak upaya perawatan untuk memelankan laju penuaan pada fisik, namun saya ingin bertanya dengan sungguh-sungguh:

Perlukah?

Saya tak mau jadi puritan yang bilang bahwa menua itu takdir jadi telanlah bulat-bulat, menjadi jeleklah dengan hati lapang dan membusuklah dengan bahagia. Sayapun masih memakai pelembab yang mengandung pitera yang katanya sakti dalam menghilangkan kerut halus di ujung mata (bahasa kerennya crow’s feet atau cakar gagak).

Tapi pertanyaan saya tetap: perlukah kita sedemikian kuatnya menolak menjadi tua diawali dengan keengganan menjawab jujur berapa usia kita jika ditanya? Lebih jauh lagi: apakah dengan tidak menjawab atau bahkan berbohong, menolong kita untuk lari dari kenyataan usia kita yang sebenarnya?

Satu dekade lalu, ketika berulangtahun yang ke-29, saya berpikir hidup saya di usia yang ke-30 nanti akan sangat berbeda, dan karenanya saya harus memenuhi tuntutan-tuntutan tertentu dari masyarakat seperti: menikah, punya anak dan mulai mapan dalam pekerjaan. Hal ini sungguh berbeda dengan pendekatan dan pengamatan saya tentang usia ke-40 tahun depan.

Seperti saya singgung di awal tulisan ini, menghadapi semakin mendekatnya angka 40, saya merasa lebih bebas dalam banyak hal.

Karena coba deh kita pikir: apa yang diharapkan dari seorang wanita Indonesia berusia 40 tahun? Sepertinya jarang sekali dibicarakan. Kehidupan wanita Indonesia seolah berhenti di usia 30, dimana itu nampaknya merupakan tapal batas keberhasilan yang diukur dengan seenaknya menggunakan status pernikahan. Jika sudah menikah, bagus. Jika akan menikah dalam waktu dekat, okelah asal cepat beranak. Jika belum, pasang muka horor dan bertanyalah sembarangan, “Kenapa??”.

Sungguh berat ekspektasi di usia 30 tahun.

Sekarang coba pikir lagi, tampaknya tidak banyak yang mempermasalahkan apa yang akan terjadi pada seorang wanita Indonesia di usia 40 tahun. Sekali lagi, ini masalah ekspektasi, sepertinya. Di usia ke-40, seorang wanita Indonesia biasanya dianggap sudah punya anak yang beranjak remaja. Jika dia ibu rumah tangga, tentu sedang sibuk-sibuknya dengan kegiatan POMG atau apapun yang berkaitan dengan sekolah anak. Jika dia wanita karier, mungkin sudah level manager, dan itu artinya kemapanan sudah di tangan. Mau apa lagi, sih?

Lihat kan, kalau kehidupan diatas usia 40 bagi sebagian besar perempuan Indonesia itu dianggap harus berhenti dan tidak boleh punya keinginan lagi.

Buat orang yang banyak maunya seperti saya, pertanyaan “Mau apa lagi, sih?” ini kok terasa seperti menantang. Banyak dong maunya, sayang. Mau memastikan pendidikan anak aman sampai universitas, mau jalan-jalan keliling dunia, mau punya studio gambar yang viewnya menghadap pantai atau sawah tapi tetap ber-wifi, mau sekolah lagi, mau ini, mau itu.

Perlahan saya sadar bahwa ternyata yang menyebabkan kita menua dengan cepat adalah kenyataan bahwa kita memaksa diri kita menjadi tua sebelum waktunya dengan membuat batasan verbal untuk hal-hal yang kita inginkan.

“Udah 40 masa mau sekolah lagi? Ketuaan kali.”

“Yailah, jalan-jalan keliling dunia? Udah 40 mah encok yang ada.”

Semoga saya tak akan pernah begitu.

Di usia saya yang ke-39 ini, saya bersyukur bahwa saya diberi anugerah tetap muda sejak dalam pikiran. Saya bersyukur diberi kemampuan mensyukuri bahwa crows feet diujung mata kanan dan kiri saya adalah jejak penanda bahwa walau hidup ini tak seringan kelihatannya, saya masih bisa tertawa. Sungguh saya tak ingin mengaplikasikan “resting bitch face” atau menahan agar tak tersenyum atau tertawa demi tidak mempertebal kerutan-kerutan di wajah, karena buat apa cantik awet muda jika tak bisa tertawa lepas?

Saya ingin wanita Indonesia, seperti saya, lebih jujur dan menikmati proses penuaan dengan lebih anggun, lepas dan bebas. Banggalah berusia diatas 30, bahagialah dalam perjalanan mendekati 40. Janganlah memalsukan umur, karena eksistensi kita tidak palsu. Yuk sambut dengan bahagia: keriput, uban, perlambatan metabolisme dan pakaian yang mulai naik beberapa ukuran.

Lalu perlahan genggam tangan kanan, keluarkan jari tengah dan katakan persetan untuk mereka yang mempertanyakan, bahkan mempermasalahkan, mengapa kamu kok udah umur sekian masih gini-gini aja. Karena sejujurnya, apapun yang kamu lakukan di usia berapapun, bukanlah urusan mereka.

Dan sepertinya, yang terakhir ini adalah rahasia awet muda saya yang sebenar-benarnya.

😜