Badai Masalah Uber: Dedengkot Unicorn yang Terpaksa Menjadi Kecoa

Cockroach image source: TCMpicturebook.com

Gimana rasanya kalau Anda bekerja atau menjadi mitra dari sebuah perusahaan yang duitnya banyak, terkenal, tapi 6 jabatan pentingnya kosong dan sedang terkena berbagai macam kasus hukum?

Apa yang akan Anda lakukan kalau situasi tersebut diperparah dengan dipaksa mundurnya CEO (dirut) dari perusahaan tersebut padahal satu minggu sebelumnya sang CEO menyatakan bahwa dia hanya cuti sementara?

Kalau menurut saya pilihannya hanya dua:

  1. Bertahan karena perubahan besar ini akan berdampak signifikan
  2. Pergi sesegera mungkin karena ini menandakan detik-detik akhirnya

Kalau saya ada di posisi ini sih jelas ambil nomor 2.

Dari dulu, saya memang merasa ada yang ganjil dari praktek bisnis Uber. Tapi saya belum bisa memahami sebab dari perasaan ganjil tersebut.

Untungnya saya menemukan tulisan hebat tentang Uber di situs Nakedcapitalism yang ditulis oleh Pak Hubert Horan. Dari situ saya mendapatkan banyak sekali wawasan tentang busuknya Uber.

Kenapa dedengkot Unicorn (istilah untuk startup bervaluasi di atas $1 miliar) terpaksa harus bertahan hidup meski kehilangan “kepala”-nya bagaikan Kecoa (istilah untuk startup yang bisnisnya sustainable dan mampu bertahan hidup meski diterjang masalah)?


Rentetan Masalah Uber

Karena banyak, saya daftar satu-satu ya. Silahkan klik tulisan yang bergaris bawah untuk melihat sumbernya langsung:

  1. Kasus pelecehan terhadap pegawai perempuan. Tulisan dari Susan J. Fowler ini adalah pemicu utama dari terungkapnya kebusukan Uber bulan-bulan terakhir ini. Sebenarnya banyak kasus-kasus sebelum ini, namun mereka selalu kalah dengan armada Public Relation (PR), media, dan pengacara Uber.
  2. Mundurnya Presiden Uber yang baru masuk 6 bulan. Ini baru satu contoh, karena sebenarnya banyak sekali petinggi Uber yang sudah mundur atau dipaksa mundur dalam bulan-bulan terakhir ini. Untuk daftar yang lebih lengkapnya ada di tautan berikut
  3. Komentar pedas CEO terhadap keluhan driver. Sebagai driver yang merasa dirugikan, kalau kita mendapat kesempatan bertemu CEO Uber pasti kita mengajukan komplain, iya kan? Harapannya tentu agar mendapatkan tanggapan yang solutif. Tapi bukan itu yang didapatkan oleh Pak Fawzi Kamel. Untungnya, dia rekam itu semua di video.
  4. Tuduhan pencurian teknologi self-driving car dari Google. Anthony Levandowski adalah mantan pegawai Google di bidang self-driving car (mobil tanpa sopir). Ia membangun sebuah startup self-driving car bernama Otto. Lucunya, sekitar 6 bulan dari Otto didirikan, Otto dibeli oleh Uber sepaket dengan Mas Anthony dan timnya. Google curiga dan ngajak ribut di meja hijau.
  5. Aplikasi anti penegak hukum. Di beberapa kota di US Uber dilarang beroperasi, tapi dia tetep ngotot. Aparat penegak hukum mencoba menangkap Uber dengan berpura-pura menjadi konsumen. Liciknya Uber, mereka punya sistem bernama Greyball yang bisa mendeteksi aparat sekaligus mengelabui mereka.
  6. Gugatan driver terhadap klasifikasi pekerja lepas vs pegawai. Salah satu kekuatan utama Uber adalah driver tidak dianggap pegawai tetapi pekerja lepas. Padahal kontrol Uber terhadap driver sangatlah tinggi. Tak heran kalau para driver mengajukan gugatan di pengadilan. Sementara ini, kemenangan ada di pihak driver.

Enam hal di atas hanya sekelumit dari masalah yang Uber hadapi. Kalau Anda perhatikan, enam masalah di atas hampir semuanya di US, iya kan? Apakah ini berarti masalah Uber cuma ada di US? Woh, jelas tidak. Di seluruh dunia dia bermasalah kok.

Banyak, di mana-mana ada. Sumber: taxi-deutschland.net

Saking parahnya kelakuan Uber, di twitter sempat muncul hashtag #deleteUber yang dua kali masuk ke dalam trending topic. Pertama karena dia “mengganggu” unjuk rasa penolakan kebijakan travel ban dari Presiden Trump, dan kedua karena tulisan Susan J. Fowler yang sudah disebutkan di atas. Dari kejadian ini sekitar 500.000 pengguna Uber menghapus akunnya.

