PTN itu diraih bukan didapat

Hari itu SNMPTN diumumkan. Pagi itu berbeda dengan pagi lainnya. Jam bergerak normal namun seakan waktu itu berhenti atau ribuan kali lebih lambat dari biasanya. Berusaha untuk tetap tenang dengan mendengarkan lagu atau sekedar menonton youtube tapi ternyata tidak. Setelah sholat Dzuhur atau 2 jam menuju pengumuman, hati semakin tidak karuan. Bagaimana tidak SNMPTN adalah jalur yang sangat sulit diprediksi. Banyak yang bilang tak ada parameter yang jelas siapa yang dapat lulus melalui seleksi tersebut, ini adalah faktor keberuntungan. Jadi jika saya lulus, saya sangat-sangat beruntung artinya.

Di lapang sekolah jelang 15 detik menjelang countdown di layar habis, semua siswa menghitung mundur bersama-sama. Ada yang berteriak untuk menghilangkan beban di dadanya, bersiap menerima apa saja yang akan terjadi.

5 4 3 2 1.. semua diam, menunduk menatap layar gadgetnya. Memegang dan mengetik dengan tangan basah dan gemetar. Semua berebut koneksi, ada yang langsung berhasil. Namun saya harus rela menunggu dan terlempar-lempar di beberapa halaman mirror. Ketika saya masih menunggu koneksi teman saya terjatuh, melihat pesan merah di layarnya. Ada lagi yang teriak lalu menangis dan dipeluk bahagia oleh temannya, saya yakin dia beruntung tidak melihat pesan merah di layarnya.

Saya masih terus diarahkan ke halaman mirror, belum mendapat koneksi yang baik. Beberapa guru menghampiri kumpulan itu, bertanya penuh harap terhadap kami. Setelah menunggu beberapa menit, halaman login pun tampil sempurna. Saya mengetik dengan tangan bergetar, penuh harap. Ketika berhasil login, saya terdiam. Ketika guru saya menanyakan bagaimana, saya gelengkan kepala sambil tersenyum. Saya jatuhkan badan ke lantai lapangan, menyadari bahwa saya bukan orang yang beruntung.

Seketika pikiran menjadi kacau, marah kecewa sedih bercampur aduk. Hebatnya pikiran menjadi kotor. Ketika melihat orang yang lulus, terlintas di pikiran mengapa orang seperti dia lulus, padahal saya lebih baik darinya.

Saya putuskan pulang, membawa kabar ini kepada keluarga dirumah. Membawa motor menjadi bahaya saat itu, beberapa kali hampir menabrak pengemudi lain karena konsentrasi terganggu hebat. Saat sampai dan ditanya, saya menarik nafas dan katakan tidak untuk SNMPTN.

Moveon ke SBMPTN

Satu-dua hari memulihkan perasaan sangat sulit. 2 Minggu adalah waktu yang sangat sedikit bagi saya untuk siap SBMPTN. Setiap kali berlatih soal terkadang berfikir “soal ini saya kuasai, tapi apa nanti saya bisa?” dan terkadang berfikir “apa saya mundur saja, soal ini sangat sulit”, jujur itu mengganggu konsentrasi saya, mental sangat berperan disini. Semangat dari orang lain sangat berharga saat itu. Satu persatu teman mulai meninggalkan, mulai mementingkan dirinya sendiri. Beruntungnya masih ada seorang teman yang peduli dengan saya, dia juga berjuang di SBMPTN dan UTUL. Saling mendukung, merangkul, berdoa rasanya sangat berharga.

PBUSMAK

Salah satu seleksi rapot selain SNMPTN yang saya ikuti adalah PBU untuk program diploma UGM. Saya sangat berharap diterima disini, agar SBMPTN nantinya bukan satu-satunya harapan. Minimal saya tidak dituntut untuk benar-benar lulus SBM.

