MIMI MINTUNO

“Ramuan alam yang kami olah dari binatang laut Mimi Mintuno berkhasiat untuk mengatasi keluhan dan kelemahan suami istri serta masalah penyakit sehubungan dengan kevitalan dan kelemahan dalam bidang sex. Ramuan Mimi Mintuno ini sudah terkenal dari zaman dahulu kala yang sering digunakan oleh para Raja-Raja dan setelah diteliti benar telah diakui oleh ahli moderen keistimewaan zat yang terkandung dalam binatang laut Mimi Mintuno”.

( dikutip dari selebaran tukang jual obat kuat di kakilima Mesjid Istiqlal, disaat selesai sholat Jumat ).

WELL……ada begitu banyak obat-obat khasiat kuno yang diperdagangkan di kakilima Jakarta, catat..sepanjang Jakarta !

Barangkali hanya di Gereja saja yang tidak. Kalau memang abang tukang jual obat takut karena beda agama, lantas mengapa pedagang Batak Kristen tidak berani, mungkinkah karena takut di bentak sama Yesus yang terlalu Eropah, padahal kaya’nya enggak ada tuh Yesus menyuruh “domba” Nya untuk terlalu memaksakan diri menjadi “domba-domba” dengan baju sutera. Wah… bisa panjang nih!

Cerita berikut mengisahkan tentang Ali pedagang asal Padang beragama Islam dan Alatan yang Kristen berasal dari Batak Karo. Keduanya berdagang obat dikakilima Jakarta. Ali yang suka mengambil posisi jualan di Pasar Baru, pas dekat museum foto Antara, setiap hari jika berjualan selalu ditemani dengan seekor kucing putih yang menurutnya membawa hoki.

Setiap harinya Ali mampu menjual rata-rata 10 bungkus obat kuat syahwat, 5 bungkus obat varises, 13 bungkus obat penambah nafsu makan dan 7 bungkus obat sakit kepala migran. Obat lainnya terjual hampir rata-rata 1 bungkus sehari. Obat yang diracik sendiri oleh Ali dapatlah dikatakan baik kalau tidak bias disebut manjur. Sing Heng sendiri yang ahli akupuntur Cina mengakui keampuhan Ali. Bukanlah sebuah perkara gampang bagi Ali untuk mencapai derajat seperti sekarang. Ia masih ingat awal kedatangannya ke Jakarta, terlunta-lunta di tanah Minang yang kesepian Lelaki, Ali memutuskan pergi merantau untuk mempertaruhkan nasibnya seperti umumnya pemuda Minang. Bermodalkan semangat dan utang sana-sini Ali pun naik kapal Kambuna-Pelni dari pelabuhan Belawan menuju Tanjung Priok.

Setahun pertama di Jakarta, Ali menempati rumah kontrakan temannya yang sekolah di ISTN Lenteng Agung sambil mencari kerjaan baru. Lazimnya anak perantauan di Jakarta, terminal Blok M dan Kampung Rambutan adalah daerah jajahan untuk melepas lelah mencari angin segar. Baru setelah itu mencoba jajal daerah Plaza Senayan yang isinya adalah “barang” perempuan molek-molek semua. Ali suka heran dengan kondisi seperti ini, abis dari terminal yang kumuh lalu memasuki plaza yang bersih tercukur rapi. Jet lag sering melanda Ali jika tanpa uang secukupnya masuk ke dalam kondisi ini. Dualisme kata Ali, but who care’s…..

Bukan Blok M dan bukan Kampung Rambutan yang mempertemukan Ali dengan Alatan. Plaza Senayanlah sang Maestro itu.

