Instagram Highlight Bad UX — Sepele Namun Mengganggu

Mfc, Bandung - Baru-baru ini, Instagram meluncurkan fitur story (atau mungkin di antara teman-teman ada yang menyebutnya snapgram) di mana kita bisa mengunggah foto atau video yang akan hilang secara otomatis dalam 24 jam. Beberapa minggu setelahnya, para pengguna Instagram juga disuguhkan fitur baru bernama highlight, yang memungkinkan kita untuk menyimpan story tadi pada halaman profil kita, dan dapat diakses meskipun story tersebut sudah berumur lebih dari 24 jam.

Beberapa minggu yang lalu, ada suatu “kejanggalan” ketika saya membuka halaman profil dan mencoba scroll halaman tersebut ke atas. Apa yang terjadi? Halaman tersebut tidak bergeser sedikitpun, menampilkan persis seperti gambar di atas yang membuat saya bertanya-tanya; apakah aplikasi Instagram saya not responding atau sebagainya.

Bagian highlight pada profil Instagram

Masalah

Beberapa saat kemudian saya menyadari bahwa aplikasi tersebut masih berjalan, dan kesalahan ada pada bagian highlight. Apa yang terjadi? Ketika jempol tangan saya swipe-up untuk berpindah ke bagian bawah halaman profil, jempol tersebut ada pada bagian highlight yang mana hanya merespon swipe-left dan right saja. Suatu pengalaman pengguna yang kurang baik saya alami dalam kasus ini.

Teringat suatu hasil riset yang sempat saya kutip dalam penelitian tugas akhir saya tahun lalu, terdapat tiga gaya memegang smartphone yang paling sering dilakukan oleh penggunanya, di mana didominasi oleh gaya pemegang menggunakan tangan saja (sebesar 49% dari total sampel riset).

Area jangkauan ibu jari pada smartphone

Seperti yang terlihat pada gambar di atas, inilah landasan saya mengatakan bahwa permasalahan scroll tadi menjadi fatal. Terlihat suatu kebiasaan pengguna untuk melakukan navigasi halaman pada area hijau, area di mana bagian fitur highlight tadi berada. Bisa dibayangkan kan jikalau ada banyak pengguna yang merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan?

Pelajaran yang Diambil

Dalam kegiatan bisnis saat ini (terutama bagi yang menawarkan layanan berupa aplikasi), kepuasan atau pengalaman pengguna menjadi penting. Kasus ini dapat menjadi sebuah contoh hal yang mungkin saja bisa dianggap sepele bagi sebagian orang, namun menjadi hal fatal yang memengaruhi pengalaman pengguna atau user experience bagi pengguna lainnya.

Meskipun pembahasan ini memang bermula dari pengalaman pribadi saya, namun idealnya fenomena ini harus diteliti atau diuji lebih lanjut, apakah memang memberi pengalaman yang negatif bagi para penggunanya? Dan jika memang iya, maka hal tersebut haruslah diatasi dengan sesegera mungkin, dengan bertolok ukur kepada keinginan para pengguna aplikasi Instagram tersebut.

(Mfc)

Sumber : https://www.uxmatters.com/mt/archives/2013/02/how-do-users-really-hold-mobile-devices.php