Se-Cone Es Krim

Aaaah pusing banget! Ini kok ga ada di gugel sih, batinku.

Aku mengambil earphone di dalam tas dan mencolokkannya ke laptop kesayanganku. Lalu memutar lagu Wherever You Will Go dari The Calling dan memperbesar volume sampai 100%.

So lately, been wondering, who will be there to take my place…

Kepalaku tiba-tiba pusing dan sakit, tapi hanya sebelah. Kanan. Aku menutup mata perlahan dan mulai menikmati lirik lagu itu. Rasa kantuk pun mulai menghampiriku.

If I could, then I would, I’ll go wherever you’ll go…

“SAAAA…”

“ELYSSAAAA…”

Eh? Kok kayak ada yang panggil namaku sih?

Kutegakkan kepalaku dari meja, lalu menoleh ke sumber suara. Aku hanya menaikkan kedua alisku sebagai pengganti pertanyaan “Ada apa?”. Mereka seperti menertawakan sesuatu di balik kamera itu. Aku melepaskan earphoneku sebagian agar aku mendengarkan pembicaraan mereka.

“Sini dulu, Cil!”, seru Alan.

Cil; panggilan Alan kepadaku yang artinya kecil.

“Apa sihhh?”, jawabku malas-malasan. Aku memandangi mereka dengan tatapan keheranan, menunggu mereka selesai tertawa dan menjelaskan apa yang mereka lihat.

“Mukamu di sini lucu banget, muka keenakan gitu.”

“Oh emang, itu disengaja kok,” balasku.

Aku memasang earphone yang tadi aku lepaskan dan melanjutkan apa yang kucari sebelumnya di gugel.

Daripada lama mencari yang gak ada, bikin sendiri aja deh.

Aku pun membuka aplikasi desain yang ada di laptop dan mulai menggerak-gerakkan mouse. Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatku, aku menoleh ke kanan dan melihat Arsen sedang berdiri dan memandangiku. Spontan aku menutup setengah layar laptopku karena merasa malu diliatin lagi kerja. Aku melepaskan sebelah earphone-ku lagi.

“Kamu ngapain?”, tanya Arsen.

“Ga ngapa-ngapain kok”, elakku.

Arsen lalu menunduk dan mengintip layar laptopku. Sontak aku menutup laptopku dan mencabut earphone yang terpasang. Moodku sudah hancur untuk melakukan pekerjaanku dan memutuskan untuk tidur sebentar di kamar asrama. Aku membereskan barang-barangku yang tergeletak di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Aku pun berdiri dengan tas di tangan kiri dan laptop di dekapanku. Aku melewati Arsen yang diam melihatku menjauh.

“Mau kemana, Sa?”, tanya Falih.

“Ke kamar”, jawabku singkat tanpa menoleh ke arahnya.

Ketika aku sampai di ujung koridor, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Aku berbalik dan kaget melihat Arsen datang ke arahku. Tapi aku memasang tampang tak peduli dan tetap jalan. Dia mengejarku setengah berlari untuk menyamakan posisiku dengannya.

“Kamu kenapa?”, tanyanya.

“Aku ga papa”, balasku.

“Aku minta maaf yah”

“Minta maaf buat?”

“Yang tadi”

Sebenarnya aku gak tahu dia minta maaf karena apa, tapi jahilku kumat.

Kerjain dia ah…

“Ya udah es krim dulu”, pintaku memohon.

“OKEE!”, dia berbalik dan kembali ke kelas.

Aku geleng-geleng kepala melihatnya pergi menjauh dariku dan tersenyum sendiri mengingat perilakunya tadi.

Andaikan pacarku seperti dia…

Aku pun membuka kunci kamar 215.

*Ceklek!*

Aku masuk tapi terdiam sejenak di depan pintu.

Eh, tunggu! Itu tadi es krim sebagai teman atau lebih sekedar teman? Ah gak boleh baper, Elyssa!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.