Berdua mereka selalu memperhatikan setiap manusia yang keluar masuk plaza. Mencatat dan menghitung cash flow rupa-rupa manusia, persis seperti pekerjaan malaikat Rakib dan Atib yang suka berteduh dibahu kiri-kanan manusia. Pekerjaan mencatat berbuah hasil berupa, watak umum yang selalu ditampilkan oleh sejumlah manusia sehabis belanja atau apapunlah di Plaza Senayan. Watak itu adalah kesan ceria, kecuali jika habis beli obat dari tokoobat, baik itu Century, Hero, dll. Pekerjaan sederhana dan seadanya dilakukan dengan intelektualitas rendah dan kesimpulan yang tidak ilmiah bukanlah soal bagi Ali dan Alatan. Catatan pun ditulis diatas bungkus rokok atau serbet dengan pensil seadanya. Suatu hari mereka akan tahu pekerjaan mereka banyak dilakoni oleh Arsitek dan sutradara ternama dunia. Kadang-kadang orang tidak tahu tentang kebenaran sampai kebenaran itu sendiri hadir disaat tujuan tercapai….

( Ceritapun berbalik kebelakang, mencari proses dapatnya kesimpulan )

Plaza Senayan, jam 05.00 sore.

Pelajaran satu: belajar “bertanya?”

Ali : Kau Tan, kemarilah…..

Coba, kau lihat disana, itu tante pirang. Kuperhatikan cemberut terus dari tadi kaya’ ikan asin. Kau tanyalah ada apa?

Alatan: Kaulah, yang susah kau kasih aku. Tiba anak gadis kau pula yang maju. Dasar Padang Pancilok!

Ali : Ah…Kau, kaya’ bukan saudaralah kita. Ku tebak tante itu Batak…jadi kau saja. Ya setidaknya anak Sumateralah. Dan kau tau kan, aku ini udah jadi anak Jakarta. Dua tahun aku disini Tan dan kau baru enam bulan udah banyak taik cincong.

Alatan: Ya..udalah, pokoknya aku enggak mau. Aku mau keatas dulu, ada temanku yang lagi ulang tahun. Lumayanlah makan gratis…….

Ali : Lalu aku….( Ali protes )

Alatan: Mampuslah kau dimakan cacing! ( Alatan berlalu sambil menirukan si Naga Bonar ).

Ali : Batak u..edan ( Ali pun maju, mendekati tante pirang yang semakin manyun ).

Ali : ( Sambil merokok )

Sore mbak…, saya dengar mbak adalah seniman. Jadi,saya ada masalah dengan dosen saya, lalu saya dihukum dengan mencari jawaban tentang “ pakaian”. Menurut mbak “pakaian” itu apa sih?

Tante : ( Sambil merokok juga, dengan muka serius dan curiga)

Pertama, ya dik! Kamu tuh orang asing buat saya. Kedua, kata siapa saya seniman. Dosen kamu adalah orang yang paling tahu jawabannya. Dan terakhir, pakaian adalah perempuan.

Ali : Lalu kenapa tante manyun, jika tante dapat memberikan jawaban dengan pintar ( Ali memuji sambil memperhatikan hidung sang tante ).

Tante : ( Bego banget sih lu…, bisik tante dalam hati. Gila, ini adalah cowo kampung yang paling basi yang pernah gue kenal). Saya pergi dulu Dik !

Ali : Lah..mbak, kok malah pergi ( Salah apa pula aku…).

Demikianlah, berkali-kali Ali dicecar perempuan di plaza itu, berkali-kali pula Ali telah belajar. Tanpa terasa “bertanya” telah membuat Ali semakin percaya diri dan makin dekat dengan perempuan jenis apapun. Lesbi, tante girang, gadis, ibu-ibu, nenek-nenek, janda kembang atau montok, dan masih banyak lagi jenis status perempuan lainnya yang enggak ada di buku-buku, bahkan dipikiranmu sekalipun.

Alatan yang memilih cara lain untuk belajar “ bertanya”.

Alatan: Ku tahu Sotia, kau bukanlah untuk ku. Walaupun ku yakin seperti matahari pasti terbit besok, kau suka padaku.

Sotia : Bukan begitu bang. Soti hanya enggak pengen abang kecewa. Aku inikan janda cerai, masa abang mau beneran serius sama aku. Cewe abang kan banyak!

