Santri dan Nietzsche

Dibesarkan di lingkungan pesantren, santri membenamkan diri pada satu ajaran baku yang “harus” diterima dengan lapang dada. Seorang santri, bagaimana pun itu, adalah prototipe ajaran agama yang telah diembannya. Baik dan buruknya ajaran, kadang kala, diperlakukan sebagaimana memperlakukan subjek; di mana baik dan buruk seolah esensi ajaran yang tertanam pada kedirian tersebut. Atau ada yang lebih mawas diri; dengan tidak mengaitkan kesucian ajaran dengan perilaku oknum tertentu dari santri yang “melenceng” dari ajaran baku kepesantrenan. Titik temunya, santri — di hadapan kebaruan, menghadapi dilema yang sangat akut.

Tidak seperti santri di hadapan Marxis, santri di hadapan Nietzsche sebagai “pembunuh” tuhan, menurut saya, lebih dari kata rumit. Muhammad Al-Fayyadl pernah menawarkan satu warta tentang dilema santri di hadapan mewahnya ajaran Marxis yang membawa konsekuensi pada kesama-rataan. Di sana, Fayyadl menyebutkan dua kemungkinan jika santri berhadapan dengan Marxis. Pertama, ia memeluk Marxis tanpa syarat; dalam artian, menerima kemerataan ajaran Marxis dan memberontak pada tatanan kehidupan pesantren yang masih berjenjang dan dikotomi kelas. Kelas kiai dipandang sebagai “borjuis” dalam lingkup kapitalisme. Kedua, ia memeluk Marxis tapi dengan menganggapnya sebagai “metode analisis sosial”. Kemungkinan kedua ini mencoba menggabungkan spirit Marxis dengan ajaran pesantren.

Itulah dua gambaran dari kemungkinan yang terjadi jika santri berhadapan dengan Marxis. Menurut saya, permasalahan yang diangkat oleh Fayyadl masih pada tataran horisontal. Santri berhadapan dengan Marxis, pada kemungkinan pertama, adalah masalah kepatutan antar sesama manusia yang menyentuh soal etika sosial. Kesama-rataan yang diinginkan santri Marxisme, adalah dengan menganggap identitas ke-kiai-an tidak perlu dilebih-lebihkan sehingga memunculkan kelas tertentu. Sudut polemiknya belum menyentuh inti ajaran islam sebagai ideologi yang rentan terhadap serangan. Lebih mudahnya, ia masih menyentuh soal etika; hubungan antara masnusia dengan manusia.

Berbeda dengan itu, santri di hadapan Nietzsche memiliki ribuan kemungkinan. Kebanyakan, kemungkinan-kemungkinan ini menyentuh tutik subtil dari ajaran Islam, yakni tauhid; ia lebih bersifat vertikal daripada horisontal. Bagaimanapun, Nietzsche sudah identik dengan “Sang Pembunuh Tuhan”. Mempelajari Nietzsche, bagi santri, adalah sebentuk aleniasi diri; menampar identitas kesantrian yang masih mempercayai adanya Tuhan, kebenaran, dan realitas tertinggi. Di hadapan Nietzsche, santri bisa jadi terpesona dengan kedalaman pemikir soliter itu. Tapi bisa jadi juga, ia akan buru-buru menolak tanpa harus tahu kenapa Zarathustra mewartakan kematian Tuhan. Tanpa harus tahu juga, kenapa kebenaran menjadi tidak penting dan kenapa kita sebagai manusia harus bersikap iya dan tidak sekaligus di hadapan realitas; sikap yang non-naif.

Terlepas dari banyaknya kemungkinan dari sikap santri di hadapan Nietzsche, saya punya tesis yang bisa menjadi opsi; sebuah sikap yang “seharusnya” diambil oleh santri. Di hadapan warta kematian Tuhan, santri jangan buru-buru emosi. Santri harus memahami kenapa Nietzsche, sebagai manusia modern yang hidup di Barat, sungguh-sungguh dan serius menganggap bahwa Tuhan telah mati. Pertama, perlu dipahami bahwa dalam filsafatnya, Nietzsche sering menggunakan metafora. Tuhan di sini, jika ditinjau dari segi metaforis, adalah “pegangan” atau “tumpuan” yang kepadanya manusia berkilah. Berkilah artinya, jika ia ditimpa suatu keburukan, ia selalu mengembalikannya pada perkataan bahwa nanti ada dunia yang lebih baik dan indah dari dunia ini. Berikilah semacam ini, menurut Nietzsche, adalah cerminan manusia budak, manusia lemah.

Kedua, spirit dari ajaran Nietzsche di hadapan kematian “pegangan” tersebut adalah menjadi manusia kuat secara inheren. Nietzsche mengajari bagaimana kita seharusnya menjadi manusia; dengan meng-iya-kan kehidupan dunia sebagai kenyataan yang perlu dihadapi; dengan menjadikan dunia sebagai tempat kita, rumah kita. Jika dibenturkan dengan ajaran Islam, santri bisa mengambil sikap: bahwa ajaran Islam juga menganggap penting kehidupan dunia karena ia adalah tempat menanam benih. Orang yang tidak pernah menanam benih, ia tidak akan pernah memanennya. Ditinjau dari sudut pandang ini, agaknya Nietzsche bisa dipandang sebagai kiai tanpa pesantren. Jika santri bersikap gegabah di hadapan Nietzsche tanpa terlebih dahulu tabayun, sesungguhnya ia masuk ke dalam perkataan Heraklitos: “Anjing menyalaki yang tidak mereka kenali.” [*]

Like what you read? Give M.S. Arifin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.