Dominasi

AnthonyFlood.com

Mungkinkah membentuk suatu masyarakat tanpa dominasi?

Itulah salah satu pertanyaan penting dalam filsafat Jürgen Hebermas. Terkait dengan teori kuasa Foucault, dominasi dimulai dari usaha menguasai partisan di luar dirinya untuk setidaknya ditekan dalam bersuara. Penekanan ini bisa menggunakan situs yang bermacam-macam dan dengan berbagai varian caranya. Salah satu contoh terdekat adalah dengan menggunakan situs religius. Doktrin religi yang membentuk suatu kepercayaan dimulai dari dominasi ideologi. Habermas melancarkan kritiknya atas ideologi (apapun ideologi itu). Menurutnya, ideologi adalah manipulasi yang membentuk kesadaran. Idelogi cenderung berpotensi untuk mendominasi, menguasai, dan bahkan menyingkirkan.

Dalam jantung filsafat postmo, nilai-nilai paten yang dianggap final dalam filsafat, yang berpotensi menyingkirkan nilai yang lain, yang juga disebut metanarasi, ditekan agar tidak pongah. Dalam dekonstruksi Derrida, hal ini ditunjukkan dari perhatiannya terhadap pembredelan oposisi biner. Oposisi biner berkonsekuensi pada pertarungan dua hal yang mengakibatkan satu hal di antaranya menjadi dominasi. Barat dan timur. Rasional dan irasional. Modern dan klasik. Semua bentuk oposisi biner selalu dalam rangka saling-menguasai. Perhatian terhadap titik marjin diharapkan bisa meredam dominasi itu.

Habermas sendiri melancarkan kritik rasionalisasi. Menurutnya, dalam rasionalisasi terdapat metanarasi yang diklaim paling benar karena mendapat cap ilmiah. Mereka para ilmuan mengaku menjadi juru bicara paling objektif yang bisa menelanjangi realitas tanpa campur tangan agama, ideologi, kebangsaan, ras, dll. Klaim seperti ini sangatlah arogan. Rasionalisasi dianggap paling bisa mewakili daripada mitologi, khurafat, dan semua bentuk irasional yang banyak ditemui dalam agama. Melalui kritik ini, Habermas, melanjutkan misi Nietzsche, ingin dunia yang berimbang — yang berimplikasi pada praksis di mana masyarakat benar-benar terlepas dari metanarasi yang bermaksud menyeragamkan. Dan juga, emansipasi sesungguhnya dimulai dari bagaimana masyarakat memahami dirinya sendiri dan apa-apa yang baik bagi dirinya. Bagi Habermas, inilah emansipasi yang sesungguhnya.

Kritik Hebrmas tidak bermaksud mengulang masa Romantisisme di mana teks-teks kuna dan kebijaksaan masa lalu dihadirkan kembali untuk menandingi rasionalitas. Tetapi kritik itu lebih menuju kepada tidak adanya dominasi yang mengakibatkan satu proposisi dianggap kiamat. Penekannannya justru, mengutip Derrida, pada pengambilan sikap yang tidak mengambil sikap. Artinya, di antara asas-asas filsafat yang sudah menjadi doktrin, kita lebih baik berjalan di pinggrian, marjin. Mengamati tanpa mengambil posisi.

Dalam konteks keindonesiaan (atau bahkan budaya Timur secara umum), kita hampir mustahil memisahkan metanarasi dari kehidupan kita. Sebagai bangsa yang masih kuat memegang norma dan etika, kita cenderung, sadar atau tidak, menerima dominasi, di satu waktu, dan mendominasi, di lain waktu. Hal itu ditunjukkan dengan adanya agresi baik berupa tuturan maupun tindakan kepada kaum minoritas. Pada satu tingkat, kita adalah objek dominasi dari ideologi yang kita anut. Pada tingkat yang lain, sebagai muslim, kita berhasil menjadi kaum mayortitas yang, menggunakan bahasa Sartre, mengobjek Liyan (the others), yang pada posisi ini adalah minoritas.

Tetapi masalah utama bukan bahwa kita adalah mayoritas yang selalu berhasrat mendominasi dan oleh karenanya menjadi arogan. Sekali lagi, budaya timur memiliki sejarah panjang sebagai masyarakat kultural yang tenggang-rasa menerima pluralitas dan tebiasa menyelesaikan masalah dengan dialog. Kecuali jika budaya ini sudah mulai luntur dan kita mulai menegasi keragaman dan pandai berteriak. Maka kritik Habermas menjadi sangat amat mengena terlebih ketika ideologi mulai menunjukkan taringnya siap menerkam mangsa. [*]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.