Alatan: Ah..kau, cam mana pulalah….. Kupinangkau, berarti aku telah lupa sama mereka semua. Jangan kau sindirlah….

Sotia : Bang, bagaimana jika cewe-cewe abang yang lain pada tahu, kalau abang lagi deketin aku. Aku kan jadi susah. Malah cewe nya deket-deket sini lagi.

Alatan: Kau menghina Soti, jangan mentang-mentang aku hanya dapat pamer di plaza molek ini, lalu kau hina aku seperti itu, kau bilang aku kurang kerjaan dengan merayu spg ( wanita penjaga baju, dll, lah ) disini. Aku suka sekali sama kau, tak adalah bicara-bicara sumbing tentang kau dan aku. Kalaupun ada tak pedulilah aku, kalau kau tak dapat, biar ku tumbuklah muka mereka biar sumbing sekalian semua.

Sotia : ( Sotia tersenyum ). Bang-bang, aku ini apalah! Jawa lagi, janda cerai, kurang cantik, kerjanya hanya penjaga baju, tinggal dikontrakan, nyuci masak sendiri. Lihatlah tanganku jadi kasar karenanya, betisku berotot, mukaku berlemak…

Alatan: Itulah kau Sotia, selalu kuperhatikan engkau terlalu sering menilai diri sendiri, sekali-kali coba kau nilailah orang lain. Kau lihat si Ipah, temanmu itu yang ngakunya masih gadis. Siang jadi spg disini dan malam dia jadi sgm, itu………susu gratis malam-malam.

Demikianlah..

Alatan yang lebih memilih belajar “bertanya” dengan merayu semua spg Plaza Senayan yang mungkin dijangkaunya, telah semakin percaya diri.

Pelajaran kedua: “mencari jawaban”

Plaza Senayan, jam 08.00 pagi. Saat itu hujan rintik-rintik berbekas diatas pelataran Plaza yang masih tertutup. Petugas Obi berkeliaran membersihkan segala hal yang dianggap kotor. Pagi itu strategis untuk diskusi. Semua berada pada posisinya. waktu, orang, bangunan, pohon, langit dan tanah, semua masih seperti kemarin, tidak ada yang berubah. Manusialah yang berubah……..semakin menua dan semakin pendek.

Ali dan Alatan terlihat turun dari bus Lebak Bulus-Tanah Abang.

Ali : Tan, hari ini kupikir kita harus bicara tentang masa depan.

Alatan: Benar, tak baik lah terus-terusan begini. Kaya’ bukan laki saja. Mana catatan mu, biar kuperiksa.

Ali : Dulu, melakukan pencatatan ini untuk mencari apa yang tidak dijual di Plaza ini. Dan menurut catatanku hampir semuanya dijual disini. Kolor, cat, TV,Radio, kertas, obat, baju, kosmetik dan lain-lainlah.

Alatan: Aku juga mencatat hal yang sama. Seperti perkiraan kita, maka pertanyaan kedua adalah barang apa yang dijual tetapi tidak laku.

Ali : Tidak ada.

Alatan: Benar tidak ada, kecuali makanan anjing kali.

Ali : Ah..kau, masa kita dagang makanan anjing.

Alatan: Lah..benarkan, siapa coba yang mau menenteng makanan anjing terus dicampur dengan makanan sayuran dalam satu plastik Aku saja membayangkannya sudah mau muntah. Kalo dijinjing kelihatan sama orang.

Ali : Katanya kau pernah makan anjing yang ditumbuk sampai mati. Lalu kau makan dengan darahnya. Kata kau daging anjing yang tidak disembelih lebih enak. Sekarang kau bilang jijik. Cam mana pula kau…

Alatan: Itu lain soal. Sekarang kau mau tidak berdagang makanan anjing?

Ali : Masalahnya seperti ini Tan, jika kau berdagang barang yang tidak dipakai oleh orang maka kau akan sulit. Uang itukan buatan orang, jadi biar aman kau daganglah barang yang dipakai orang. Jangan dipakai oleh binatang.

