Chairil

“Belum ada yang bisa menggantikan Pram dan Chairil,” kata Eka Kurniawan dalam salah satu tulisannya. Entah kebetulan atau tidak, keduanya, penyair dan sastrawan agung itu, meninggal berdekatan tanggal di bulan April. Hanya saja, Chairil mendahului Pram 57 tahun sebelumnya, lebih dari setengah abad. Tetapi mereka bertemu juga akhirnya, di Karet Bivak, peristirahatan terakhir yang diinginkan sendiri oleh Chairil (dalam puisinya “Yang Terampas dan Yang Putus”), dan entah dengan Pram.

Chairil adalah mitos sastra Indonesia, sementara Pram adalah logosnya. Dalam perkembangan filsafat Yunani, lahirnya logos tak lain didahului dengan adanya mitos yang bertebaran di antara masyarakat, mengalir dari satu mulut ke mulut lainnya. Setelah mitos-mitos oral itu dikodifikasi oleh sastrawan-sastrawan pada masa itu, terbukalah ia untuk dibaca, diragukan, dikritisi, dan dibantah. Maka lahirlah filsafat, setelah itu, lahirlah ilmu (logos). Chairil mati muda, 26 tahun, dan jika kita hitung lagi karyanya, itu tak lebih dari 100 biji — berupa puisi dan esai dan surat-suratnya kepada H.B. Jassin.

Chairil hampir dikenal oleh semua orang. Namanya ada di buku-buku pelajaran, diktat, dan mampir di gambar-gambar tembok pinggir jalan. Si Binatang Jalang ini mati dalam keadaan yang krusial dalam hidupnya. Masih muda, masih bergelora, dan masih semangat-semangatnya. Namun justru kematian itu adalah sebab kenapa ia agung. Ia mati di saat karya terbaiknya lahir. Sapardi pernah menyebut bahwa jika saja Chairil hidup lebih lama lagi, ada kemungkinan puisi-puisi yang akan lahir dari tangannya bisa lebih matang lagi dari segi teknik. Itu hanya andaian, tentu saja, dan Chairil nyatanya tak tergantikan.

Jika dilihat dari umur, kita bisa membandingkan antara perkembangan ilmu dengan Chairil dan Pram. Mitos adalah masa muda, masa kecil. Untuk membuat anak kecil patuh, kita belum butuh filsafat, apalagi ilmu. Dulu, ketika saya kecil dan bandel, ibu saya cukup berkata: “Jangan bandel, nanti dimakan Genderuwo!” dan tidak berkata: “Jangan nakal, nanti psikilogimu terganggu dan sosialmu tidak baik!” Masa dewasa, adalah masa-masa filsafat. Di sana ada pemberontakan terhadap nilai-nilai yang kita bawa dari kecil. Kadang pemberontakan itu berakhir radikal dan mengubah kita sedemikian rupa, kadang tidak. Masa tua adalah masa ilmu, logos, masa di mana kebijaksaan tertanam dalam diri dengan mantap.

Chairil adalah masa mitos. Puisinya bukan hanya kata-kata, tapi dirinya sendiri adalah puisi. Lebih dari itu, potret penyair, dengan rokok di mulut dan gaya hidup bohemian dan awut-awutan, ternyata sekian lama (termasuk sekarang) menjadi identitas kepenyairan di Indonesia. Saya tak tahu kenapa bisa demikian. Di Mesir, saya pernah nonton pembacaan puisi oleh salah seorang penyair yang penampilannya tak lebih buruk dari standar pegawai kantoran di Indonesia. Kenapa penyair identik dengan hidup tak karuan? Itu karena Chairil Anwar terlanjur jadi mitos. Ia tak terganti.

Pram meninggal pada umur 81. Tiga kali lipat dari umur Chairil. Pram adalah kematangan, masa logos. Ia tak hanya menghasilkan karya, tapi dirinya sendiri telah menjadi karya, satu rangkaian ideologi: Pramis. Jika kita ingin mencari legitimasi atas sikap individualis, kita bisa menemukannya dari Pram, juga Chairil. Tetapi ingat, Indivisualisme tak selamanya negatif, tak selamanya ingin menang sendiri dan mementingkan diri sendiri. Individualisme Pram adalah potret kegigihan mempertahankan keyakinan, sebentuk keadilan yang tertanam sejak dalam pikiran. Pram adalah Pram. Entah 10, atau 20, atau, 30 tahun dari kematiannya. Dan Chairil tetap jadi mitos. Tapi entah sampai kapan. [*]