Sebuah catatan perjalanan singkat yang tak terencanakan.


Terkadang sangking padetnya jadwal, numpuknya kerjaan, ditambah berserakannya isi pikiran dan riweuhnya informasi-informasi yang berlalu-lalang, kita lupa memperhatikan beberapa hal. Memanusiakan manusia. Membumikan bumi.

Hari sepulang belajar dari kota Malang, saya menculikkan diri. Seorang sahabat menawarkan ajakan untuk meninjau sebuah tempat. Desa peduli lingkungan, katanya. Hmm, menarik…


Dukuh Nanggulan RW 07 Desa Gentan, Kec. Bendosari, Kab. Sukoharjo

Pukul 11.30 kami sampai di tempat. Disambut seorang warga desa, panggil saja Mas Wahyu. Mas Wahyu ini yang akan jadi tour guide sekaligus lawan diskusi kami. Beliau warga asli desa tersebut. Lulusan SMK, sempat bekerja beberapa tahun di Karawang. Sekarang full-time ngurusin Mas Pel.

Mas Pel?

Ya. Perkenalkan, social project Mas Wahyu dan rekan-rekannya: Masyarakat Pelestari Lingkungan “Sapu Jagad”. Atau lekat dengan sebutan Mas Pel.

Mas Pel adalah buah konkrit pemikiran idealis oleh sekelompok pemuda desa Gentan. Menurut cerita Mas Wahyu, gerakan ini terinisiasi oleh ide mas Taufik, seorang pemuda asli desa Gentan yang merantau ke Surabaya demi meraih mimpinya. Berawal dari keresahan isu global warming dan pencemaran lingungan, serta terinspirasi oleh gerakan zero waste, Mas Pel pun mulai diseriusi..

“Kami ingin lingkungan yang dulu asri dapat dipulihkan kembali dan dijaga kelestariiannya sehingga anak cucu kita nanti dapat menikmatinya juga, sapu adalah alat pembersih dan jagad adalah bumi sapu jagad pembersihan bumi.”

Kegiatan Mas Pel secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok, yakni manajemen sampah rumah tangga, pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan hidup.

  1. Manajemen sampah rumah tangga

Programnya adalah Bank Sampah, yakni suatu sistem pengelolaan sampah kering secara kolektif mendorong masyarakat untuk berperan serta aktif di dalamnya. Sistem ini akan menampung memilah, dan menyalurkan sampah bernilai ekonomi pada pasar sehingga masyarakat mendapat keuntungan ekonomi dari menabung sampah.

Terdapat 80 warga yang sudah aktif di program ini. Setiap 2 minggu sekali anggota Mas Pel rutin menjemput sampah-sampah di rumah warga. Tentunya sampah-sampah ini sudah dipilah oleh warga sendiri: organik dan nonorganik. Sampah organik selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos oleh Mas Pel, sedangkan sampah anorganik dijual ke pengepul sampah. Kabarnya Mas Pel akan memiliki alat pencacah dan pengolah sampah anorganik lain sendiri, alatnya masih dalam proses pengerjaan. Jadi makin bisa berfaedah outputnya, menghindari pengepul-pengepul yang kurang bijaksana mengolah “sumber penghasilannya”.

Sebelum adanya program Bank Sampah ini, terdapat 14 titik pembuangan sampah dalam satu RW. Lokasinya di pinggir-pinggir jalan. Namun kini sudah menyusut (atau menghilang ya?). Satu-satunya titik pembuangan sampah ya di TPS yang dibuat Mas Pel.

Tapi waktu kami jalan-jalan ke sana ada warga yang “iseng” bakar-bakar sampah… Eeyy… Atuhlah, pak, bu…

2. Pelestarian lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan hidup.

Selisih hasil penjualan sampah kolektif dari Bank Sampah dengan nominal yang kembali ke warga oleh Mas Pel dialokasikan untuk dana penghijauan. Mas Pel membelikan benih-benih tanaman seperti tomat, cabai, murbei, dsb (maap lupa, hehe). Benih-benih ini nanti akan diberikan pada warga. Beberapa ada yang dirawat Mas Pel sendiri dan dijadikan kebun.

Ide bagus, bungkus minyak goreng bekas untuk pot sementara tanaman.
Kebun Mas Pel.

Oiya, jenis sampah tertentu seperti sisa konveksi (red: kain perca) juga diolah menjadi barang sederhana layak pakai. Salah satunya adalah keset.


Aseliii, ini bikin saya trenyuh alias terharu. Dan juga malu BANGET, jon… Isin! Sementara orang-orang (termasuk saya) mati-matian mengejar target materi, selalu berpikir gimana caranya me-monetize sesuatu, pokoknya kudu ngasilin duit, setidaknya balik modal lah; di lain tempat ada sekumpulan orang-orang yang dengan tulusnya mempedulikan sekitar dan sama sekali tidak memprioritaskan kepentingan pribadi. Sementara orang-orang (termasuk saya) mengeluh tiap hari cuaca kok makin panas, di lain tempat ada sekumpulan orang-orang yang gigih mencanangkan kegiatan-kegiatan penghijauan. Sementara orang-orang (termasuk saya) mengelu-elukan segala macam merek demi memanjat tangga sosial, di lain tempat ada sekumpulan orang-orang yang memikirkan bagaimana caranya bungkus-bungkus sisa kenikmatan di muka bumi tidak melukai bumi itu sendiri,

menjaga keberlangsungan hidup bumi demi kehidupan di bumi, jauh-jauh memikirkan nasib anak, cucu, cicit nanti…


Menyenangkan. Super. LARBYASA. Love. Terimakasih buat mas Yogi dan mas Yosi buat #jalanjalanseru-nya, juga mas Wahyu yang menemani #nongkrongberfaedah kami.


Terlepas dari ke-excited-an saya, saya berfikir dalam-dalam, sebenarnya tanpa melihat peduli seberapa tinggi jenjang sekolah, seberapa hebat kampus, sekeren apa program yang diikuti, seberapa besar beasiswa yang didapat; coba lihat deh diri kita sendiri, udah berbuat apa? Buat keluarga? Teman-teman? Masyarakat sekitar? Lingkungan? Orang-orang yang kurang beruntung lainnya?

Ah.. Semoga saya ketularan bisa dekat dengan hal-hal baik seperti Mas Pel dan yang sudah mereka selenggarakan buat sekitarnya… *amiin yang kenceng*


Eh, kalo kamu, hari ini belajar apa? :”)