Kaidah

Dimulai dari membaca MADILOG-nya Tan Malaka, mata saya terbuka satu persatu dari tutup botol kerumitan sains, matematika dan filsafat. Dulu waktu di MA, pelajaran utama yang paling membuat saya jengah adalah matematika. Karena disamping pelajaran itu rumit, saya seperti pobia dengan angka-angka. Melalui penjabaran Malaka, terbukalah — meski beberapa senti, keran otak saya untuk mencoba menalar matematika. Terbukalah pula beberapa sensasi baru dalam ilmu sains yang dulu menyumbang nilai merah pada rapor saya. Salah satunya adalah beberapa hukum fisika Newton dan Einstein. Tapi melampaui hukum itu, saya akan berbicara perihal hukum sebagai hukum, atau kaidah sebagai kaidah; sebelum ada bunyi yang oleh karenanya bisa disebut hukum/kaidah tertentu.

Dalam Bab Science (Lanjutan), Tan Malaka menyebut pentingnya sebuah hukum (Law). Secara sederhana, definisi hukum adalah satu kaidah yang menyusun beberapa bukti yang terpencar. Pentingnya hukum ini berkaitan dengan tindak-lanjut dari suatu penelitian di masa mendatang — yang tentunya berguna bagi perkembangan sains secara umum. Melalui ilmu titen, orang jaman dulu boleh jadi bisa mengetahui kapan datangnya gerhana matahari. Namun karena mereka tidak mempunyai suatu hukum dan hanya mengandalkan ilmu titen, maka perkembangan lebih lanjut mengenai upaya mereka hanya bisa dianggap sebagai bagian dari kegiatan klenik. Padahal, secara normatif, mereka sesungguhnya telah melakukan tindakan ilmiah — buktinya dengan melakukan observasi.

Kita ambil sebuah amsal. Hukum gerakan (law of motion) Newton salah satunya berbunyi: “Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.” Seluruh alam semesta, kata Tan Malaka, akan tunduk kepada hukum ini. Sebab jika tidak, bintang-bintang akan bertubrukan, planet-planet akan berhamburan, dan benda luar angkasa akan saling menghancurkan. Secara sadar, perkataan Malaka memutlakkan hukum ini dan menolak pengecualian yang ada di dalamnya. Bisalah kita menerimanya jika itu dalam ranah fisika sebagai ilmu pasti. Tapi bagaimana jika suatu hukum berlaku di luar masalah fisik, misalnya masalah keintiman cinta, persahabatan, kerohanian, dan gejolak sosial dalam masyarakat? Saya rasa, hukum Relativitas Einstein akan berlaku.

Kita tarik saja sebuah hukum baru untuk menghukumi hukum. Bahwa hukum sebagai hukum, akan berlaku relatif dan tidak mutlak. Hukum sebagai piranti yang belum berbunyi tidak bersifat absolut, sangat longgar. Misalnya, hukum (sebelum berbunyi seperti hukum gerak Newton di atas) sosial tidaklah seabsolut hukum fisika. Kita andaikan saja misalnya ada hukum yang berbunyi: “Seorang yang sedang jatuh cinta akan sering merasa bahagia dibanding dengan orang yang tidak sedang jatuh cinta.” Bisakah hukum semacam ini sesaklek dan seabsolut hukum fisika? Tentu kita punya dalih dan bisa membantah hukum tersebut, sebab yang kita hukumi adalah sesuatu yang bersifat dinamis dan majemuk (‘majemuk’ dengan ‘banyak’ sangat berbeda).

Dalam literatur Islam, kita mengenai Kaidah Fikih (al-qawaid al-fiqhiyyah). Hampir semua kaidah fikih punya pengecualian (mustatsnayat). Dengan arti yang paling jelas: kaidah fikih bersifat general (aghlabiyyah) dan bukan absolut (kuliyyah). Sehingga dari tiap kasus dan keadaan dicarikanlah suatu kaidah yang mampu mewadahi kasus-kasus yang tercerai-berai tersebut. Dalam ilmu logika, pendekatan seperti ini kita kenal dengan teori induktif.

Demi permasalahan yang sangat privatif, saya membayangkan sebuah hukum yang mencakup keadaan diri saya sendiri. Misalnya saja, saya bisa leluasa menciptakan hukum mencintai (law of loving) dengan mengatakan: “Jika setiap benda sudah tidak mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan tanpa ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya, maka aku akan tetap mencintaimu.” [*]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated M.S. Arifin’s story.