Fragile

Seperti biasa, sesampai di kamar, aku melepaskan topeng sok bahagia yang menyesakkan itu. Sehabis mengganti pakaian, mataku terpaku pada hasil potret beberapa tahun lalu yang tergantung di dinding. Bingkainya telah berdebu, tetapi momen itu masih melekat kuat di kepalaku.

Momen paling bahagia yang pernah aku jalani, sebelum semuanya hancur berantakan. Mereka yang tersenyum bangga, dan aku yang tersenyum bahagia. Hanya satu potret yang aku punya bersama mereka, itu pun ada orang lain yang ikut di potret tersebut.


Aku masih ingat dengan jelas, aku yang masih berseragam putih merah, duduk menunggu dia yang masuk ke toko — di jok depan. Lalu, sebuah pesan singkat masuk di hpnya yang ditaruh di sampingku. Aku membacanya berulang kali, masih syok dengan tulisan yang tertera di sana. Ketika dia kembali, aku langsung menyimpan hp itu di tempat semula, dan berlagak seperti tak ada yang terjadi sebelumnya.

Sesampai di rumah, aku langsung beritahu ibu perihal pesan yang kubaca. Setelah itu, terjadilah perang dunia pertama. Bentakan dan cacian tak henti terlontarkan dari mulut mereka. Pintu yang dibanting dari luar, pagar yang didorong dengan satu hentakan keras, dan deru mobil yang digas penuh, masih teringat dengan jelas seperti baru saja terjadi kemarin.

Lima tahun kujalani hidup dengan penuh keributan. Kursi yang melayang di hadapanku, gelas yang pecah, pintu yang terbanting, merupakan hal yang sangat lazim bagiku. Berganti ke seragam putih-abu, ibu memutuskan untuk menyudahinya. Aku begitu rapuh, sampai-sampai aku tak mengenali diriku sendiri.

Aku harus berlagak sok kuat di depan ibu, bahkan aku tak pernah sekali pun menitikkan air mata di depannya. Aku menjadi sosok yang munafik di depan ibu, mengatakan aku baik-baik saja, padahal aku sangat tidak baik-baik saja.

Sampai ibu menemukan kebahagiaannya yang lain. Dan aku melepaskan mereka yang aku sayang demi mencari kebahagiaannya masing-masing.

Kadang aku berpikir, apa aku ditakdirkan hanya untuk ditinggalkan? Apa aku memang ditakdirkan untuk sendiri?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Bee-la.’s story.