Ketika Saya Deactivate Akun Facebook

Kenapa saya Deactivate akun Facebook? Alasannya sangat sederhana, karena saya ingin dapat lebih produktif dalam hidup saya.

Bekerja dengan kondisi digital distraction

Dunia saat ini dipenuhi dengan produk digital, kita dibangunkan oleh gawai (kata yang kami gunakan untuk smartphone) pada pagi hari, dan tidur bersama gawai dimalam hari.

Keseharian kita berinterksi dengan smartphone, tablet, laptop atau desktop, dan semua itu berteriak kepada kita melalui message, notifikasi atau alert. Membuat kita tidak fokus dengan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan.

Karena sebuah notifikasi, kita tanpa sadar bisa menghabiskan waktu lama untuk melihat, membaca, update sosial media kita, atau chatting di komentar.

Sebenarnya tanpa sadar kita telah mengundang hidup kita untuk diinterupsi. Bahkan kita membuat jadwal kapan interupsi itu datang, lihat saja kalender kita dan coba pikirkan, apakah kalender kita berisi jadwal pekerjaan yang harus kita lakukan atau malah berisi interupsi yang menyebabkan kita menunda pekerjaan kita dalam bentuk “MEETING”.

Sibuk dengan hiburan

Seberapa sering kita nonton di jam kantor?, nonton highlight gol pertandingan di youtube, check status facebook, baca berita hari ini di twitter, mendengar lagu streaming untuk boost mood, atau nonton netflix, atau menyebar foto lucu di path.

Ya inilah kesibukan di era digital, sibuk dengan hiburan. Kita sibuk agar diri kita dapat dihibur, mungkin ada yang beralasan kita perlu dihibur supaya termotivasi namun bila kita refleksikan berapa lamakah sebenarnya kita dihibur?

Untuk menjadi produktif ada hal-hal yang harus kita singkirkan (kondisikan)

Adalah Victor Hugo, seorang penulis terkenal, ia menghabiskan waktu lebih banyak bertemu dengan kolega ataupun meeting padahal ia dijadwalkan harus menerbitkan sebuah buku. Ia menemukan bahwa dirinya susah untuk memulai menulis buku tersebut.

Victor Hugo kemudian memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan yang ekstrim yakni mengunci seluruh lemari baju dan mengunci dirinya dalam sebuah kamar. Ia tidak bisa keluar dari kamar, dan ia tidak bisa menggunakan baju (beberapa informasi mengatakan bahwa ia telanjang). Hasilnya adalah sebuah buku berjudul The Hunchback of Notre-Dame.

Hal serupa juga dilakukan oleh Linus Trovalds pembuat Linux dan juga GIT ia mengurung diri di kantor, terkadang tanpa menggunakan baju dan ia memilih komputer yang tidak bersuara (suara kipas di komputer). Linus mengatakan bahwa ia tidak ingin ada stimulasi external.

Menjauhkan diri dari social media dan membuat blog

Hari ini saya deactivate Facebook saya, dan inilah yang saya buat, sebuah artikel di medium. Saya bukan penulis handal, tapi ketika saya memutuskan untuk tidak diganggu dan disibukan oleh entertainment sosial media, saya cukup puas bisa membuat sebuah artikel.

Jika menurut Anda artikel saya bermanfaat jangan lupa untuk menekan tombol suka (hati) atau share artikel ini. Tapi bila Anda kurang setuju silahkan untuk komentar artikel ini.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.