Retakan Tanah Mencapai 100 meter, Cisomang Waspada Longsor?
Muhamad Nurul Ismail (15417105)

Retakan tanah di wilayah permukiman Cisomang Hilir, Desa Tenjolaut, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat menyebabkan sedikitnya 15 rumah warga terancam ambles. Bencana retakan tanah ini diketahui setelah 5 rumah warga ambles pada Kamis (30/8/2018). Menurut Ketua Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Kasi Trantibum) Kecamatan Cikalongwetan, Pipin Irawan, retakan tanah mencapai 100 meter dengan diameter retakan mencapai 5–10 cm. Pihak dari Kasi Trantibum telah menyurvei lokasi kejadian bersama pihak BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat, dan Instansi terkait untuk mencari tahu lebih lanjut penyebab retakan tanah.
Berdasarkan informasi yang telah didapatkan dari hasil survei tersebut, penyebab retakan tanah di Desa Cisomang dipicu oleh hujan deras yang terjadi hampir setiap hari. Menurut informasi dari warga sekitar, retakan tanah di Cisomang sudah terjadi sejak satu tahun yang lalu, namun retakan tidak separah sekarang dan tidak menimbulkan dampak apa-apa sehingga warga tidak terlalu acuh. Kondisi ini membuat warga merasa khawatir mengingat hujan deras sering terjadi setelah kemarau panjang melanda daerah Cisomang tahun lalu.
Menurut Vulcanological Survey of Indonesia, ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena intensitas curah hujan Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga menimbulkan gerakan lateral (Citation). Hal inilah yang mungkin terjadi di daerah Cisomang. Sejak terjadinya kemarau panjang tahun lalu menyebabkan penguapan air yang besar sehingga pada saat masuknya musim hujan di awal waktu pori-pori hasil penguapan kembali merekah dan menyebabkan pergerakan.
Melihat keadaan ini, daerah Cisomang seharusnya diwaspadai agar tidak di tinggali. Pemerintah sudah sepatutnya mengkaji dan meneliti lagi apakah daerah tersebut masih cocok untuk dijadikan tempat tinggal atau tidak, karena kejadian ini tidak dapat diabaikan terutama bagi warga sekitar yang memiliki tempat tinggal di sekitar retakan. Warga masyarakat sudah seharusnya diimbau agar meninggalkan tempat tinggal mereka dan ditempatkan ke wilayah yang lebih aman.
sumber : Prilatama, M. N. (2018). Ada Retakan Sepanjang 100 Meter, 15 Rumah Terancam Ambles. Retrieved from http://jabar.tribunnews.com/2018/09/04/ada-retakan-sepanjang-100-meter-15-rumah-terancam-amblas
Anonim. (n.d.). Pengenalan Gerakan Tanah. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Retrieved from https://www.google.co.id/search?q=penyebab+terjadinya+tanah+bergerak&ei=HvWTW6T-KovTvgSBhp2YCA&start=10&sa=N&biw=1366&bih=613
