Minority Speaks
Pertama-tama, saya gak ngerti sih postingan saya etis atau tidak. (Warning, kontennya berbau SARA, tapi tanpa kekerasan kok, sedikit nyinyir di bagian akhir sih)
Blog saya kali ini mungkin hanya akan 'ngena' di pikiran orang-orang yang melakukan, yang pasti tidak semua seperti yang saya tulis di blog ini.
Saya hanya terpicu untuk menyampaikan pemikiran sebagai seorang minoritas, udah Cina Kristen pula. Sebagai keturunan minoritas di Indonesia yang katanya "babi" dan "kafir", gak pernah memberontak kala Setiawan Harjono koruptor dana BLBI harus dipenjarakan. Saya tau tipikor (Tindak Pidana Korupsi), siapapun pelakunya, layak dihukum karena merugikan masyarakat. Anggoro Widjojo yang menjadi tersangka korupsi, bahkan kabur dari Indonesia dan masuk Daftar Pencarian Orang. Siapa lagi? Aguan? Dirut Agung Podomoro? Silahkanlah usut tuntas kasus-kasusnya.
Sisi lain, kami mengagumi Kang Ridwan Kamil yang asli tanah Sunda dan asli pribumi Indonesia atas usaha beliau membangun Bandung menjadi Smart City. Kami gak pernah menghujat Ibu Risma meskipun beliau berpakaian hijab lengkap dan menerapkan prinsip Islami dalam pemerintahannya di Surabaya. Kami tidak pernah mengatakan Bu Risma teroris karena seorang Muslim. (Itu hal bodoh bukan?)
Banyak tokoh Muslimin dan Muslimah yang bisa saya sebutkan memiliki prestasai besar, tulus memajukan Indonesia. Khofifah Indar Parawansa, Sri Mulyani, dan menteri-menteri dengan kerja hebat di Indonesia.
Dalam agama kami yang kalian sebut sebagai "kafir", kami diajarkan untuk mengasihi semua suku bangsa. Sampai ada lagu "Tuhan cinta segala bangsa, kuning putih dan hitam".
Kalau bicara politik tidak dapat disandingkan dengan agama, saya ada contoh ajaran dari Kitab Suci saya mengenai pemerintahan dan ketaatan. Tuhan kami yang disebut sebagai Tuhannya org kafir pun mengasihi kaum Muslim, kaum Buddha, Hindu, Konghucu, apapun. Bahkan, mengenai pemerintahan, nabi Isa - panggilan orang awam - mengajarkan untuk menghormati pemimpin, karena pemimpin adalah wakil Allah. Sampai membayar pajak pun tertulis disana (Kitab Roma 13 : 1-8).
Hayo, rajin bayar pajak, atau makan uang pajak dari rakyat?
Saya kurang tau, agama mana sih yang mengajarkan untuk melakukan kerusakan dan perpecahan? Apa ada yang bisa kasih tahu saya?
Jadi, kalau cuma masalah pejabat pemerintah, kami tidak memilih ras dan mencari kesalahan pemimpin dengan agama yang berbeda dr kami. Kami melihat kinerja. Kami melihat kualitas. Kami melihat kesetiaan. Bila memang ada kekurangan, bukan salah ras ataupun agama, kecuali memang dari mulutnya sendiri mengatasnamakan agama untuk melakukan kejahatan.
Apa sih yang kalian pikir mengenai kafir, babi, sipit, pelit, CINA?
FYI: penggunaan kata Tionghoa utk menggantikan kata Cina yang skrg bermakna negatif sudah diatur dalam Keputusan Presiden 12- 2014
Pdf Keppres : https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.iki.or.id/sites/default/files/docs/pengumuman/Kepres%252012-2014.pdf&ved=0ahUKEwjMv-af3ZDMAhWBjpQKHdTHA84QFggZMAA&usg=AFQjCNEvFAPbTu-MAExmTN75Fd4baDwoJA&sig2=oacVKHJ3SvnM8hQ3z1uXug
Tidak tahu masih diberlakukan atau tidak sekarang, tapi yang jelas ini membuktikan sudah ada usaha penghargaan bagi keturunan minoritas yang diberikan pemerintah. Dan kaum minnoritas seperti kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi hal tersebut.
Saya yakin betul, memang tidak semua orang keturunan Tionghoa berpikir seperti saya. Tidak semua orang pribumi muslim juga berpikir buruk tentang kerabat keturunan Tionghoa (banyak teman akrab Muslim dan semuanya menyenangkan). Ini hanya postingan yang ditujukan kepada orang-orang yang menjadi bodoh karena ajaran ras dan agama yang dipelintir untuk memecah belah. Sekali-kali, mungkin perlu piknik ke negeri orang kafir untuk paham bagaimana rasanya jadi minoritas.
Penutup: By the way, sekarang lagi pakai baju made in apa? Handphone? PC? Bule (bukan istrinya Pak Le), kamu juga sebut kafir atau tidak? Pecinta K-Pop atau koko-koko macam Tao Ming Tse dan Lee Min Ho bukan? Kafir loh..
Suwun.
-Monica Intan-
