Yang memisahkan adalah ketaatan

Akan datang hari dimana manusia kembali sedikit mengenal saudara dan temannya setelah sebelumnya dibangkitkan dan tak mengenal siapapun orang di sekeliling tempat dia berdiri karena ketakutnya terhadap dirinya.

Saat itu manusia saling memberi pertolongan terhadap siapa-siapa yang dulunya mengajak, terlibat, atau bersama-sama berbuat kebaikan. Dengan tujuan saling memberatkan timbangan amal baiknya.

Saat itu juga, manusia saling menghakimi dan menuduh terhadap siapa-siapa yang dulunya pernah mengajak, terlibat, atau bersama-sama di lembah maksiat. Meringankan timbangan amal buruknya dengan memberatkan timbangan amal buruk orang lain.

Di Surga nanti, barulah mereka benar-benar mengingat terhadap semua keluarga, saudara, atau teman semasa di dunia. Karena urusannya telah usai, dan mereka pun mulai mencari.

Mungkin ada yang berhasil dia temukan, namun ada juga yang tidak.

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman”
“ yang berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)?”
“Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”
“Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?”
“Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala.”
“Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku,”
“jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).”
(Quran 37 : 51–57)

Kepada kawanku aku ingin kau tahu.

Hampir setiap hari selama bertahun-tahun, aku habiskan 9 jam dari waktu 24 jam ku bersama kalian.

Selama itu, ditambah waktu kita di media sosial banyak sekali gurau yang tak bermanfaat dariku.

Banyak sekali cipratan dosa yang mengenai lembaran amalmu dari maksiatku.

Banyak sekali amalan buruk yang tercatat dibukumu dari ajakanku.


Kepada kawanku aku ingin kau mau.

Mau memaafkan kesalahanku.

Mau mengamalkan sedikit dari nasihatku.

Mau mengingatkanku ketika aku hilaf.

Mau melupakan ajakan burukku.

Mau memohon ampunan dari-Nya, dan menjauhi sejauh-jauhnya maksiat yang pernah aku ajarkan kepadamu.

Sehingga sebelumya kita tak perlu saling menuduh, atau saling menunjuk hidung ketika tuhan menghakimi kita.

Sehingga keinginan besar ini terwujud, yakni kita dapat berkumpul lagi di Surga-Nya. Aamiin

Sehingga tidak ada yang harus aku tengok di neraka atau engkau menengokku di neraka, naudzubillah min dzalik

“Jaga diri kawan, sesungguhnya bukan jarak yang memisahkan kita (saat ini), tapi yang akan memisahkan kita adalah ketaatan kita terhadap-Nya (nanti)”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.