Alatan: Oke lah. Lalu usul kau apa?

Ali : Kita masuk ke kemungkinan ketiga, yaitu; Barang yang paling banyak dibeli disini?

Alatan: Hampir semuanya.

Ali : Benar semuanya.

Alatan: Sekarang aku Tanya sama kau. Barang apa yang senang dibeli disini.

Ali : Hampir semuanya.

Alatan: Kau yakin semua barang yang dibeli disini membuat orang senang.

Ali : Tidak yakin. Karena tidak ada kesempurnaan di ciptaan manusia.

Alatan: Benar kau. Kuperhatikan berdagang obat tidaklah membuat orang senang.

Ali : Karena obat adalah petunjuk ada orang yang sakit.

Alatan: Bukan itu saja. Hampir semua pembeli obat kuperhatikan mukanya jarang yang ceria.

Ali : Menurutku karena obat bukanlah jaminan atas sembuhnya suatu penyakit.

Alatan: Kau tahu maksudku?

Ali dan Alatan : ( berteriak serentak )… Berdagang obat adalah berdagang tentang keraguan. “ Berdagang keraguan” adalah berdagang yang paling aman. Tidak ada jaminan atas kesembuhan, jadi tidak ada masalah dengan kepuasan.

Ali : Berdagang obat tidak perlu modal.

Alatan: Karena obat bukanlah penyembuh utama.

Ali : Karena obat dibeli untuk mengurangi rasa sakit dan penguat mental si penderita.

Alatan: Justru yang paling penting adalah zat penawar rasa sakit dan semangat dari kita.

( Kembali ke masa sekarang…..tentang berdagang “keraguan” )

Setelah kesepakatan itu tercapai, Ali dan Alatan menyebar mencari lokasi dagang yang dianggap potensial. Alatan mengambil lokasi dekat Pasar Glodok dan Ali mengambil lokasi di Pasar Baru.

Pasar Baru, jam 05.00 Pagi.

Azan Subuh sudah 40 menit berlalu, angin subuh menusuk setiap kulit tanpa bulu. Bau sampah busuk berganti-ganti bersama bau angin subuh yang seperti bau daun-daun basah. Nenek-nenek sayur duduk diatas kertas plastik, tertutup diantara daun bayam dan daun kangkung yang hijau, selintas nenek itu seperti sapu lidi dan jeruk purut, kecil dan mengerut, hilang diantara gagahnya manusia sekarang. Pasar Baru mulai hidup dengan derap langkah manusia sang penata dunia, satu dua derap manusia sudah cukup untuk menistakan derap langkah ribuan binatang lainnya yang juga ikut mengais dan menandai tanah-tanah di Pasar Baru. Tetapi tanda manusia lebih berbekas, kalaupun tidak, manusia dapat menghapus tanda dengan tanda dengan tanda dan terus dengan tanda, sesuka hatinya tanpa peduli sebelumnya itu tanda siapa, apa lagi tanda hewan!….who care’s…

Ali : Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………( berteriak dengan lantang, menembus pagi yang dingin, menohok rahang jin dan setan, mengusir roh-roh jahat, kodok, tikus dan manusia yang tidak pernah ke Pasar Baru tiga tahun terakhir. Tiap pagi selama tiga tahun Ali berteriak seperti itu untuk memulai perdagangannya. Ali mencontohnya dari bunyi lonceng di Gereja dan Azan di Masjid serta bel di bursa saham ).

Ali : Hari ini adalah jualan ku yang terakhir. Telah kubuktikan padamu selama tiga tahun, Ali tidak pernah menipu. Ku sembuhkan dirimu dengan kuasa Allah kepada ku. Ku tarik nafas mu saat kau lagi asma. Ku cabut uratmu saat kau lagi varises. Ku tutup lukamu saat kau lagi borok. Ku bangkitkan gairahmu saat kau lagi lemah. Ku dinginkan rumah mu saat kau lagi cekcok sama istri. Ku kembalikan uang mu di saat obatku tak manjur. Akulah dokter itu……….tangan ajaib Allah di bumi.

