Kenapa Harus Membaca Buku?

(Sebuah Cerita Bukan Fiksi. Jawaban untuk pertanyaan teman saya)

Semuanya bermula dari sebuah ungkapan tanya seorang teman. Awalnya lucu, pelan-pelan, jadi tidak sama sekali. Sebut saja dia, Ralin. Sependek ingatan saya, doi tanya soal ini tahun lalu, pas ketika agenda numpang goreng telur di kosnya usai saya lakukan. Saya memang suka pinjam dapur kosan Ralin, selain karena dekat dari kos saya, terkadang kalau lagi mujur saya biasanya dapat tambahan lauk dari ibu kosnya.

Kalau Ralin suka meminjamkan dapurnya, saya suka meminjami buku-buku saya, yang tipis-tipis, tapi cukup memikat keingintahuan. Memang setelah menamatkan beberapa buku yang saya pinjamkan, perlahan-lahan doi mulai gelisah, seperti sedang ada pertanyaan menempel di ujung lidahnya, disimpan di belakang gigi-gigi serinya. Tertebak! Sampai pada akhirnya, muncul pertanyaan begini, “Fiqri Ko te takut baca buku, iyo? Saya takut baca buku leeh, kaya’ tenggelam saya rasa.” Begitu tanyanya, begitu pula gaya bahasanya, logat orang Palu. Saya jawab pakai ketawa, kurang ajar memang.

Gelak tawa saya pun pelan-pelan kian mengecil sembari saya cerna baik-baik pertanyaannya. Pertanyaannya memang lugu. Akan tetapi bukankah pertanyaan seperti ini juga sebuah ikhtiar mempertanyakan hal-hal kecil yang sudah diamini jadi kebiasaan, semisal membaca buku. Tenang… Cerita ini bukan tentang tradisi filsafat eksistensialisme atau buah pemikiran Jean Paul Sartre tentang kehendak bebas manusia. Ini hanya soal, kenapa kita harus membaca? Terutama buku. Sesederhana itu.

(Sebenarnya ini juga soal; agar teman saya tidak mati penasaran, dan jadi setan yang bergentayangan di toko-toko buku, ataupun di perpustakaan kampus yang memang sudah sepi nan angker, saya coba untuk menjawab pertanyaannya.)

Pertama, pengalaman emosional maha gaib serasa ‘tenggelam’ setelah baca buku yang dirasakan teman saya itu, juga pernah saya alami, bahkan beberapa kali saya juga merasa kena tampiling. Sensasi aneh bin ajaib ini, sewaktu-waktu bisa bikin kena mind blown atau tiupan pikiran, Yaa Tiupan Pikiran (Literally). Hahaha. Mind Blown sebenarnya adalah ungkapan extremely impressive, ditujukan untuk hal yang sangat mengesankan atau berkesan. Ingat ini, tiupan pikiran tidak lucu sama sekali.

Baiklah, kembali ke perkara baca buku. Sensasi-sensasi gaib di atas memang cuman kesana-kemari di dalam pikiran, tak kasat mata tetapi ada dan terasa. Bahkan ada juga sensasi yang menjadi life-changing experiences, yang benar-benar menginspirasi para pembaca. Dengan keterbatasan ilmu saya, fenomena sensasi gaib ini saya coba kaitkan dengan apa yang kita sebut imajinasi.

Soal Imajinasi (Bersiaplah Untuk Tiupan Pikiran)

Setelah beberapa menit saya utak-atik beberapa situs di dunia maya, termasuk Wikipedia, saya bisa menyimpulkan beberapa kesimpulan. Sederhananya begini, imajinasi adalah anugerah berupa kemampuan otak untuk menghasilkan suatu citra mental/persepsi/ide/gambaran di dalam pikiran. Di dalam otak kita, pikiran itu seumpama softwares sedang otak ibarat laptop atau komputer kita, sebagai Hardwares. Perandaian ini saya dapatkan dari guru saya sewaktu kelas satu smp, waktu itu mengetik pakai microsoft word saja sudah buat dumba (baca:gugup) setengah mati.

Kembali ke soal imajinasi. Gambaran atau visualisasi yang kita bayang-bayangkan di dalam kepala bisa jadi lebih bebas atau out of the box, keluar dari realitas yang tiap hari kita lihat. Imajinasi bahkan mampu untuk mengembangkan pemikiran atau temuan yang lebih luas dan belum ditemukan sama sekali. Dari satu zaman ke zaman lainnya, imajinasi telah melandasi pemikiran para filsuf, penemu, martir, untuk bereksperimen apa yang mereka bayangkan dan belum pernah ada. Yah, termasuk juga menciptakan kiat-kiat yang buruk (dalam pikir saya), sebut saja desain ekonomi kapitalis, kiat-kiat perampasan tanah, serangkaian manipulasi dalam institusi pendidikan hingga foto tipuan ayam telur lengkap dengan sayur-mayur di bungkus Indomie untuk kepentingan iklan. Pendeknya, Imajinasi juga ruang pertarungan gagasan baik-buruk, gagasan adil-tidak adil, yang dua-duanya berdampak pada manusia.

Nah, sensasi-sensasi gaib di atas termasuk juga hasil buah-usaha imajinasi. Membaca hanya soal perantara untuk membangkitkan rasa imajinasi yang awalnya tak pernah terpikirkan, atau ditemui di lingkungan keseharian. Sampai sini, imajinasi mungkin kedengaran remeh-temeh yah? Apa gunanya tau tentang beginian bagi teman saya, Ralin? Mari kita cari tahu, kira-kira gunanya imajinasi buat Ralin itu apa.

