Rasa apa? Rasa apa? Rasa apa sekarang?
Lucu, disaat saya memiliki seribu hal lain yang seharusnya saya lakukan, disaat yang sama saya memiliki seribu-satu buah pikir yang terlintas bersamaan di dalam benak. Entah bagaimana saya dapat menelaahnya, namun untuk sekarang, inilah tulisan saya — setelah sekian lama nyali tak muncul.
Akhir-akhir ini saya sedang mencoba memulai dari awal, mencoba mencari kegemaran, mencoba mengunjungi rumah-rumah lama yang pintu-nya sudah terlalu rentan hancur untuk diketuk sapa. Walaupun pada akhirnya, saya mencoba untuk membangunnya kembali, memulai dari rancangan arsitektur dasar untuk tatanan kerajaan batin.
Jujur, kenyataan yang saya hadapi tidak semudah 1+1 ataupun cerita anak didalam buku yang penuh ilustrasi. Kenyataan saya sama halnya dengan ekuasi quadratik matematika teknik dan lembar buku yang tertumpahkan cat. Namun, saya masih sangat amat termotivasi dan bertekad untuk mencapai hal-hal yang saya inginkan. Mengenai motivasi dan tekad, mungkin itu akan saya bahas di lain waktu. Untuk saat ini, saya lelah.
Satu pertanyaan yang terus-menerus menampakkan dirinya didalam benak adalah: bisakah saya melakukan segala huru-hara kesibukan duniawi dan tidak merasa lelah? sehingga saya tidak harus menangis lelah ataupun mengeluh.
Jawabannya untuk saat ini…tidak. Saya terlanjur letih dan rapuh; ingin sekali Rana, tetapi seakan-akan tidak bisa. Untuk sahabat-sahabat saya, mereka tahu pasti saya adalah orang yang mudah sekali menangis, cengeng. Mudah mengeluh, mudah sakit hati, sangat emosional. Akan tetapi akhir-akhir ini saya merasa sulit untuk mengutarakan perasaan saya dan benar-benar merasa. Saya paham betul, apa yang ‘seharusnya’ saya rasakan saat sedang lelah, sibuk, dan lengah, namun akhir-akhir ini saya sekedar mengetahui keberadaannya saja tetapi tidak merasakannya.
Apa mungkin saya sudah “beranjak dewasa” dimana perasaan-perasaan sensitif ini sudah dapat saya kendalikan? Saya rasa tidak. Mungkin saya dapat menandakan kapan waktu yang tepat untuk merasa, dan bukan. Namun rasanya sangat asing untuk merasakan sesuatu karena seharusnya, dan merasakan sesuatu karena memang merasa. Akhir-akhir ini pun, saya merasa sedikit lebih berani, kuat, dan tabah untuk membendung segala sesal dan kesal, menjadi sebuah sandaran melebihi yang bersandar.
