Anak Jadah

Perantauan adalah takdir dengan kesunyian yang pongah. Ia tak sekedar nasib yang selalu beroposisi: antara baik dan buruk. Ia adalah takdir yang nir(-relasi, niscaya, wicara, wacana). Kita tak pernah menyebut satu dari dua sifat nasib untuk mengobjek takdir, maka tak ada takdir buruk; yang ada, nasib buruk atau nasib baik. Perantauan ialah alienasi terhadap kampung halaman yang selalu menghendaki. Merantau, berarti melakukan aktivitas yang penderitaan maupun kebahagiaannya tak sanggup direkam kalkulus dan tak tahan dengan satu inskripsi final. Misalnya, merantau membuat saya harus dan tidak harus berbuat lupa; lupa diri, lupa identitas, dan lupa kangen.

Tapi merantau bisa diterjemahkan sebagai si anak jadah, anak tiri — dengan atau tanpa ibu kandung; dengan ingat atau lupa kampung halaman. Film “Merantau” yang sudah beberapa tahun lalu beredar sedikt banyak merekam keganasan aktivitas merantau. Si tokoh dalam film itu harus meninggalkan tanah yang membesarkannya; di mana Tuhan mengecat buah tomat dan kita sanggup menyaksikannya; di mana kedamaian bukanlah festival melainkan rutinitas. Si tokoh pun bertolak dengan membawa harapan yang kelak bisa ia bawa pulang. Tetapi perantauan adalah ibu tiri, dan sang perantau memang anak yang tak diinginkan, si anak jadah. Maka, sebagaimana anak yang tak diingnkan, sebelum lahir, ia ingin sekali digugurkan.

Kisah pun berakhir tragis; ketragisan yang drama dan dibuat-buat, memang, namun perjuangan di tanah rantau tak jauh dari kata “berat” seperti perjuangan si tokoh dalam film itu. Tanah rantau tidak sanggup ditakhlukkan dengan hanya kemampuan silat atau bela diri. Di tanah rantau, semua bisa terjadi: keyakinan yang digadaikan dan harga diri yang diobral di mana-mana. Hanya iman, mungkin, satu-satunya yang tersimpan jauh di lubuk; jika memang iman pun semestinya tidak harus tanggal beserta tanggalnya kampung halaman dari ingatan, dari kenangan. Tak ada yang tersisa kecuali takdir: apakah ia akan pulang dengan membawa prestis yang tinggi dan dengan demikian dicap sukses, atau malah sebaliknya. Takdir, siapapun tak ada yang tahu.

Kisah perantauan juga sanggup direkam apik oleh novel Eka Kurniawan, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Ajo Kawir, tokoh utama yang kemaluannya tak bisa berdiri karena satu kejadin jauh di masa remajanya, harus menghadapi kenyataan pahit sebagai seorang lelaki. Ia telah beristri, Iteung namanya, tapi ia tak bisa memberikan apapun kepada istrinya, termasuk apa yang seharusnya ia berikan itu. Di masa dewasanya, ia merantau dan bekerja sebagai sopir truk yang tentunya jarang dan alangkah sangat jarang pulang. Kampung halaman, baginya, adalah sebuah kutukan dengan “K” besar. Kutukan yang diselipi dendam akibat kelelakiannya yang hilang dan ia harus menyaksikan istrinya hamil oleh lelaki lain. Dari kemaluannya, ternyata ia belajar sesuatu yang amat berharga: ketenagan. Baginya, tak ada yang lebih derita selain kemaluan yang tak bisa berdiri. Maka apapun masalah yang tak lebih besar dari itu, ia selalu menganggapnya remeh, tak terkecuali hanya sekedar urusan merantau.

Dan tanah rantau, ibu tiri, ialah kenyataan yang setiap bangun tidur harus saya hadapi. Pada jarak ribuan mil, melewati lautan membentang, gunung yang menjulang, lembah yang menikuk, tanah air dan ibu kandung nyaris hilang di sela-sela kesibukan; antara belajar, mencari uang, dan menjaga kenangan. Dalam perantauan, semua bisa (dan musti?) terjadi. Dan sangat tipis potensi untuk mengandalkan ibu kandung. Perantau adalah si anak jadah. Alhasil, biarlah perantauan tetap dan selalu menjadi takdir, yang keentahannya tak pernah diketahui. Sebab dengan begitu, saya bisa terhindar dari sangkaan bahwa kesuksesan adalah nasib baik dan kegagalan adalah nasib buruk. Biarkan antara keduanya tetap jadi misteri, tanpa tetapi. [*]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated M.S. Arifin’s story.