Fragmen, 2

Konon, lailatul qadar adalah malam yang bisu, tanpa suara. Hal ini mungkin tak berlaku bagi mereka yang hidup di tengah-tengah kota metropolitan, di mana mesin menderu tak kenal henti. Tempat tinggal saya, di Mesir ini, persis berada di depan sebuah jalan yang tak pernah sepi. Mengharapkan malam tanpa suara bagi saya serasa tanpa alasan, innosense. Setiap malam, truk-truk kian menderu, mengangkut pasir dari kongsi entah untuk dikirim kemana. Boleh jadi, malam hari — bulan apa dan tanggal berapa pun itu, lebih ramai daripada siang terik.

Lantas bagaimana saya hendak mengimani lailatul qadar?

Malam boleh tak pernah tidur, suara-suara tak pernah mungkin pulang pada sepi, dan “siang dan malam hanya dipisah oleh ingatan”. Namun ketenangan hati, sesuatu yang kadang tak perlu dijelaskan, selalu mampu memberikan bisu itu. Bagi orang awam seperti saya, alangkah susah untuk menemukan ilham “entah apa”, bahwa malam ini adalah malam seribu bulan. Maka perkaranya ialah soal tebak-menebak, seperti isyarat dari Al-Ghazali: “Jika puasa jatuh tanggal sekian, maka lailatul qadar tanggal sekian.” Tapi toh orang awam seyogyanya sadar diri: jika kalian tak tahu persis kapan lailatul qadar, ibadahlah tiap malam. Mungkin, lailatul qadar justru adalah sesuatu yang diciptakan. Mungkin.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.