Hari semakin cerah………..omongkosong Ali tak lelah-lelah membawa jiwa-jiwa yang sakit kepadanya. Tak peduli orang Cina atau Indonesia sekalipun, Ali adalah sang pahlawan jiwa selama tiga tahun. Selama tiga tahun Ali merintis berdagang obat di Pasar Baru, bahu membahu bersama rekan-rekannya sesama Minang bersaing dengan pedagang sebelumnya. Memukul, memaki, berceramah,menolong dan taat membayar restribusi adalah cara-cara Ali untuk bertahan. Pernah badannya hancur dan dilempar ke kali Pasar Baru yang bau dan besoknya gantian Ali yang menggantung sang pelempar kemarin di bawah pipa air diatas kali itu. Kejadian tsb membawa Ali dan lawannya ke kantor polisi, namun keduanya akhirnya dibebaskan dan berdamai. Hari ini Ali akan mengakhiri penjualannya di Pasar Baru dan akan mencoba mengadu nasib dengan mendirikan tempat pegadaian ayam di Manggarai.Ali mencoba berdagang tentang barang “ kepastian”. Hari itu Ali menitip dagangannya sama rekannya untuk memenuhi janji bertemu Alatan di Plaza Senayan.

Plaza Senayan, jam 05.00 sore.

Ali dan Alatan bertemu setelah sekian lama tak bersua.

Kafe R………sambil minum kopi.

Alatan: Aku bangkrut. Telah kugadaikan semua harta ku untuk menutup utang-utang ku. Aku sebenarnya tanpa sadar mulai melupakan landasan aku berdagang, yaitu berdaganglah tentang “keraguan”.

Ali : Maksudmu ( Ali mulai bingung mencari makna….)

Alatan: Kelihatannya kau juga mulai lupa, sobat. Ternyata apa yang kita lakukan dahulu mengenai seni penjualan dengan landasan ketidakpastian telah membuat kita berjaya. Aku juga sepertimu di awal-awal. Dengan modal bertanya dan bertanya aku bercakap-cakap sendiri mengundang orang membeli obatku. Pernah dimasa jayaku aku membakar asap didalam lentera dan menggunakan kemampuan optik untuk menghasilkan pertunjukan mengundang roh, disaat itu aku dibantu oleh beberapa Cina Medan untuk menguatkan kesan natural dan efek menakutkan. Pertunjukanku berhasil dan aku sering diundang untuk mengusir setan, syukur semua berhasil. Aku tidak pernah peduli dengan setan atau roh benaran semua kulahap.

Ali : Hebat….

Alatan: Itu belum seberapa, kau tau Teguh Karya, si tuan sutradara film Indonesia. Dia itu pernah memakaiku untuk membuat efek hantu kaca, disaat test audisi aku berhasil memukau…..artis-artis cantik dengan pantat bahenol terkencing-kencing sewaktu melihat arwah-arwah nenek mereka yang telah mati bergentayangan menembus malam. Semua itu sebenarnya sederhana. Kudalami lagi tentang “keraguan” yang hinggap dihati setiap manusia. Aku berguru ke Banten, ku pelajari filosofi Islam, ku campur semua pengetahuan malamku dengan pengetahuan siangku lalu kuhasilkan science fiction dengan memakai bantuan zat kimia yaitu bahan pembuat setan. Aku Cuma butuh foto film lalu aku dapat membuat apa saja. Kau pernah menguliti kulit kepala manusia mati lalu rambutnya kau simpan atau kau jadikan topi dikepala mu, kau harus mencobanya Ali suatu saat. Akan kau rasakan bahwa kau lah si pencabut nyawa itu ! sekali lagi aku menganggap dunia ini adalah keraguan. Aku bahkan ragu tentang keberadaan ku. Aku ragu tentang jasadku. Aku ragu tentang jiwaku. Aku ragu tentang pikiranku. Dengan demikian semua adalah masalah siapa yang lebih yakin sama dirinya sendiri dialah yang menang…………kau dengar Ali……..dialah pemenangnya. Kau tau tentang setan Ali…………setelah aku balik dari Banten, aku percaya bahwa semua yang memiliki jiwa berarti memiliki jasad. Setan dan Malaikat tidak memiliki jiwa menurutku jadi mereka tidak memiliki jasad, kau tahu bagaimana rasanya tidak memiliki jasad, rasanya adalah seperti burung yang tidak pernah hinggap…….terus terbang…….tidur di awan-awan….tidak pernah pulang……dan menurutku menyakitkan sekali jika tidak punya pelabuhan, ditolak bumi ditolak langit…………untunglah Malaikat diterima Tuhan, sehingga sewaktu-waktu Dia dapat tidur di telapak tangan Tuhan.