Ingin mengetahui sejarah ringkas Uber sekaligus dengan berbagai permasalahannya? Monggo kunjungi link berikut.

Budaya Busuk tapi Membawa Berkah

Sumber utama dari masalah-masalah Uber sebenarnya bisa dilihat dari tipe masalah-masalah yang dia hadapi. Hampir semua masalah yang dia hadapi disebabkan oleh gaya bisnis ekspansif dan agresif yang seringkali tidak etis atau bahkan ilegal. Gaya bisnis ini didasari oleh budaya perusahaan Uber itu sendiri.

Budaya kasar, keras, dan seakan-akan mereka berada di luar hukum ini memang busuk. Tapi hal ini selaras dengan hyper-growth, pertumbuhan yang super cepat, suatu hal yang sangat di-dewa-kan di Silicon Valley (SV). Mahzab utama SV-kan memang growth, pertumbuhan. Seakan-akan segalanya benar dan boleh asal perusahaan bertumbuh sekencang-kencangnya.

Founder dan CEO Uber, Travis Kalanick, dipaksa mundur oleh lima komisaris (Board Member) dengan alasan agar budaya perusahaan bisa diubah dengan drastis. Langkah ini sesuai dengan rekomendasi dari mantan Attorney General (setara Jaksa Agung) Eric Holder yang ditugaskan untuk menganalisis internal perusahaan Uber.

Lucu juga, kenapa langkah ini baru dilakukan sekarang? Kenapa enggak dari dulu? Saya sepakat dengan beberapa artikel yang menyatakan bahwa ini hanyalah aksi pencitraan agar Uber terlihat serius mengubah budayanya.

But let’s not kid ourselves. Kalanick didn’t get the boot because Uber’s board had some ethical epiphany. They presided over his misdeeds for years. Fat, golden years steered by toxic leadership and fueled by depraved acts. — DHH

Para investor dari venture capitalist (VC) yang terkait dengan Uber sebenarnya cuma kepepet. Mereka kalang-kabut karena khawatir duit yang udah terlanjur dikucurkan ga bakal bisa balik dengan nilai yang lebih tinggi.

Tahu berapa dana yang sudah digelontorkan? $12,9 miliar. Kalau dirupiahkan ia setara dengan Rp172 triliun, lebih besar dari APBD 2017 seluruh provinsi di Pulau Jawa! Bayangin, duit yang bisa dipakai untuk ngurus satu pulau di Indonesia selama satu tahun hanya dipakai buat satu perusahaan, Uber.

Usaha merubah budaya ini sebenarnya bakal mematikan Uber sendiri. Pertumbuhan gila-gilaan (hyper-growth) yang ia rasakan adalah dampak langsung dari gaya grusa-grusu dan arogan yang Uber punya. Kalau Uber mau diubah budayanya menjadi perusahaan yang lebih empatis, humanis, dan is-is lain yang lebih baik, yakinlah bahwa Uber tidak akan bisa memenuhi harapan para investornya.

Kenapa? Karena jika Uber melembek, ia tidak akan berkembang secepat dan sebesar ini. Dia tetap bisa menjadi perusahaan besar, namun ia tidak akan bernilai sebesar $70 miliar seperti yang ia miliki sekarang.

Uber Sebagai Pelajaran bagi Silicon Valley

Setelah membaca tulisan di atas, saya yakin Anda merasa seakan-akan saya ini benci teknologi, inovasi, dan SV. Enggak kok, realitanya saya adalah lulusan jurusan yang berbasis IT, membangun usaha di bidang teknologi, dan juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan startup di Indonesia.

Apa yang saya tidak suka adalah praktek bisnis yang tidak berkelanjutan (unsustainable), tidak sehat, dan mematikan (predatory). Jujur saja, pasti banyak orang yang menggunakan layanan Uber dan perusahaan transportasi online (TO) lainnya karena mereka murah kan? Karena promonya?

Tahu ga sih dari mana duit promo itu? Ya dari duit investor, VC. Tujuannya jelas, yaitu ekspansi secepat-cepatnya dan mematikan bisnis lain. Kalau bisnis lain sudah mati, harganya bisa dimainkan seenaknya.

Sehingga bukan kuat-kuatan model bisnis yang menjadi tren, namun justru kuat-kuatan uang. Siapa yang punya uang lebih banyak maka dia yang menang. Ini adalah titik puncak dari semangat kapitalisme.

