Maaf

“Memaafkan adalah memberikan sedikit ruang dalam hati.” — Film Korea

Sokrates mati menenggak racun. Ia difitnah oleh kaum sofis yang ditentangnya karena ajaran-ajaran mereka yang sama sekali tidak filosofis (dalam arti bijak). Seorang Sokrates memaafkan. Ia rela mati demi mempertahankan prinsipnya. Meskipun pada waktu itu murid-murid Sokrates berani menjamin akan mengeluarkannya dari penjara dan membebaskannya dari hukuman, tetapi Sokrates gamang; ia tetap kokoh mempertahankan keyakinan yang digenggamnya.

Barangkali kisah heroik di atas hanya utopia: sebuah kenyataan sejarah yang bijak dalam kertas tapi nihil dalam realitas. Orang yang membaca Sokrates seharusnya tahu dua hal yang berkatian dengan memaafkan: sebab dan sikap. Dua hal inilah yang jangan-jangan sanggup menjamin teraktualisasinya bentuk memaafkan di dalam dunia yang penuh dengan benci ini. Kenyataan itu: kita tentu tahu bagaimana sensitifnya hubungan antar agama dan golongan.

Sebab dari memaafkan bisa digambarkan seperti ini: orang tak mungkin memaafkan tanpa terlebih dahulu menemui sebuah kesalahan yang mengobjek dirinya. Sebab daripada harus memaafkan atau tidak adalah sebab kukuhnya memegang kebenaran. Dalam berbagai literatur sejarah, terlebih mengenai konflik keagamaan, kita tahu objek dari kesalahan selalu saja merasa dirinya benar. Pada masa pemerintahan Abbasiyah, fitnah kemakhlukan al-Quran telah sampai di meja kekuasaan. Keyakinan itu dipeluk oleh sang Khalifah dan dijadikan sebagai dasar keyakinan berjamaah. Mereka meyakini kebenaran kemakhlukan al-Quran dan menghukum siapa saja yang menentangnya. Kita mengenal Abu Hanifah yang akhirnya dipenjara beberapa bulan akibat menentang keyakinan yang ‘dipaksakan’ itu.

Subjek dan objek dalam ilustrasi di atas sama-sama memagang apa yang mereka yakini benar. Dalam pada itu, lantas bagaimana ada dua kebenaran dalam satu hal? Bukan kebenaran yang seharusnya kita persoalkan dalam hal ini, tapi sikap di hadapan kebenaran itu sendiri. Di sini bertaut antara dua hal: keyakinan dan kekuasaan. Kekuasaan sanggup menyingkirkan kebenaran apapun. Kekuatan senjata, bedil, tombak, pedang dll, mampu merubuhkan tubuh seseorang tapi boleh jadi tak mampu menumbangkan keyakinan orang itu.

Dari itulah sikap menjadi penting. Ada dua sikap dalam hal ini. Pertama sikap subjek. Kedua sikap objek. Subjek seharusnya meletakkan sikapnya pada jantung toleransi. Kebenaran siapapun itu, jika tidak dikuasai sikap yang bijak, tentu akan berujung pada kelaliman. Sang Khalifah, ataupun Raja yang berkuasa di era Sokrates, sesungguhnya tak harus menghukumi seseorang atas nama kebenaran yang masih ijtihadi, kebenaran relatif (bukan absolut). Dengan bersikap bijak, sang subjek tak akan salah langkah dalam menghukumi keyakinan dengan fisik.

Yang kedua adalah sikap objek. Kedua contoh sosok yang telah disebutkan di atas mempunyai pilihan dalam bersikap: memaafkan atau membenci. Sokrates bisa saja melarikan diri dari penjara dan menghimpun kekuatan untuk balas dendam. Tapi ia tak melakukannya. Kebenaran kekuasaan tak bisa dilawan dengan kebenaran kekuasaan juga. Dua barang yang sama kerasnya ketika dibenturkan maka salah satunya akan patah. Oleh itu sebabnya, QS. Ali Imran: 159 menegaskan kepada Nabi: “Apabila kamu bersikap keras, niscaya mereka akan lari darimu.” Maka, kebijaksanaan seperti yang dicontohkan oleh Sokrates sangatlah perlu diteladani di zaman di mana umat beragama, seperti kata Gus Mus dalam sajaknya: “Saling cakar berebut benar sambil terus berbuat kesalahan.”

Memaafkan adalah memeberikan sedikit ruang dalam hati. Benar sekali ungkapan itu. Tapi tentu kita tak akan mampu semirip mungkin dengan mereka (yang hebat-hebat itu) yang memaafkan tanpa membenci, memaafkan tanpa pamrih. Setidaknya, kita bisa meniru ungkapan Gus Dur ketika ditanya apakah masih dendam dengan meraka yang melengserkannya dari kursi presiden: “Iya, memaafkan. Tapi kalau lupa, tentu tidak.” [*]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated M.S. Arifin’s story.