Ali : Kau berubah Tan,

Alatan: Kau juga Ali.

Ali : Kapan kau bangkrut?

Alatan: Tiga bulan yang lalu aku beralih profesi, menjadi pedagang sepeda di daerah Pancoran. Aku bosan dengan keahlianku menjual “keraguan”, semua terjadi disaat aku melihat temanku yang berhasil menjadi penjual mobil laris. Aku tergoda dan mulai ragu dengan filosofiku, lalu akupun berexperimen dengan membalikkan semua pikiranku, yaitu bagaimana jika semua ini adalah “kepastian”. Aku pun kuliah di perguruan tinggi Teologi lalu meragukan Tuhan dan jiwa.

Ali : Jadi kau bertingkah seperti pebisnis Amerika, yang sok ilmiah.

Alatan: Tidak juga, jika seperti itu tentu aku akan berhasil.

Ali : Lalu…….

Alatan: Ternyata aku sudah terlalu tua untuk berubah Ali. Walaupun jasadku muda, ternyata pikiranku menua menembus batas raga dan jiwa. Aku lelah berpikir dan lelah dalam bertindak. Sekuat tenaga aku mencoba merubah diriku dan merubah dunia tetapi yang terjadi adalah aku tetap tak berubah. Coba kau piker bagaimana mungkin aku menjual sepeda dengan system kredit, jika aku tidak punya alat untuk menagih utang. Ku suruh orangku menagih…….dan dia malah kabur membawa uang tagihannya. Secara prinsip pun sebenarnya berdagang dengan system kredit berarti melakukan penjualan “maya” dan maya berarti keraguan. Dan konsep dagangkupun menjadi distorsi.

Ali : Tetapi berjualan dengan system kredit banyak dilakukan pedagang lain.

Alatan: Mereka siap Ali, mereka punya banyak orang terpercaya, dan pembelinya pun bagus-bagus. Sedangkan aku yang terbiasa bekerja sendiri dengan pikiranku dan magisku susah untuk berkomunikasi dengan uang. Temanku mengatakan “susah jika kita terbiasa menjual jasa lalu beralih menjual barang”. Aku kan kemarin menjual “jasa”, obat-obat itu Cuma alat Bantu untuk menguatkan realitas agar mudah dicerna pikiran.

Ali : Susah juga beradaptasi dengan perubahan.

Alatan: Kuharap kau tetap melanjutkan menjual obat-obat itu Ali. Kalaupun kau ingin berdagang yang lain, sebaiknya kau bertindak seperti investor saja. Lalu kau akan mendapat keuntungan dalam persentase pembagian keuntungan tiap tahun. Hal itu jauh lebih mudah dan realistis.

Ali : Lalu kau akan kemana Tan?

Alatan: Aku akan ke Italy……. Melamar sebagai kelasi kapal barang.

( terlihat di bangku pojok kafe R.. Ahmad Dani-Dewa dengan Pay-Slank, sedang terlibat pembicaraan serius tentang gagasan atau apalah…….)

Pondok Ranji_31 des 2001

accou� T8�

Show your support

Clapping shows how much you appreciated murno khoarizmo’s story.