MA’NAWIYAH KELAHIRAN YANG BERULANG TAHUN

Kelahiran tak ubahnya embrio dari sebuah kehidupan yang dijalani agar menemui hidup yang sesungguhnya dengan kematian sebagai syarat syahnya. Kelahiran berproses menuju dihidupkan, dan kemudian dimatikan. Tiga proses yang implisit jika disebut sebagai batas eksistensi ragawi. Tetapi benar, itulah adanya. Sebab ruh, hanyalah ditiupkan. Kemudian hidup selamanya. Ruh adalah penyandang hakikat dari sifat hayat; hidup selama-lamanya. 
 
Tetapi ruh harus terbungkus jasad agar ia bisa berperan sebagai “khalifatul fiddunya hasanah”. Sudah seberapa besarkah ruh berperan sebagai eksekutor Tuhan di muka bumi, atau seberapa gagal ia menjalankan amanah yang diberikan, yakni; “fissabilillah fi rahmatan lil ‘alamin”. Ruh nantinya akan kembali pada-Nya dalam rupa yang sesuai dengan apa yang dilakukannya di dunia.

Oleh sebab itulah adanya aturan, imbalan, dan pertanggungjawaban. Namun, meskipun demikian, ada kalangan ma’rifat yang tidak lagi berada pada orientasi tersebut, mereka memfasilitasi jasadnya untuk; agar ruh jatuh cinta kepada yang meniupkannya (tanpa melupakan orientasi aturan, imbalan, dan pertanggungjawaban).

Pasca kelahiran, usia adalah batas-batas pengingat bagi si jasad bahwa; ia hanyalah sesuatu yang bersifat fana, dan seberapa lamakah ia bekerjasama dengan ruh dalam memerankan eksistensi manusia itu sendiri di dunia.

Setiap pergantian usia inilah yang kerap menjadi ritus rutinitas manusia abad kini. Perayaan ini disebut perayaan ulang tahun atau perayaan hari kelahiran.

Bagi umat muslim maupun nasrani pada abad ini, perayaan ulang tahun sering menjadi kontradiksi dari berbagai penafsiran yang ada.

Dibunyikan dalam Al-Kitab (Injil Matius), ayat tersebut berkisah tentang seorang Raja Agung bernama Herodes. Raja yang berupaya membunuh Yesus kecil dengan membantai seluruh bayi di Betlehem. Lebih rinci lagi, pada ayat ke-6 dijelaskan bahwa Herodes merayakan ulang tahunnya.

Belum lagi di dalam Al-quran dan Hadits, tentu banyak ayat yang ---meski tidak eksplisit--- terkadang melahirkan penafsiran tentang larangan merayakan hari ulang tahun. Dalam sebuah hadits misalnya, “Man tasabbaha biqawmin fahuwa minhum” (Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan itu).

Akan tetapi bagaimana dengan perayaan Natal (yang diyakini jemaat kristen sebagai hari kelahiran Yesus), kemudian perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W (bentuk mengenang dilahirkannya Ahmad sebagai manusia pilihan akhir zaman)?

Meski dalam perayaan tersebut tidak pula disetujui oleh sebagian kalangan, karena sebagian dari mereka mengkategorikannya ke dalam bid’ah. Pernyataan yang sebenarnya menurut saya lebih mengacu kepada bentuk penilaian subjektif.

Agaknya kita mesti berkaca pada kalimat Pramoedya Ananta Thoer pada karyanya yang berjudul “Bumi Manusia”. Bahwasanya “Kita harus adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.” Mungkin maksud kalimat tersebut adalah kita harus cerdas selaku menanggapi segala sesuatu yang berkemungkinan hadir menjadi polemik di dalam kehidupan abad ini.

Perayaan Maulid, misalnya, tentu saja ini adalah perayaan yang jauh dari kemudaratan. Perayaan yang memiliki volume dengan berkumpulnya kaum muslimin di mesjid dan dibarengi dengan aktifitas atau perlombaan yang bersifat Ushuluddin.

Pun, sedikit mengingat, diseret lagi jauh ke belakang ketika Sultan Shalahuddin Al-Ayubbi membangkitkan pasukan perangnya dengan mediasi doktrin Maulid Nabi (mengobarkan semangat rakyatnya demi menaklukkan pasukan salib eropa dengan mengingat lagi perjuangan serta peperangan yang telah dilalui Nabi Muhammad). Doktrin yang ditelurkan oleh Shalahuddin pada waktu itu, mampu menyihir semangat juang pasukan Muslim saat itu untuk menaklukkan pasukan salib Eropa.

Hingga pada akhirnya, perayaan itu berangsur menjamur hingga hari ini dan ditetapkan tanggalnya dari hari kelahiran Nabi.


Tidaklah menjadi sebuah masalah ataupun kesalahan jika kita mentradisikan perayaan hari ulang tahun tersebut. Bukankah sejatinya, seperti baris lirik pada sebuah lagu Ahmad Dhani “sesungguhnya perjuangan sudah dimulai sebelum kita dilahirkan”. Kita berada di antara jutaan sperma lainnya yang melesat ke dalam rahim demi mencari jalan untuk menemui sel telur. Sperma pertama yang bertemu dengan sel telur akan melakukan usaha menembus cangkang sel agar terjadi pembuahan. Begitu seingat saya (kalau tidak khilaf) yang pernah saya baca pada sebuah artikel biologis di internet. Sekiranya, kita adalah sperma pertama yang berhasil merobohkan cangkang sel telur si pemilik senyum tercantik itu (ibu).

