Rehat: Refleksi & Resolusi dari Timur Tanah Sunda

Ada pesona di sana, namun problematika tetap menampakkan dirinya

Il n`y a que deux endroits au monde où l`on puisse vivre heureux: chez soi et a Paris
Hanya ada dua tempat di mana anda bisa benar-benar bahagia, di rumah sendiri atau Paris
—Hemingway

Ungkapan di atas mungkin benar, tapi apalah daya jikalau tak mampu bertandang ke kota mode itu. Jadi opsi pulang ke rumah adalah yang saya ambil di waktu rehat akhir tahun kemarin. Pulang ke rumah kecil bernama Kuningan.

Rumah itu menyambut dengan wajah berbeda, gerbangnya saja baru. Belum lagi ketika masuk ke dalamnya banyak pernak-pernik baru, ya baik lah ada kemajuan. Wajar saja, rumah ini ternyata baru meresmikan 13 barang barunya beberapa bulan lalu. Sepertinya tahun lalu menjadi tahunnya renovasi di rumah ini, semoga tetap berlanjut sesuai kebermanfaatannya.

Oke saya rinci, ini barang baru di rumah kecil ini, ada tiga taman kota baru, dua ruas jalan baru, dua bundaran baru, satu kebun raya yang belakangan jadi kebanggaan, meskipun per 1 januari 2016 kembali ditutup untuk umum karena ada pembangunan lagi, dan infrastruktur lainnya. Cukup luar biasa untuk rumah kecil kami ini. Meski mungkin masih tak sedikit dijumpai jalan bercorak tiga dimensi di beberapa tempat. Wajarlah, modal itu semua setidaknya cuma 30% dari APBD kami yang hanya +/- Rp1,5 T. Ya, sisanya habis untuk makan para abdi negara disana.

Infrastruktur pada dasarnya diciptakan untuk meningkatkan akses kota, fungsi kota, yang pada akhirnya berujung pada men-generate ekonomi kota tersebut. Dan jangan lupakan kebermanfaataannya juga untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di suatu kota. Nama Kuningan akhir-akhir ini memang jauh lebih populer dibanding lampau. Seiring terkenalnya beberapa objek wisata yang menjadi tujuan banyak pendatang. Fokus pembangunan infrastruktur mungkin harus dikejar untuk menopang flow perekonomian yang semakin intens, tak ada salahnya.

Namun bagaimana jika pembangunan hanya konsentris di suatu kawasan? Positif atau negatif? Nah ini poin yang perlu di perhatikan di rumah kecil ini. Bertahun-tahun konsen pembangunan hanya melingkup pusat kota, mungkin akhir-akhir ini melebar ke jalur yang terlewati jalan provinsi meski belum menyeluruh. Daerah lain utamanya di timur dan selatan Kuningan sangat kurang dalam infrastructure developmentnya. Implikasi pertama yang paling mungkin adalah meningkatnya ketimpangan ekonomi antar kawasan, antar kecamatan. Infrastruktur dasar dibutuhkan sebelum pusat-pusat perekonomian baru disebar di kecamatan-kecamatan lain sesuai dengan basisnya. Pemerataan ekonomi mungkin terjadi jika ada pusat-pusat ekonomi seperti itu. Jangan hanya berdalih bahwa pembangunan perlu pembatasan karena komitmen sebagai kabupaten konservasi, kiranya jika sesuai dengan RTRW dan seabrek dokumen rencana lainnya itu tentu bukan masalah.

Kemacetan juga menjadi implikasi lain yang terjadi dari konsentrisnya kegiatan ekonomi di suatu kawasan. Kuningan hari ini adalah kuningan yang cukup ruwet ketika anda berada di Jalan Siiwangi. Kerinduan menyeruak dalam diri ini untuk kembali setidaknya ke satu dekade ke belakang, ketika Kuningan tak kenal kata macet di kamusnya. Luasan kotanya tidak signifikan bertambah namun aktivitas di dalamnya banyak bertambah. Perlu regulasi yang tepat untuk mengatasi bangkitan lalu lintas tersebut.

Poin lain yang saya lihat di liburan lalu adalah, SDM di rumah ini nyatanya masih perlu pengayaan. Harus ada improvement, apalagi untuk menyongsong visi besar Kuningan MAS (Mandiri, Agamis, dan Sejahtera) 2018. Kiranya rumah ini butuh lebih banyak lembaga pendidikan di dalamnya. Ini menjadi perhatian saya, diri ini merasa cukup sedih saat mendengar opini masyarakat saat acara Ngawangkong, acara diskusi rutin antara masyarakat dan jajaran pemerintahan kabupaten Kuningan, banyak di antara mereka yang pertanyaannya kurang relevan dan substansial. Masyarakat rumah ini belum seutuhnya mampu untuk kritis.

“Pendidikan membuat hidup menjadi banyak pilihan.” — Ridwan Kamil

Ya, dengan banyak pilihan hidup bagi masyarakatnya, rumah ini juga menjadi memiliki banyak pilihan di masa depan. Pemikiran-pemikiran pribumi tentu banyak dibutuhkan untuk menentukan langkah rumah ini, karena merekalah yang tahu tentang isinya. Semakin masyarakatnya teredukasi, semakin kaya lah suatu kota itu.

Sekiranya itu cerita hasil memanfaatkan waktu rehat di rumah kecil tercinta. Hasil dari berkelana ke lebih dari 10 kecamatan dari 32 yang ada. Hasil dari roadshow AMI, sampai menemani survey tim ADB. Hasil dari tidak hanya melihat namun mengobservasi. Rumah ini cukup banyak berubah secara fisik, meski masih konsentris, semoga lebih merata nantinya. Jangan lupakan untuk tetap mendidik dan mencerdaskan masyarakatanya supaya rumah ini tetap lestari dan semakin maju. Tetaplah membuat diri ini rindu untuk mendatangimu, tetaplah menebar pesonamu, semoga ada perubahan lain saat saya pulang.

Janitra, 30012015

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.