Telat

Tentulah, dibanding beberapa sampel yang saya dapati, saya adalah pembaca yang telat, dan juga tentu penulis (atau pséudo-penulis?) yang terlambat. Dibanding misalnya — yang saya kenal, Linda Christanty dan mayoritas kawan saya di Rumah Budaya Akar, jelas saya kalah start. Bukan. Saya kalah sadar dalam memahami penting dan ya, sungguh pentingnya membaca. Terdapat semacam keirian yang mencuat di benak saya ketika Linda bercerita (dalam sebuah artikel yang dimuat di Pindai berjudul “Dari Hugo hingga Pram”) bahwa sejak sangat dini ia telah membaca buku-buku penting. Atau misalkan, salah satu kawan Akar yang dari kecil telah membaca karya Stephen King dan T.S. Eliot yang bahkan kedua nama itu baru saya kenal beberapa bulan terakhir ini.

Sungguh malang! Saya hampir lupa cara menertawakan kebodohan saya ini. Bukan sebab saking tololnya saya bernalar, tapi saking bebalnya saya sadar. Sekedar flashback (nostalgia?), masa SD saya habiskan dengan banyak bermain daripada banyak membaca. Lebih-lebih, masa itu adalah masa di mana keluarga saya banyak dililit hutang, sehingga saya merangkap sekolah sekaligus belanja kebutuhan warung ibu saya yang kian hari kian melompong. Pada masa ini, kitab yang sering saya baca adalah al-Quran — itupun karena abah saya guru ngaji. Masa SMP tak jauh beda. Masa ini saya pernah sibuk cinta monyet dan pernah bahagia-bahagianya dicomblangin teman dan titip-titipan surat. Suram! Hanya satu buku saja berjudul “Mayat-mayat Merangsang” karya Ali Shahab yang pernah saya baca sampai katam; yang jika Anda tahu bahwa ada halaman-halaman yang berisi tanda kutip telah robek dan hilang tentah kemana. Tentu, Anda akan bisa menebak kenapa saya katam (hehe anak muda masbro!).

Masa SMA adalah masa perlaihan penting. Tak banyak membaca memang, tapi tuntutan ujian yang mengandalkan nalar saya sendiri mendorong bahkan menuntut saya untuk lebih giat membaca, meskipun hanya jika gelombang ujian menerjang. Pada fase ini saya pernah suka buku. Suka saja tanpa membaca (ya, saya pernah suka sekali dengan buku sejarah filsafatnya Bertrand Russel; suka mengelus-elusnya tanpa membaca karena keburu pusing!). Saya pernah menjadi kandidat peraih penghargaan dari perpus pondok gara-gara nama saya terdaftar ke dalam pengunjung yang banyak meminjam buku. Ya, saya ingat betul betapa hanya hitungan jari saya pernah mengatamkan buku. Sungguh, saya miskin bacaan pada waktu itu!

Adalah masa kuliah di IAIN (sekarang UIN) Walisongo jembatan bacaan mulai saya bangun. Di sana saya mulai mengenal beberapa pemikir penting, baik itu dari ranah filsafat, sekularisme, hermeneutika, sejarah, teologi, fikih, tasawuf, dll. Tapi sesungguhnya pada masa itu, saya lebih percaya dosen daripada buku. Pikiran saya masih jumud dan terbelakang. Meskipun Fazlur Rahman dan Hasan Hanafi mulai saya kenal, tapi itu pun sekedar mengikuti selera intelektual yang bergulir di kampus. Selebihnya: saya membaca puisi dan capingnya GM. Sebelum dropout dari kampus, saya sempat membeli banyak buku, salah satunya Tetralogi Buru miliknya Pram. Buku itu masih kinyis-kinyis di rak buku saya di rumah.

Dari pengalaman menyedihkan itu (tentu karena dibandingkan dengan orang lain), saya jadi merasa ada yang ambigu dengan keterlambatan saya. Ambigu? Ya, benar, setidaknya menurut nalar saya. Begini. Bisa dikatakan saya termasuk telat menjadi pembaca tekun jika dilihat dari sudut pandang usia. Betapa jika usia normal orang tak lebih dari seratus tahun, maka — katakanlah seratus, alangkah masa produktif saya habis di seperempat abad ini karena keterlambatan saya menjadi pembaca. Inilah yang menyedihkan! Tetapi saya juga akan menyangkal bahwa saya tidak terlambat jika memakai sudut pandang lain: sesungguhnya, kapan kita pernah memberi tanda batas terhadap ilmu? Bukankah satu buku akan mengantarkan kita ke buku lain dan buku lain itu pun akan mengantarkan kita pada buku lain hingga tiada habisnya? Sampai saya hampir berusia seperempat abad ini, saya belum pernah menemukan tapal batas dari ilmu.

Penalarannya mudah saja kenapa saya jadi merasa ambigu. Kita tidak bisa menetapkan kata ‘telat’ dan membuatnya berlaku kecuali ada batas di mana kita telat. Contohnya, jam masuk kuliah katakanlah jam tujuh. Kemudian dengan seenaknya kita datang jam sembilan. Dengan demikian kita telat dua jam. Keterlambatan bisa diukur dari dan terhadap sesuatu yang bisa dibatasi. Tapi tidak dengan hal yang belum kita temukan batasnya, yakni ilmu. Orang tak pernah bisa dikatakan terlambat ketika mempelajari aritmatika sebelum mempelajari aljabar; atau fisika sebelum biologi; atau geometri sebelum ilmu kalam. Pendeknya: kata ‘telat’ menjadi tidak bekerja (not-working — orang Mesir menyebutnya Mush Syaghal) ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak (atau belum) ada batasnya.

Syahdan, akhirnya, ketahuilah, saat ini saya sangat ingin membaca ulang “Mayat-mayat Merangsang”! Hehe! [*]

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.