Sebagaimana penjelasan Wikipedia di muka, imajinasi membantu kita memberikan gambaran tentang apa yang bahkan belum kita temui atau rasakan sebelumnya, yah.. Termasuk kemampuan membayangkan keberadaan orang lain; nasib dan penderitaannya. Melalui imajinasi, seorang mahasiswa kedokteran gigi seperti Ralin, yang sehari-hari belajar hal-hal praktis mengenai seluk beluk gusi, gigi dan kesehatan mulut, mampu membayangkan hidup keterpurukan para petani yang berada jauh darinya. Semisal saja nasib para petani di Kendeng (Jawa Tengah), yang terancam kehilangan sawahnya. Dari situ, Ralin bisa paham kenapa ibu-ibu Petani Kendeng jauh-jauh long march dari Rembang ke Semarang (150 Km jauhnya, puluhan kali lipat jarak btp dengan kampus) ataupun sampai aksi memasung kaki memakai semen, di depan istana negara. Ralin bisa jadi paham tentang amarah dan penderitaan ini, sehingga mau membaca lebih tentang “mereka” atau bahkan turun aksi solidaritas.

Selain itu, Ralin harus paham bahwa usaha-usaha imajinatif untuk memahami penderitaan orang lain tadi, tidak lurus-mulus ruangnya, alias banyak hambatan. Sensasi-sensasi gaib “tenggelam” atau “terpukul” setelah membaca dan berimajinasi, seharusnya sudah harus ada sejak dini, biar sedari anak-anak, kita pun dekat dengan rasa kemanusiaan. Dengan begitu, tentu akan lebih banyak tahu, banyak kritis dan banyak-banyak pengertian. Sensasi-sensasi tadi, tolong jangan ditakuti, itu itikad baik. Sebaliknya, pragmatisme, kurang kreatif, kehabisan alternatif, ikut-ikutan arus (mainstream lifestyle), dan susah memahami orang lain adalah bukti kurangnya imajinasi, juga bukti kurangnya membaca. Bisa jadi kenapa hari ini hoax berbalut sentimen kelompok (seringkali berbau SARA) dengan mudahnya memprovokasi masyarakat, mungkin karena kita memang jarang baca buku. Begitu banyak masalah yang muncul kalau kita miskin imajinasi dan malas baca buku. Padahal solusi, kesepahaman serta alternatif itu ada dan memungkinkan. Yah intinya, another world is possible!

Soal Buku

Berbagai penelitian sosiolog, psikolog dan ahli-ahli lainnya (biarlah Ralin cari sendiri) membuktikan manfaat membaca buku di berbagai ranah; penalaran, imajinasi, logika, ingatan, perspektif (cara pandang) bahkan untuk kehangatan hubungan orang tua dan anak. Tumpah-ruah manfaat itu, sayangnya dan anehnya, minim dieksplor. Kasarnya memang malas membaca buku. Hmm.. Saya cuman bisa cerita tentang ini. Kalau soal kenapa akses ke buku masih sulit dan belum merata, biar Pak Presiden dan jajarannya yang jawab, itu PR mereka.

Begini, buku memang bukan satu-satunya perantara merawat imajinasi, terutama imajinasi perlawanan, masih banyak yang lain-lain. Akan tetapi bagi saya, buku itu medium paling sehat, selain sehat karena more likely tidak bikin perih mata kalau terlalu lama dibaca layaknya ebook, buku juga sehat dalam artian pengetahuan, tidak (banyak) terkontaminasi.

Buku menurut saya adalah perantara dengan ujud dan wujud yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Dengan mudahnya kita melacak kehidupan penulisnya, lingkungan tulisan tersebut ditulis, sasarannya apa dan siapa serta kepentingan apa yang coba disiratkan penulisnya. Buku-buku itu mudah untuk kita pilah-pilih demi kebutuhan kesadaran pembaca, termasuk Ralin. (Garisbawahi kata ulang; pilah-pilih).

Nah, ingatkan bahkan di dalam imajinasi dan para perantaranya, terdapat perebutan ruang antar gagasan. Disini jadi penting untuk memilah apa yang “dikonsumsi” oleh otak buat merawat imajinasi. Sahabat saya tidak bisa lagi banyak-banyak nonton tv, dimana bertebaran berbagai media yang dipegang oleh oligarki, entah parpol atau segelintir pemilik modal, atau irisan keduanya. Rentetan akun-akun sosial media (mayoritas) pun cuman ampuh menggelitik perut, membuat candu berjam-jam lalu menyuburkan benci ke suatu kelompok atau pada diri sendiri. Tidak sehat dan asik sama sekali. Malahan buat kita berbalik jadi lebih malas dan mengaburkan apa yang terjadi di sekitar kita.

Namun, bias-biasnya Ralin tidak boleh lahir dari satu jenis model buku, perbanyaklah bacaan, perbanyak referensinya, pertemukan mereka dengan pemikiran kritis. Bacalah berbagai buku atau perantara lainnya, tentang hal-hal yang tak pernah terdengarkan atau terpikirkan sebelumnya, entah dalam khasanah ilmiah kaku-kakuan ala jurnal ilmiah maupun cerpen/artikel ringan yang jenaka tapi manusiawi. Dan rasakan tiupan pikiran-nya. Rangkaikan sensasi-sensasi gaib tadi menjadi pelajaran-pelajaran hidup dan tentunya memperkaya imajinasi.

Kalau kita bisa membaca ratusan bahkan ribuan karakter di chat-chat akun sosmed berjam-berjam, tentu tak masalah membaca satu-dua buku dalam keseharian, kendatipun hanya satu-dua halaman pula. Percayalah, membaca buku adalah keseharian yang bikin sehat sejak dalam pikiran!