Memulai Budaya Riset dalam Organisasi Mahasiswa

Mfc, Bandung - Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah tiga kewajiban yang melekat kepada setiap civitas academica perguruan tinggi seperti dosen dan mahasiswa, yang tertuang dalam bentuk pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, beberapa kali ditemukan kasus di mana mahasiswa tidak memahami apa yang tengah dikerjakannya pada saat mengambil skripsi atau tugas akhir, bahkan ada juga yang mempertanyakan mengapa setiap mahasiswa harus membuat skripsi sebagai syarat untuk mendapatkan gelar S di belakang namanya.

Namun pada tulisan kali ini, saya ingin membahas sedikit di luar konteks tersebut. Tidak seperti kebanyakan orang yang mengikuti organisasi mahasiswa untuk mengasah skill, mendapatkan pengalaman dan koneksi, atau lain sebagainya, saya yang gemar meneliti semenjak duduk di bangku SMA tengah mencoba mengimplementasikan budaya riset dalam organisasi mahasiswa. Hal ini sebenarnya sudah mulai saya lakukan semenjak saya masih kuliah di Manajemen Desain.

Yep, I’m currently a master’s student. What’s wrong with master’s student contributing in student’s organization?

Karena niatnya adalah untuk pembelajaran, riset yang saya lakukan mayoritas didasari atas rasa ingin tahu, dan berlanjut kepada observasi yang mengarah kepada penarikan kesimpulan. Memang, yang saya lakukan ini tidak mengikuti sistematika penelitian secara umumnya seperti pada saat kita melakukan penelitian (untuk skripsi atau sebagainya), tetapi dari hal tersebut saya mendapat beberapa hal yang dapat menguatkan landasan ketika fenomena tersebut ingin diteliti lebih dalam lagi. Oiya sebagai contoh, salah satu penelitian “iseng” yang saya lakukan adalah mengamati kebiasaan mahasiswa dalam menggunakan media sosial, yang akhirnya membuat saya lebih memahami bagaimana cara melakukan publikasi ketika saya menargetkan khalayak untuk mahasiswa fakultas A, B, C, dlsb.

Ketika memasuki bangku pasca-sarjana, saya yang masih aktif berorganisasi ingin terus meningkatkan hal tersebut, bahkan membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi. Dan ya, saya mencoba mengimplementasikan sistem perkuliahan yang saya dapat di kelas ke dalam lembaga legislatif mahasiswa, yakni dalam bentuk studi kasus. Adapun studi kasus yang telah saya buat pada tahun 2018 ini adalah sebagai berikut :

  1. Lika-Liku Organisasi Legislatif Keluarga Mahasiswa
  2. Pengenalan Organisasi Legislatif kepada Mahasiswa
  3. Implementasi Strategis pada Organisasi Legislatif Mahasiswa

Apa yang saya pikirkan sehingga akhirnya membuat kasus-kasus tersebut? Sebenarnya sederhana; saya merasa dalam membahas sebuah kasus (seperti yang saya lakukan dalam kelas Magister Manajemen Tel-U) akan membuat kita mendapatkan gambaran lebih untuk memahami dan memecahkan sebuah permasalahan, dibandingkan dengan sebatas membaca teori atau mendengarkan pengalaman orang lain. Ketiga kasus tersebut saya rancang untuk memahami hal-hal fundamental yang diperlukan seorang anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa dalam melakukan berbagai tugas pokok dan fungsi yang dipegangnya. Sayapun melakukan perancangan kasus berdasarkan beberapa permasalahan yang pernah terjadi, dan menyesuaikannya dengan urgensi dan situasi yang tengah terjadi saat ini.

Diapresiasi oleh salah satu dosen dalam grup Sains Terbuka Indonesia

Tidak hanya membuat kasus, saya juga melakukan beberapa kegiatan lain seperti meneliti website organisasi mahasiswa yang rencananya akan saya publikasikan dalam bentuk artikel jurnal, dan juga sebuah buku referensi yang menggambarkan bagaimana perjalanan seorang mahasiswa dalam mengikuti organisasi legislatif mahasiswa dari awal hingga akhir kepengurusan. Sempat terpikirkan, apakah hal yang saya lakukan ini dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berbuat sama maupun lebih baik dari apa yang telah saya lakukan ini? Kita lihat saja…

(Mfc)