Pengumuman dibuka pukul 20.00. Saya harus keluar rumah untuk mendapatkan koneksi yang baik, cukup lama untuk bisa login ke akun UGM saya. Group line sudah mulai ramai, ada beberapa yang memberikan kabar baik, ada juga yang tidak. Ketika saya buka tab pengumuman, saya dinyatakan tidak lulus seleksi ini. Saya kembali turun, putus harapan dan sebagainya. Saya kabarkan ke teman dekat saya dan dia pun sama, untungnya kami kembali saling menyemangati. Dari situ saya putuskan untuk mengikuti seleksi UTUL.

Pertempuran SBMPTN

Tidak diterimanya saya di jalur PBU menambah beban saya di SBMPTN, sore itu saya naik kereta untuk sampai ke hotel. Ya saya putuskan menginap agar tidak terburu-buru saat pagi, atau terbawa tegang dari rumah. Sambil di kereta saya chat beberapa keluarga, guru, teman untuk meminta do’a.

Paginya saya checkout jam 6, tapi teman saya mendapati error di aplikasi grab nya sehingga saya mencoba membantunya terlebih dahulu. 30 menit waktu berlalu dan saya berdua masih di pinggir jalan, masalah mulai teratasi. Driver teman saya datang lebih dulu, dan dia langsung diantar ke lokasi tesnya. Selang beberapa menit driver saya pun datang, namun ditengah perjalanan saya baru menyadari bahwa saya berjalan di rute yang salah. Saya hampir dibawa ke SMP 3 Bogor, sedangkan tujuan saya adalah SMKN 3 Bogor. Dampaknya saya sampai ditempat tepat pukul 07.00. Disana tidak ada petunjuk atau arahan dari panitia, saya berinisiatif untuk langsung mencari langsung ruangan 20 sesuai perintah di kartu peserta saya. Karena terburu-buru, saya berlari di lorong yang salah, dan tidak menemukan ruangan saya. Saya coba tanyakan dan akhirnya saya sampai di ruangan ketika pengawas sedang mengabsen.

Soal pun saya buka, saya baca sekilas mencari-cari yang sekiranya mudah untuk dikerjakan. Tapi tak ditemukan, karena memang soal itu sulit bagi saya. Saya berusaha tetap tenang dan mencoba mengerjakan beberapa soal. Akhirnya dengan modal konsep yang ngawur, saya kerjakan beberapa soal. Saya tak tahu itu akan menghasilkan poin plus atau min. Yang jelas saya sudah coba berusaha semaksimal mungkin. TKD pun selesai, diwaktu istirahat saya sempatkan menghubungi teman saya, menanyakan bagaimana dan sebagainya. Tes selanjutnya TKPA, saya berusaha meraih poin setinggi-tingginya disini, namun nyatanya tak beda jauh. Saya berkali-kali kesulitan mengerjakan soal.


Ujian Mandiri UGM

Karena tak mendapat jatah untuk tes di Jakarta, saya terpaksa harus pergi ke Jogja untuk ikut UTUL UGM. Bermodalan sisa belajar SBMPTN, saya bertaruh nasib di seleksi ini.

Saya berangkat dari Sukabumi ke Jogja menggunakan bis, dan pulang menggunakan kereta. Awalnya saya hanya berdua, namun ternyata teman saya lainnya satu bis dengan saya, semangat saya pun bertambah.

Mengalah tempat duduk

Ada ibu-ibu dan nenek-nenek yang menduduki posisi kursi saya dan teman saya. “Ibu duduknya kok disini? sana dibelakang!” kata kondektur dengan nada tinggi “ya ini kan sudah dibelakang” jawab ibu tersebut, “iya tapi bukan dibelakang sini tapi dipojok sana!!” nadanya lebih tinggi. Melihat tempat yang ditunjukan oleh kondektur itu saya berfikir tak memungkinkan untuk usia mereka, apalagi perjalanan yang jauh. Ketika nenek itu mulai meraba-raba kursi untuk bisa berdiri dengan raut wajah ketakutan, membuat kami memutuskan untuk mengalah dan menempati posisi paling belakang bis itu.

Ruang yang sangat sempit. Posisi saya tepat dibelakang toilet bis itu, tak ada ruang kaki untuk terlentang lurus, yang ada hanya sandaran keras dan ruang duduk yang sempit, saya harus duduk dalam posisi merangkul kedua kaki saya, menundukan kepala di kedua kaki saya, tak sedetik pun bisa terlelap.

