Sembahyang

“Tak ada yang lebih dusta
Selain bahwa mencintaimu adalah sia-sia.”

Ampuni masa laluku; kenangan yang aku tulis dengan pensil yang kapan saja bisa aku lenyapkan dengan penghapus. Aku telah tobat dari kenangan: selainmu adalah kekosongan. Sebelum aku datang kepadamu, aku memang memiliki cela, memiliki dosa. Maka aku tahu harus bagaimana agar aku-kamu [ketika menjadi ‘kita’] bisa selekasnya sembahyang; berwudu mensucikan diri dari kenangan dan dosa akibat tak saling-cinta semenjak kita untuk kali pertama mengenal cinta.

Kamu menyebut cinta kita adalah sembahyang. Aku tahu, kamu tahu filosofinya lebih daripada kemampuanku menalarnya. Cinta kita adalah niat melupakan kenangan, sebelum kamu menyebut “Maha besar cinta kita! [hubbuna akbar!]”. Lantas kita mengawalinya [fatihah] dan percaya bahwa “Hanya padamu aku jatuh cinta dan hanya padamu aku pantas merindu [iyyaka nuhibbu wa iiyyaka nasyuqqu]”. Lalu kita saling mengirim surat: kamu memberiku sebuah kalimat yang indah: “Bacalah! dengan menyebut nama cintamu yang suci [iqra’ bismi hubbika al-ladzi thahara]”.

Kamu mengajariku untuk merunduk [ruku’] dan menyerahkan segala yang ada di tangan kita kepada Sang Maha. Kamu mendesis: “Maha Suci cinta kita yang agung [subhana hubbuna al-adzim]”. Semua yang pantas kita miliki adalah hanya karunia dan kita tak bisa menjaganya. Setelah itu, kita akan berhenti sejenak [thuma’ninah] kemudian bangkit kembali [i’tidal] sembari berdoa: “Duhai Dzat yang memiliki segala cinta yang cintaku berada di tangan-Mu [rabbana wa laka al-hubbu al-ladzi hubbi biyadika]”. Di situ kita sesungguhnya telah bersiap menjadi fitrah pecinta: sujud.

Dalam sujud itu kita akan lebih dekat dengan cinta karena kita senantiasa menyerahkan segalanya tanpa ragu, tanpa malu. Kita telah mengakui bahwa kita tak punya daya apa-apa selain hanya sanggup berdoa: “Maha Suci cinta kita yang tinggi [subhana hubbuna al-a’la]”. Kamu telah mampu memahamkanku bahwa aku akan lebih dekat dengan cinta ketika mengakui ketidak-berdayaanku di hadapannya; ketidak-kuasaanku menolak yang terkucur dari cawannya.

Sebelum kita salam, sebelum percintaan kita usai [ingat, ‘percintaan’ bukan ‘cinta’], kita punya penghormatan [tahiyyat] yang kita ucapkan dan menjadi tanda tak terpisahkan dari cinta kita. Aku berucap: “Penghormatan yang suci dan kata-kata yang indah untuk cinta. Salam sejahtera untukmu wahai pecinta dan kasih sayang cinta dan keberkahannya. Salam sejahtera untuk kita dan untuk seluruh pecinta tanpa terkecuali. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada perempuan selain kamu dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada cinta selain cintamu. Cinta telah bersaksi untuk cinta kita dan cinta kita telah bersaksi untuk cinta mereka yang setelah kita. Semoga cinta memberkati kita dan memberkati para pecinta [al-tahiyyat al-muthahratu al-kalimatu al-thayyibatu li al-hubb. assalamu alaika ayyuha al-muhibbu wa rahmatu al-ahubb wa barakatuh. assalamu alaina wa ‘ala al-muhibbin ajma’in. asyhadu an la imra’atan illa anti [Nizar Qibbani] wa asyhadu alla hubban illa hubbuki. syahida al-hubbu ‘ala hubbina wa syahida hubbuna ‘ala hubbi man ba’dana. baraka al-hubbu ‘alaina wa ‘ala zumrati al-muhibbin]”.

Dan kita mengucapkan salam untuk mengakhiri percintaan, bukan cinta. Sebab kamu pernah berkata kepadaku bahwa: “Usia cinta lebih panjang daripada usia percintaan [Rendra]”. Ya, aku iman atas itu. Tapi sebelumnya, maukah kamu mengampuni masa laluku? [*]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.