Fragmen, 1

Penundaan adakalanya sebentuk kasih, tapi di saat yang sama adalah kutukan. Di kitab suci, kita sering membaca tentang kisah masa lalu; tentang kaum-kaum yang dilenyapkan. Kaum Nuh ditenggelamkan oleh bah, kaum Luth dilempar hujan batu dari langit, Kaum Tsamud dimusnahkan oleh guntur. Tapi kaum Muhammad mendapat suatu remisi, penundaan terhadap azab. Dan atas dasar itu, bisakah kita lantas memaknainya sebagai anugerah?

Barangkali karena kaum-kaum terdahulu tak takjub dengan mukjizat, sesuatu di luar nalar dan kebiasaan. Atau barangkali karena mereka merasa benar dan kemudian menjadi bebal. Azab yang dititahkan tak ampuh membuat mereka iman. Kita dengar kisah Kan’an. Bah itu hampir menenggelamkan seluruh daratan, tapi Kan’an tak juga iman. “Masih ada puncak gunung,” katanya. Ia lenyap juga, dan Tuhan berkata kepada Nuh, menghiburnya: “Ia bukan dari keluargamu.”

Tak kita jumpai lagi kisah pemusnahan sebuah kaum, setelah turun Nabi terakhir. Mukjizat Nabi itu bukan tongkat ular, bukan pula tak mempan dibakar api. Ia tetap seorang manusia, dengan tangis yang kerap. Kaumnya tak dimusnahkan di dunia, mereka yang ingkar hanya dikutuk, ditunjukkan ke jalan cahaya. Tapi bukankah dengan begitu, mereka terlena oleh penundaan? Barangkali ya, barangkali tidak.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.