Melek

m.kwikku.com

Selama tiga hari yang lalu, Mesir membara. Cuaca panas hampir menyentuh 45 derajat, sampai-sampai digambarkan secara hiperbolik bahwa Mesir itu berada di titik antara matahari dan bumi, ya, berada di Merkurius. Berlebihan memang, tapi siapa saja yang tak pernah merasakan panasnya Mesir secara nyata pasti hanya bisa membayangkan 45 derajat sebagai guyonan yang tidak lucu, semacam meme kadaluarsa. Mesir memang panas, sepanas kata-kata kasar penduduknya, dan sepanas pikiran yang panas melihat diri sendiri berjuang di antara keringat ibu-ibu obesitas dan flek bacin bekas keringat di ketiak tukang-tukang serabutan — ketika bergelantungan di bus kota. Selepas ujian, kemaren, ya, kemaren, saya tancap gas untuk kerja. Panas? Peduli apa jika perut lapar dan butuh diganjal.

Bisa dikatakan saya adalah buruh. Saya bekerja untuk orang lain. Modal saya hanya tenaga, sedikit akal-akalan, dan konsistensi pada bos. Selebihnya, modal ala kapital, saya tidak punya. Sebagai buruh saya menyadari konsekuensi dari “bekerja”; ya, meskipun Mesir sedang panas-panasnya dan meskipun sebenarnya ujian Al-Azhar tak bisa diganggu gugat, saya pun kalah dengan konsekuensi kerja, demi sesuap nasi, begitu hibur saya. Pada posisi yang demikian, sebagai insan, saya sering mengumpat dalam hati kenapa saya bernasib seperti ini atau kenapa saya tidak dianugerahi warisan miliyaran sehingga dengan itu saya tak perlu keliling melayani pelanggan di bawah terik matahari 45 derajat. Namun, umpatan itu redam juga, bersamaan dengan jam-jam kerja itu. Dengan cara? Melihat yang sesama, yang senasib, atau bahkan yang tidak seberuntung saya.

Saya melihat ini ketika itu.

Seorang lelaki tua, bertinggi badan tak lebih dari 150 cm, menggendong seorang pemuda jangkung (yang ketika digendong, kakinya disodorkan ke depan agar tidak “kengsreh”, menyentuh aspal). Pemuda itu, kelihatannya tidak bisa berjalan. Ya, tentu, kalau bisa, jelas ia tak mungkin digendong oleh lelaki tua bertubuh pendek itu. Selain tak bisa berjalan, kelihatannya, maaf, ia mengidap autis. Saya tahu tandanya, dan saya tak akan terangkan bagaimana saya bisa mengatakannya autis. Setelah menggendong entah berapa jauh, lelaki itu semakin dekat dengan saya (yang berdiri di depan pintu Metro), ia dan yang digendongnya, ingin memasuki Metro. Tetapi belum sempat masuk, lelaki tua itu muntah-muntah, benar-benar tepat di hadapan saya. Yang ia muntahkan hanya cairan merah yang diikuti beberapa potongan makanan entah apa. Dengan terbata, ia meletakkan gendongannya di tubir pintu masuk (metronya berada di bawah tanah) dan melanjutkan muntahan yang sempat tertunda.

Saya mengelus dada, membenarkan posisi hati yang tadi bergeser akibat umpatan kepada nasib. Nyatanya, ada yang lebih tak beruntung dibandingkan saya, dan itu bisa saya saksikan secara live tanpa tedeng tanpa aling-aling (misalnya lewat berita tivi atau share-an media sosial). Saya harus bagaimana melihat kenyataan yang demikian? Kesenjangan sosial yang begitu kentara, kelas-kelas sosial yang sangat bertenggat — yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya. Saya baru bisa diam, menata hati, menata bacaan. Jangan-jangan, ada yang salah dengan bacaan saya sebelum ini. Jangan-jangan, saya tak pernah bangga menjadi miskin dan malah menampakkan diri sebagai kelas terpandang. Ada yang salah dari “apa” dan “siapa” yang saya bela dalam tulisan-tulisan saya: ego pribadi atau kepentingan sosial?

Barangkali, bukan urusan lagi can’t subaltern speak, apakah kaum miskin bisa berbicara sendiri tanpa perantara aktivis progresif? GM, dengan mengutip secara ugal-ugalan tendensi Spivak, mungkin akan menjawab negatif. Sungguh tidak penting apakah orang miskin bisa mewakili dirinya dengan kata-kata atau tidak, sebab, sesungguhnya tanpa kata-kata, orang miskin sudah berbicara lantang; lewat keringat, dekil-dekil, dan airmata yang mereka peras tiap hari. Mesir sudah tidak sepanas tiga hari yang lalu, tapi kini hati saya tiba-tiba terus membara, entah dibakar apa. [*]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.