(Pintar) Membangun, (Kurang Pintar) Memelihara

Bangsa Indonesia sudah memiliki kemampuan mencipta atau membangun karya dengan baik, namun dalam hal memelihara masih sangat kurang. Mungkin sebagai contoh kecil dapat dilihat dari beberapa gambar berikut.

Petugas kebersihan melintas di dekat kolam renang yang dipenuhi lumut di GOR Akuatik, kompleks Stadion Utama Palaran, Kalimantan Timur. (sumber: KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)
Data fasilitas olahraga yang rusak (sumber: kompas)

Anekdot bahwa bangsa ini gemar membangun, tetapi tak bisa merawat tak sepenuhnya salah. Gambar-gambar diatas masih sebagian kecil dari kenyataan yang terjadi di Indonesia.

Menurut hal yang saya ketahui, apapun yang kita buat itu memiliki paling tidak tiga fase siklus: (1) Penciptaan, (2) Penggunaan, dan (3) Penghancuran (decommisioning). Nah pemeliharaan itu terjadi bersamaan pada fase yang ke dua, yaitu penggunaan. Pemeliharaan itu seharusnya embedded dengan penggunaan. Namun yang saya kurang mengerti apakah pemeliharaan sering tidak diperhitungkan dalam perencanaan awal? Atau mungkin terdapat mindset bahwa pemeliharaan cenderung membuang-buang uang saja dan lebih murah untuk membangun yang baru ketimbang memelihara yang sudah ada? Yang jelas hal tersebut adalah sebuah kesalahan yang mungkin terdapat dalam fase perencanaan konseptual.

Jadi kalau kita tidak sanggup memelihara suatu fasilitas, maka perencanaan yang dilakukan sama dengan hanya memiliki dua fasa, dari Penciptaan langsung ke Penghancuran. Sayang bukan? Buat apa menciptakan sesuatu yang langsung harus dihancurkan. Dengan kata lain, kalau kita tidak sanggup memelihara sesuatu, mendingan jangan dibuat.

Ada orang berpikir dengan konsep diminishing return. Sesuatu yang sering dipakai itu akan aus, rusak, dan akhirnya hancur. Jadi, setelah dibuat, mendingan disimpan, jangan dipakai supaya tidak cepat rusak.

Itu teorinya, tapi dalam prakteknya tidak begitu.

Saya perhatikan rumah yang tidak dihuni itu kok gampang rusak. Sebaliknya rumah tua yang selalu dihuni itu selalu terawat. Justru karena penghuninya menghidupi rumah itu, menggunakan rumah itu, maka ia terpelihara. Setiap kerusakan langsung direparasi.

Jadi kunci pemeliharaan adalah penggunaannya, dihidupi, dihuni sehingga akan ada rasa memiliki terhadap suatu fasilitas publik dan kepedulian terhadap orang lain yang akan menggunakannya.

Nah, mengapa ada yang selalu digunakan tapi menjadi buruk. WC atau toiletkan selau dipakai tiap hari, tapi kok jorok?

Nah ini kelakuan kita. Kita itu menggunakan barang seperti WC umum. Kita tidak merasa memiliki. Kita tidak merasa perlu menjaganya. Karena kita cuma numpang lewat di situ. Jadi kita memperlakukannya sembarangan padahal sebenarnya kita ataupun orang lain tetap butuh meskipun kita sendiri hanya sebentar menggunakannya.

Interesting. Kalau kita lewat suatu tempat, tempat itu tambah buruk atau tambah bagus? Jawaban dari pertanyaan ini adalah kunci kemampuan bangsa kita memelihara banyak hal.