Perancang Mimpi

Mimpi-mimpiku tentangmu adalah mimpi-mimpi yang beracun. Saking beracunnya membuatku enggan kembali menghidupi realitas sehingga aku bisa tidur selamanya.

Kamu tahu, aku punya kemampuan untuk mengendalikan mimpi. Lucid dreaming, kalau kata kebanyakan orang. Tapi, aku rasa aku lebih suka dengan istilah merancang mimpi.

Kamu pasti tahu, merancang mimpi tak ubahnya menulis cerita pendek bagiku. Salah satu cabang kegiatan tulis-menulis yang sama-sama kita sukai. Seperti penulis yang konon katanya tetap hidup melalui rangkaian kata-katanya sendiri, meski jiwa dan raga tak lagi terkoneksi. Cerita-cerita pendek ini bisa saja kubuat bersambung dengan sengaja, atau justru kurelakan benang merahnya digariskan sendiri oleh semesta. Bukankah benang merah tak ubahnya firasat atau pertanda yang suka kamu ingkari itu? Terkadang aku heran, bagaimana bisa kamu menolak firasat dari alam raya karya Bapa ini? Nyatanya, realitas memang tak melulu seindah akhir cerita disney, sayangku. Seperti cerita-cerita pendekmu yang tak jarang berakhir dengan absurd atau menggantung itu.

Seperti menulis cerita fiksi, aku punya kemerdekaan dalam menentukan tokoh-tokoh dalam rancangan mimpiku. Kadang kala kusertakan pula teman-teman yang kukenal di dunia nyata, meski aku tak tahu apakah mimpi rancanganku ini turut mempengaruhi mimpi-mimpi mereka. Pun aku rasa, waktu tidur mereka denganku tak selalu sama. Bukankah tidak mungkin apabila mereka seketika terlelap manakala sosok-sosok mereka kucomot sembarangan dan kusisipkan dalam mimpi rancanganku? Terlepas dari berapa banyak temanku yang tersisip dalam adegan-adegan rancanganku, selalu ada kamu di sana.

Mimpi-mimpiku tentangmu tak melulu romantis, bahkan kadang sedikit erotis. Bukankah antara romantis dan erotis sekadar terhalang sekat tipis? Tapi, jangan khawatir. Mimpi-mimpi rancanganku tetap realistis. Saking realistisnya, aku nyaris terjebak di dalamya dan menolak untuk bangun lagi. Kala itu, aku cuma mengikuti alur tanpa banyak usaha untuk mengatur. Mau bagaimana lagi, merancang bukanlah hal yang mudah. Lebih-lebih merancang mimpi. Aku juga bisa lelah, lantas memilih untuk pasrah. Yang menjadi kekhawatiranku adalah apabila aku kehilangan arah dan justru tersesat dalam mimpiku sendiri. Sialnya, apabila kemudian aku tak berkesempatan untuk bangun lagi, aku akan terjebak di alam mimpi. Pun aku tak yakin kamu akan datang untuk membangunkanku dari tidur abadi, laiknya pangeran yang mencium sang puteri. Bedanya, pangeranlah yang tidur. Kamu pasti mager karena kejauhan. Aku bisa apa?

Perlu kamu tahu, dalam mimpi pun aku tetap berlaku adil atau seimbang, baik padamu atau pada tokoh-tokoh lain di mimpi rancanganku. Dalam mimpi rancanganku, kamu tetap gemar makan babi, meski ukuran tubuhmu tetap segitu-segitu saja. Sementara aku? Aku tetap suka mengisap rokok kretek, kadang Djarum, kadang Samsu. Kita masih sama-sama enggan menyaksikan siaran televisi dan memilih marathon drama atau film-film Ghibli. Sejujurnya, bisa saja aku merancang mimpi yang lebih absurd seperti bertransformasi menjadi makhluk bersayap perak menyilaukan, lantans menghampirimu yang dikutuk untuk selalu tinggal di dasar lautan ketika matahari masih benderang. Sayangnya, aku terlalu sayang dengan rutinitas dalam mimpi-mimpi rancanganku.

Oiya, ada satu hal yang belum kusampaikan perihal tokoh-tokoh dalam mimpi rancangaku. Aku juga punya kebebasan untuk mengenyahkan siapapun dalam mimpiku. Termasuk mengenyahkan orang yang menyematkan cincin pada jari manismu.