Sukabumi — Jogja ? tidak, beruntungnya sampai Tasik saya berganti posisi bersama teman saya, jadi sekitar 8 jam saya menahan diri, duduk dalam posisi yang sangat-sangat tidak nyaman. Untungnya beberapa penumpang turun, sehingga teman saya tidak selamanya berada di posisi itu.

Terlambat lagi

Tempat ujian saya

Hari kedua di Yogyakarta adalah hari tes dilaksanakan, setelah sehari sebelumnya saya beristirahat mempersiapkan apapun yang akan terjadi nantinya. Posisi penginapan saya ke gedung Fakultas Biologi sekitar 3–4 km. Pagi-pagi saya sudah standby dipinggir jalan. Saya mencoba memesan gojek namun gagal, beberapa kali sama saja. Saya tak mendapat driver, hampir 30 menit terbuang sia-sia, tapi tak dengan teman saya. Dia beruntung dan mendapat driver. Dengan penuh cemas saya meminta driver tersebut untuk bisa kembali menjemput saya. Namun dia tidak menjawab, langsung tancap gas meninggalkan saya. Saya coba hubungi teman saya lainnya, katanya dia sudah ditempat tes. Beberapa menit teman saya tadi juga menghubungi saya, katanya dia sudah sampai. Saya melihat kesamping ada beberapa orang sedang kesulitan juga, tampaknya dia akan mengikuti seleksi ini. Sedikit demi sedikit dari mereka mulai pergi dan mendapat tumpangan, sampai akhirnya saya sendiri yang tidak mendapatkan tumpangan. Tak ada angkutan lain selain transportasi online di tempat saya. Oke 43 menit terbuang sia-sia. Saya beralih ke Grabcar menunggu dan ternyata ada driver yang tersedia, tapi saya harus menuggu lagi karena posisinya lumayan jauh dan lalu lintas macet.

Jam 06.55 mobil tersebut sampai dilokasi saya, saya diantar dengan durasi perjalanan sekitar 30 menit. Jadi saya sampai dilokasi sekitar pukul 07.25. Bukan hanya telat, tapi ongkospun hampir 6x lipat lebih mahal.

Terbuang 30 Menit

Ketika sampai saya langsung berlari ke ruangan tes, untungnya saya sudah mengetahui posisi ruangannya berkat survei sehari sebelumnya. Ketika sampai diruangan, saya langsung menyimpan tas di ratusan tumpukan tas lainnya. Saya melihat ada sekitar 200 peserta di ruangan itu. Ketika saya duduk, bertepatan dengan waktu pengisian biodata selesai. Saya harus rela mengisi biodata disaat yang lain sudah mulai mencorat-coret soal TKDnya. Menurut saya soalnya tidak sesulit SBMPTN. Tapi ya tetap saja, bagi saya itu sulit, dan mengingat bahwa peserta UTUL miningkat 60% dari tahun sebelumnya.

Tak mendapat Gojek lagi

Para peserta UTUL lain menunggu Gojek

Sekitar pukul satu lebih saya baru selesai, saya mencoba menelepon teman saya untuk berkumpul makan dulu. Itu keinginan besar saya, dekat dengan mereka untuk menghilangkan beban. Mereka memberitahu untuk sholat terlebih dulu di posisi masing-masing. Saya mencari mushalla di beberapa gedung tapi saya tak menemukannya, yang mungkin sebenarnya ada.

Saya membuka maps, mencari musholla. Saya putuskan untuk berjalan karena gojek masih over, wajar sih ribuan orang di depan saya semua berebut mencari driver. Berjalan beberapa meter masih saya nikmati karena jalannya masih sejuk. Namun ketika bertemu jalan yang lebih besar, saya mula putus asa. Berjalan disamping ratusan mobil yang menyemprotkan panas mesinnya ditambah pantulan matahari dari badannya, sambil membawa tas yang cukup berat. Beberapa tempat makan saya hiraukan, karena keinginan terbesar saya saat itu adalah makan bersama teman lainnya. Saya melihat GPS, dan ternyata masih jauh. Saya putuskan diam terlebih dahulu di sisi trotoar yang panas lalu kembali berjalan. Sekitar 1 jam berjalan ditambah berhenti beberapa kali akhirnya sampai di musholla, saya ambil wudhu lalu sholat dzuhur dan ashar.

