Cinta yang Manusiawi

http://www.ivanguaderrama.com

Jangan mau dibohongi pakai film. Percayalah, tak ada cinta yang berhasil sempurna dari kisah dua manusia yang tak sempurna. Film hanya menunda ketaksempurnaan itu dengan menampilkan kisah kasih yang mengharu-biru, gegap-gempita penuh bahagia, dan ending yang kadang persis dengan apa yang kita inginkan. Sekali lagi, tak ada cinta yang berhasil sempurna, bahkan jika pun kita mati bahagia di pelukan kekasih kita.

Apa itu cinta yang sempurna? Apakah kisah cinta yang berakhir bahagia? Apakah kisah cinta yang penuh puisi yang menyayat-nyayat hati? Apakah seperti kisah Laila-Majnun, Romeo-Juliet, dan Rama-Sinta? Cinta yang sempurna seperti yang kita bayangkan tentu bukan kisah yang berakhir bahagia, tapi sebuah kisah yang lahir dari gesekan antara cinta dalam diri kita (internal) dengan kondisi di luar diri kita (eksternal) — yang mana cinta itu abadi dalam ingatan orang meskipun, sekali lagi, tak harus berakhir happy.

Benarkah kita terjebak cara pandang cinta sempurna hanya dari menonton film dan membaca puisi cengeng? Menonton film, tak dipungkiri, membuat gairah hidup kita jadi ranum. Film romantis yang berakhir dengan adegan dua mempelai yang naik ke pelaminan, nyatanya memang harus usai untuk menunjukkan kesempurnaan (atau idealitas) tertentu. Pernahkah kita membayangkan lanjutan kisahnya? Apakah senyum yang disungging kedua mempelai itu akan bertahan selamanya? Tentu jawabannya negatif, karena bagaimanapun, kita menikmati film lebih sebagai hiburan daripada pedoman hidup — kecuali yang tidak.

Cinta itu urusan hati. Dua orang yang jatuh cinta disatukan oleh hubungan antara hati dengan hati. Apakah hati berpengaruh pada omongan dan perbuatan? Tentu saja. Apa yang kita lakukan nyatanya mendapat legitimasi justru dari niat. Dan niat tempatnya di hati. Tapi tak semua yang tertera di hati harus mengejawantah dalam omongan dan perbuatan. Dalam kisah cinta, kita tak jarang menemui rasa bosan. Apakah itu urusan cinta? Tidak. Hati kita masih dan tentu masih setia dengan pasangan kita, tapi kita dilahirkan sendirian dan mati juga sendirian, sampai kapanpun kita tak bisa menepis egoisme kita. Kita selalu ingin benar sendiri bahkan di hadapan orang yang paling kita cintai.

Bagaimana dengan puisi? Sebagai ungkapan hati, puisi lahir ke tengah-tengah realitas dengan kata-kata yang diusahakan menyentuh dan indah. Puisi cinta yang syahdu tak pernah berbanding lurus dengan kisah cinta yang sempurna. Orang selalu mengejar idealisme dari apapun itu. Dan jika ia tidak menemukannya dalam dunia nyata, maka dunia fiksilah yang memberinya kepuasan atas idealitas itu. Dan puisi adalah salah satunya. Saya sering menemukan puisi yang menggambarkan kesempurnaan cinta. Seolah-olah cinta itu segalanya dan imortal. Dan usut punya usut, puisi yang menulis cinta yang sempurna justru lahir dari pergulatan seorang penyair dengan dirinya sendiri, bukan dengan orang yang ia cintai.

Misalnya puisi-puisi Majnun untuk Laila. Mungkinkah kita membayangkan bagaimana jika kesempurnaan cinta yang digambarkan oleh Majnun kepada Laila justru lahir dari kisah cinta yang baik-baik saja dan tanpa intrik? Bayangkan bahwa Laila dan Majnun menikah dan mereka menemukan masalah rumah tangga dan menimbulkan pertengkaran. Masihkah puisi cinta yang sempurna itu lahir dari ketidak-sempurnaan kisah cinta? Saya dulu menyangka bahwa orang yang disakiti pasangannya tapi malah tetap cinta adalah gambaran cinta yang sesungguhnya dan yang sempurna. Tapi lambat laun saya bertanya-tanya: benarkah ia mencintai orang yang telah menyakitinya atau malah ia mencintai dirinya sendiri dengan menciptakan gambaran ideal atas cinta yang sempurna? Sehingga atas dasar itu ia bisa menulis puisi dengan bersandar pada angan-angan dia tentang cinta bukan realitas cinta itu sendiri?

Cinta tidak lahir dalam ruang hampa. Ia hidup di antara ketidak-sempurnaan hidup. Ia tumbuh di hati manusia yang manusiawi. Jika cinta itu memang sempurna, praktis manusia yang tak sempurna tidak akan mampu menunjukkan kesempurnaan itu, bahkan lewat puisi yang syahdu. Kita hidup dalam realitas yang khaos. Mengharapkan idealitas adalah fitrah manusia. Bahkan agama menunjukkan jalan ke arah sana: bahwa nanti ada surga yang indah tak kepalang. Mungkin kita akan merasakan kesempurnaan cinta tidak di dunia ini. Mungkin justru kata-kata Pram ini yang lebih bisa kita pegang di dunia ini: “Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan.” Dan tentu, termasuk pendapat saya tentang kenyataan ini. [*]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated M.S. Arifin’s story.