Apa yang Kamu Harapkan dari Bercerita?

winterrose31.deviantart.com

Zizek pernah memberi gambaran ringan mengenai gejala yang, boleh dikata, akhir-akhir ini marak karena adanya media sosial. Intinya: orang cenderung mencari media (bisa teman, tetangga, pacar, tukang cendol, facebook, instagram, dan seabrek lainnya) demi menumpahkan hasrat untuk didengarkan. Gejala ini bernama jouissance, sisi lain dari aspek butuhnya subjek akan liyan. Penjelasan Zizek akan hal ini sebenarnya sudah lebih dari cukup dengan guyonan terkenalnya itu. Seorang lelaki bercinta dengan artis terkenal di suatu pulau terpencil di mana tak ada seorang pun kecuali mereka dan si lelaki, seusai bercinta, meminta artis terkenal itu untuk berpakaian dan berpenampilan layaknya sahabatnya sendiri hanya untuk bercerita: “Aku baru saja bercinta dengan artis ini!” Guyonan lengkapnya bisa Anda cari di google.

Betatapun itu, guyonan Zizek tak semudah yang dipahami dalam aktuilnya, yakni, perihal kompleksitas perilaku manusia terlebih di era informatika yang menggila ini. Di media sosial, kita sering menemukan orang curhat — yang jika kita pikir-pikir, curhatan mereka sebenarnya sangat tidak penting bagi diri kita. Menariknya, kita cenderung mengikuti itu. Semacam ada harapan timbal balik yang ikut menyulam hasrat “untuk-didengar” tersebut, yang sebenarnya hasrat ini tak pandang bulu mengidap siapapun. Syahdan, kita pun berkisah, berceritera di media sosial, mengumbar apapun yang sebenarnya tak terlalu penting bagi orang lain dan kadang malah bersifat sangat privatif. Lalu, kenapa kita melakukan hal itu?

Itu adalah gejala jouissance yang kita kenal katanya tapi tak jarang bebal akan makna sebenarnya. Secara etimologi, jouissance berarti menikmati, bersukacita, atau kata yang derivatif dengannya. Kenikmatan di sini tak setelanjang itu, artinya, ia adalah kenikmatan yang boleh jadi bisa timbul dari kesakitan diri sendiri yang kemudian dinikmati. Barangkali seperti nikmatnya disakiti ketika kita patah hati. Ada sakit yang menghimpit, tapi sekaligus kita menikmatinya terus-menerus dan merindukan kehadirannya jika suatu saat sensasi itu absen dari kita. Bercerita adalah soal sukacita. Ini yang beberapa kali diungkapkan novelis potensial Eka Kurniawan. Baginya, menulis adalah soal suka cita, maen-maen, ludens. Terlepas bahwa nanti itu akan berujung serius, itu adalah perkara aksidental.

Hasrat bercerita kepada orang lain, atau bahkan kepada benda lain, adalah sejenis pelampiasan. Ia berkait dengan kesenangan manusia berkisah dan didengarkan. Maka, lajutan dari itu semua, di era facebook dkk, di mana tanda didengar dan tidak bisa dinilai dari berapa banyak like dan respon, orang akan cenderung kuat ketika mendapat like banyak dan respon yang semarak. Ia akan kecil hati ketika menulis sesuatu, mencurhatkan sesuatu, tapi tidak didengarkan atau dicuekkan begitu saja. Dari sini, kompleksitas psikologi memang harus menjangka sampai titik itu. Singkat tanya: bagaimana bisa orang sampai-sampai menyandarkan tingkat kebahagiaannya dari banyaknya followers dan liker?! Sampel seperti ini bisa dilihat dari persaingan, terlebih perempuan, di instagram antara satu subjek dengan subjek yang lain. Banyaknya followers seolah-olah menandakan kesuksesan yang belum pernah ada duanya.

Maka, pertanyaan: ‘apa yang kamu harapkan dari bercerita?’ kiranya justru merupakan pertanyaan tambahan dari pertanyaan persuatif mendasar: ‘apa yang Anda pikirkan?’; yang tiap detik seolah meneror kita dan menuntut kita untuk lekas menulis: curhat, ngomel, marah, sedih, say-hello. Pada akhirnya memang tak semua bisa didengar, satu-dua bisa bertahan agak lama, diapresiasi, dielu-elukan, dibanggakan — dan yang lainnya terus tertimbun kata-kata baru, cerita-cerita anyar yang semakin telanjang, gambar senonoh sesekali, dan pungkasnya: yang bercerita tak harus didengar dan yang didengar adakalanya tak harus bercerita. Ya, di kehidupan riil, kita masih menemukan rangkulan, pelukan, dan usapan airmata; di mana kata-kata sama sekali tidak lagi dibutuhkan. Lantas, sesungguhnya kita hidup di dunia mana? [*]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.