Perjuangan itu telah dimulai, pun setelah dilahirkan, perjuangan tetap dilanjutkan hingga jasadmu selesai dengan kefanaannya setelah menyajikan ruang bagi ruh untuk menjalankan misi “khalifatul fiddunya”.

Maka, momentum pergantian usia barangkali seperti sebuah jeda, pembatas, atau hibernasi sejenak demi terciptanya ruang kontemplatif (perenungan) untuk mengingat kembali jalan kehidupan yang (telah dan akan) kamu lalui . Ruang untuk membakar semangat demi melanjutkan hidup yang lebih baik (hablumminannas hablumminallah).

Perayaan yang biasanya diawali dengan penyajian kue dan peniupan lilin sebagai ritus zhahirnya kemudian dilanjutkan dengan ucapan suka cita dan doa-doa baik dari orang-orang terdekat. Di saat yang bersamaan, kamu juga melafaz harap di dalam hati demi menjadi pribadi yang lebih baik. Dan alangkah lebih baiknya jika kamu menunaikan “arafa nafsahu” atau jalan mengenali asal mula, pengabdian, dan tujuan diri.

Karena, seiring dengannya, pada ruang yang entah di mana, Malaikat Izrail sedang menyaksikan sehelai daun jatuh dari pohon yang bertuliskan nama qadimmu sejak lauhul mahfudz. Berkurangnya jumlah daun di pohon itu, berkurang pula masa eksistensi kamu di dunia.

Maka tidak ada yang salah dengan perayaan tersebut. Bukankah semua sunnatullah (hukum alam) baik-buruknya tergantung bagaimana kamu menjalaninya. Kecuali jika kamu merayakannya dengan kesenangan, kemubaziran, atau kejemawaan yang berlebihan. Bukankah pula setiap harinya kita memang tidak dibenarkan adanya begitu; “laa tusrifuu” janganlah berlebih-lebihan.

Saya menulis keberpihakan pada tradisi perayaan ulang tahun ini bukan pula karena saya merayakannya dengan cara seperti itu. Bahkan akhir-akhir ini, ataupun beberapa tahun belakangan ini, saya tidak pernah lagi merayakan ulang tahun dengan kue beserta lilinnya, atau pemberian kado dari orang-orang terdekat, bahkan jika bisa dihitung, saya hanya sekali merasakan perayaan ulang tahun dengan cara seperti itu yang juga diikuti dengan pemberian bingkisan-bingkisan yang menyenangkan.

Tetapi tidak serta merta pula saya menyalahkan cara seperti itu. Yang ada, saya antusias terhadapnya. Ada ukhuwah yang terjalin di dalam perayaan tersebut baik transenden maupun imanen. Misal, sahabat yang sudah sejak lama tidak kamu ketahui keberadaannya serta kabarnya, tiba-tiba saja menghubungi kamu di hari kelahiranmu. Atau mengirim sebuah kartu pos, bingkisan, dan hal-hal lainnya sebagai perwujudan turut berdoa atas kebaikan yang kamu renungi di hari ulang tahunmu.

Saya menulis ini karena jauh ke belakang, memang berniat ingin menulis sebuah ma’nawiyah milad tepat di hari ulang tahun saya. Sebagai kado pribadi saya tentunya, dan juga untuk teman-teman yang memang ingin menyempatkan diri membaca tulisan ini.

Sebenarnya, hari kelahiran saya telah berlalu (24 April yang lalu), tetapi saya baru sempat menulis perkara ulang tahun ini mulai dari shubuh tadi dan melanjutkannya di tempat kerja pagi ini oleh karena akhir-akhir ini “I’m busy like hell”.

Maka, saya meminta maaf kepada diri sendiri dan juga kepada ranah tulisan ini oleh karena ketidaktepatan waktu pemostingannya.

Akantetapi, banyak dari kerabat yang menyampirkan doa di hari ulang tahun ini dengan harapan saya menemukan jodoh dan segera menikah. Teman, bukankah berulangkali saya menjawabnya:

“Jangan doakan saya agar lekas menikah. Doakan saja, agar saya tegar melewati hari pernikahannya nanti”

Tetapi, baik yang berulang tahun ataupun tidak, tetaplah berlaku baik seterusnya. “liutammima makarimal akhlak”. Menyempurnakan akhlak dalam proses eksistensi dunia tak pernah ada akhirnya, tak pernah ada khatamnya, selagi masih dijumpainya kamu dengan hari kelahiranmu dari tahun ke tahunnya.

Ulang tahun hanyalah sekat, batas-batas, jeda, ruang hibernasi dan kontemplatif pada jalan menuju pengenalan diri. Sebab, tiap kamu jumpai hari kelahiranmu di tahun-tahun yang akan dilewati, tiap itu pula jasad mendekati umur kefanaannya, tiap itu pula ruh mendekati rumah kebaqaannya.

Kematian adalah ketetapan yang semakin hari terus berjalan semakin dekat menuju implementasinya.

“Lilin dihembus di atas tubuh senampan jamuan itu. Gugur pula kecil rimba bertulis nama hamba, di atas tubuh lauhul mahfudz"
Minas, 27 April 2016. (Ditulis demi merayakan bingkisan untuk diri sendiri)
Like what you read? Give Irsyad Al-djaelani a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.