Komedi

Ini minggu ketiga ia tampil di salah satu stasiun televisi suasta, mengikuti kompetisi yang sedang populer, Stand Up Comedy, dan tidak seperti biasanya, 25 detik pertama tak ada suara yang berhasil keluar dari mulutnya, sampai beberapa detik selanjutnya dan selalu sama. Lidahnya serasa kelu; ada ludah kecut yang sudah berulang kali ia telan. Pihak produser dan sponsor yang ikut duduk di bangku depan penonton, berkali-kali membenahi posisi duduknya, mereka terlihat was-was. Di menit pertama, akhirnya ia mengucapkan salam: dengan nada paling rendah dan paling tak menggugah, apalagi menimbulkan tawa.

Beberapa hari yang lalu, siapa yang mau tahu, ia ditimpa musibah. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan beruntun yang terjadi di jalan Merdeka. Dua hari yang lalu, kekasihnya memilih untuk meninggalkannya dalam situasi kalut seperti itu, entah karena alasan apa: tak ada dugaan yang keluar dari dasar otaknya. Ia harus menerima itu tanpa mengapa: karena ia sedang tak bisa berpikir sebab kesedihan begitu tirani. Sebenarnya si produser sudah memberikannya ijin untuk tidak tampil pada Show ke tiga ini, tapi ia menolak dan bersikukuh tetap tampil. Diam-diam, ia ingin menyampaikan sesuatu.

“Ayah saya meninggal dan saya diputusin sama pacar.”

Ini kalimat pertamanya. Tak ada penonton yang tertawa, tentu, bahkan satu-dua saja yang sempat tersenyum serentak menahan senyum mereka karena di kanan dan kirinya, semua penonton menunjukkan raut yang hampir seragam: heran! “Saya bersikukuh ingin tampil di depan kalian semua karena pertimbangan profesionalisme. Sekaligus, saya ingin menguji seberapa bisa orang yang sedih menghibur orang yang gembira.” Kemudian ia bercerita panjang lebar; kenangan bersama ayahnya tiba-tiba berloncatan dari ingatannya, meluncur dari bibirnya dan membikin beberapa penonton tampat terisak.

Hampir saja Show-nya ini dipotong dengan sponsor tapi ia buru-buru berkata, “Tolong, hargai omongan saya.” Dan sponsor Yumi yang sudah disiapkan tak jadi diputar. Si produser tampak berkeringat dingin. Dalam hatinya, ia berkata: “Ia harus close mic malam ini!” Beberapa detik kemudian, ia berkata lagi: “Seharusnya, saya tak memberinya wewenang untuk tampil sementara ia dalam keadaan berkabung.” Lagi-lagi, letak duduknya ia benahi. Ia tumpangkan kaki kanannya ke kaki kirinya.

Sampai hampir menit terakhir, tak ada tanda-tanda omongannya akan berakhir. Ia masih bercerita, dengan nada yang semakin mengiris. Penonton sudah terisak, hampir separuhnya tertunduk menahan tangis. Dua menit sudah melewati waktu yang ditentukan, Show itu hampir saja berakhir tragis dan tanpa tawa. Si produser sudah megap-megap menahan emosi. Jika masih terus begini, bisa-bisa tak ada sponsor yang mau ikut. Batinnya. Ia pun mengisyaratkan pembawa acara untuk menyela. Tapi belum sempat pembawa acara melolong dari pinggir panggung untuk menghampiri sang penampil, ia, yang baru berkabung dan nekat ingin show itu buru-buru berkata, nyaris tanpa suara:

“Bukankah kalian semua suka menertawakan penderitaan orang lain?” [*]