Guru

: kepada KH. Sa’dullah Dimyathi

“Seolah-olah, ilmu-ilmu yang telah dibumi-hanguskan oleh tentara Mongol, terhimpun kembali di tangan pemuda itu.” Begitulah komentar Usama Sayyid Al-Azhari ketika menceritakan seorang ulama bernama Imam Nawawi. Baghdad runtuh pada tahun 1258 M, dan Imam Nawawi waktu itu masih sangat muda. Dalam keadaan sedih dan kecewa, seseorang bisa melakukan apa saja. Imam Nawawi muda punya pilihan untuk melakukan ‘apa saja’ itu. Ia bisa saja ikut berperang melawan Mongol dan mati syahid, tapi ia tak melakukan itu; yang baginya tentu terlalu beresiko.

Maka ia memilih tak mengangkat senjata, tak mengangkat pedang. Ia lebih memilih mengangkat pena, belajar sambil terus merasa terdorong oleh kekecewaan, oleh kesedihan. Di tengah masa yang berkecamuk itu, lahir seorang ulama yang berkapabilitas tinggi; seorang yang dalam komentar Usama, seolah-olah mampu menyalin kembali buku-buku yang dibakar oleh Mongol; yang menjadikan sungai Tigris menjadi hitam akibat abu dan tinta.

Orang yang bersedih bisa melakukan apa saja. Termasuk menghibur diri. Barangkali kisah di atas, secara garis tebal, tak ada kaitannya dengan berpulangnya guru saya, KH. Sa’dullah Dimyathi. Tapi kau tahu, sekali lagi, orang yang sedih sangat sah untuk mencari cara menghibur diri. Terlebih saya (dan mungkin juga banyak muridnya) tak mampu untuk melayat dan menghadiri persemayaman terakhirnya.

Jika tak terlalu congkak, Imam Nawawi adalah representasi dari apa yang harus dilakukan seorang murid ketika ditinggalkan oleh gurunya: menyalin ilmu-ilmunya. Sebab, telah maklum diketahui dalam hadis: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut dengan serta merta ilmu dari hamba-nya, tapi Dia mencabut ilmu dengan mengambil para ulama”.

Dalam duka, kita tetap ingin berlaku yang semestinya. Tapi seringkali kita memang musti diingatkan oleh kehilangan; bahwa jika bukan kita yang menyalin ilmu para terdahulu kita, apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?

Selamat jalan guru kami, KH. Sa’dullah Dimyathi. Dan buat kita, buat kita yang masih akan lagi menyaksikan banyak kehilangan, saya kutipkan sajak Sitor Situmorang ini: “Kefanaan telah lama dikandungnya/ Tiada indah yang dibiarkan tetap di mata/ Juga tubuhmu yang kupeluk nyata/ Sekali akan bertukar jadi hanya kenangan rasa.” Kita tak mau hanya bertukar kenangan, tapi kita mau menyalin ilmunya, juga teladannya, buat generasi setelah kita; yang kita harap melakukan hal serupa atas kita. []

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.