Setelah hampir satu jam beristirahat, saya kembali berjalan mencari Gojek untuk pergi mengabulkan keinginan terbesar saya saat itu, makan bersama teman saya lainnya. Beberapa kali sama saja seperti pagi tadi, tak ada satupun driver yang mengambil orderan saya. Saya putuskan berjalan sekitar 2-3 km dari posisi saya, ketika setengah jalan ada driver yang menawarkan tumpangan. Anehnya saya katakan tidak, padahal saya memegang HP saya yang sedang mencari driver. Bodoh? tidak mungkin karena sudah terlalu lemas. Akhirnya saya berdiam di sisi jalan untuk kesekian kalinya. Gojek kedua menghampiri saya, kali ini saya tidak bodoh lagi. Saya meminta tumpangan tanpa memesan melalui aplikasi, senang sekali. Akhirnya saya sampai di lokasi makan dengan ongkos yang lebih mahal dari yang ditunjukan di aplikasi, saya lelah saya bayar saja. Sayangnya di tempat itu hanya beberapa teman yang masih ada, sisanya sudah pulang ke tempat penginapannya. Keinginan saya tadi tidak terkabul sepenuhnya, wajar saja saya baru ditempat itu sekitar pukul setengah lima sore. Minuman dan makanan mulai mengisi tenaga saya, setelah sebelumnya tidak sarapan dan otak sudah terkuras saat tes ditambah harus berjalan berkilo-kilo dengan beban tas beberapa kilo juga.


Belum mendapat pegangan

Sampai hari perpisahan saya masih menunggu hasil jerih payah saya di SBMPTN dan UTUL. Saya belum mendapat landasan untuk mendarat disaat sebagian besar teman saya sudah tenang bahkan mungkin sudah ada yang menyewa kosan. Rundown yang paling saya benci adalah pengumuman siswa yang telah lulus PTN/PTS, rasanya saya ingin menangis pergi meninggalkan acara itu, saya tidak menikmati sama sekali acara itu. Banyak yang mengajak saya foto tapi saya menolaknya, meski sadar akan sulit berfoto bersama mereka lagi. Terdengar egois memang tapi nyatanya seperti itu.

Total 3 seleksi yang sudah menolak saya yaitu SNMPTN, PBUSMAK UGM dan USMI IPB. Mendapatkan keinginan saya untuk lulus di jurusan Ilmu Komputer tidaklah mudah. Prodi ini sedang naik daun, sedang favorit. Saya harus mati-matian bersaing dengan orang-orang yang jauh lebih pintar dari saya.

Untuk Keluargaku

Terimakasih selalu menyemangatiku, mendo’akanku dan menaruh harapan kepadaku , tanpamu mungkin tak ada orang yang aku perjuangkan.

Untuk Sahabatku

Terimakasih sudah menemani ku, meladeni keluh kesahku. Tanpamu mungkin aku sudah menyerah, tanpamu mungkin aku harus berjuang sendiri. Selamat! Karena kamu sudah menemukan sinyal dari landasanmu, itu membuat bebanku berkurang, melukiskan raut bahagia diwajahku.

Bagi yang masih berjuang

Tak ada yang instan di dunia ini, semua butuh proses, butuh pengorbanan, dan butuh keikhlasan. Dari judul tulisan ini sudah saya katakan, bahwa PTN itu diraih bukan didapat. Artinya butuh perjuangan lebih untuk meraihnya. Tuhan selalu melihat usaha kita, memberikan skenario terbaiknya. Memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Untuk siapapun

Terimakasih telah memberi semangat atau menyelipkan do’a untukku, sekecil apapun kepedulian kalian akan sangat saya hargai.


Tulisan ini nyatanya masih belum lengkap, yaitu bagian ketika saya mendarat dimana. Mungkin beberapa hari lagi kuceritakan, atau beberapa minggu lagi, atau bahkan beberapa bulan lagi….

Do’akan saja.