Padahal kenyataannya uang yang banyak belum tentu menang. Tulisan kejatuhan Sevel dan Kaskus yang viral baru-baru ini membuktikan hal tersebut. Kaskus dimiliki oleh GDP Ventures, VC-nya Grup Djarum. GDP dikenal di dunia startup Indonesia sebagai VC yang duitnya banyak bener, ga bakal habis-habis. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang dengan Kaskus? Founder dan mantan CEO-nya juga sudah pergi dari lama.

Budaya “growth is the highest god” ini sangat merusak. Seakan-akan kalau tidak punya usaha startup level unicorn maka ia adalah orang yang cupu dan gagal. Hal inilah yang membuat orang-orang tergoda dengan pendanaan investor dan valuasi perusahaan.

Jason Fried (founder & CEO) dan DHH (founder & CTO) dari Basecamp adalah beberapa tokoh di dunia startup yang memegang mahzab berlawanan dari unicorn2-an dan hypergrowth2-an. Mereka sering membuat tulisan yang menyindir para startup yang gila valuasi dan gila growth. Salah satu satir yang menarik adalah tulisan Jason tentang valuasi Basecamp yang mencapai $100 miliar karena investasi $1.

Banyak tulisan dari kawan-kawan di Basecamp yang menarik, buka aja publikasi mereka yang bernama Signal v. Noise. Beda banget dengan gembar-gembor startup yang ada di media mainstream.


Apa sih Inovasi Uber?

Hingga saat ini saya sebenarnya masih bingung, inovasi Uber itu apa. Bedanya dia dengan perusahaan taksi biasa itu cuma sedikit. Dia hanya upgrade dari radio, telpon, dan socmed menjadi aplikasi di smartphone.

Ga percaya? Lha kalo emang susah banget bikin app macam Uber, kenapa hampir di tiap negara yang Uber masuki selalu ada perusahaan sejenis yang menguasai pasar lokal terlebih dahulu? Gojek di Indonesia, Grab di Singapura, Ola di India, Didi Chuxing di China (Didi menang melawan Uber), Easy Taxi di Brazil, dan masih banyak lagi.

Yang warna hitam bertahan sampai kapan ya? (sumber: Similarweb.com)

Peta di atas memperkuat argumen bahwa Uber itu super arogan dan serakah, karena dia begitu bernafsu untuk ekspansi ke segala penjuru dunia. Kalau mau monopoli macam ini, ya jelas investasinya jor-joran. Tapi apakah ini bisa dibilang inovasi?

Inovasi dia yang paling hebat justru dari segi “melawan hukum”. Dia bisa menambah begitu banyak mobil dan driver dalam waktu dekat karena Uber tidak perlu menyiapkan modal untuk beli mobil, perizinan ke pemerintah, cek emisi, dll. (walaupun “penemu” inovasi ini sebenarnya Lyft, tapi Uber yang paling ganas dalam mengimplementasikannya).

Demi melawan hukum yang merugikan dirinya, Uber rela mengeluarkan kocek yang tidak sedikit untuk merekrut lobbyist dan tim pengacara. Contohnya di Las Vegas, Uber bahkan merekrut lebih banyak lobbyist daripada asosiasi pengusaha kasino demi mendapatkan aturan yang ia mau.

Kalau mau ngomong hebat-hebatan inovasi yo jelas hebat Gojek. Walaupun dasar teknologinya sama, (Grab dan Uber juga sekarang sudah bisa pesan sepeda motor) tetapi yang mengawali pesan transportasi roda-2 secara online itu ya Gojek.

Sebelum Gojek ada, satu-satunya cara mendapatkan ojek adalah datang ke pangkalan. Kalau pesanan-nya rutin, bisa langganan. Sistem ini tidak bisa berjalan dalam level kota karena tidak semua tempat ada pangkalan dan menyimpan nomor ojek tiap pangkalan tentu tidak efisien.

Begitu ada aplikasi mobile Gojek, barulah kita bisa memesan transportasi roda-2 dari manapun dan kapanpun. Loncatan inovasinya drastis, dia mampu menghimpun ojek-ojek yang terpisah-pisah dan sangat lokal menjadi kekuatan berlevel kota.

Para pengusaha angkutan umum juga sebenarnya salah, mereka telat berubah. Sekarang Bluebird joinan ama Gocar, Express joinan sama Uber, sopir taksi secara pribadi joinan sama Grabtaxi (sumber). Padahal kalau para perusahaan taksi mau bekerjasama dengan cara membuat aplikasi taksi se-kota yang mereka miliki bersama, wah pasti tokcer.

Para tukang ojek juga harus mulai ancang-ancang. Meski sekarang sudah cukup senang dengan Gojek dan Grab, tapi kalau konflik terus dengan perusahaan artinya mereka ini sebenarnya suaranya kurang didengar.

Seharusnya para driver ojek online punya aplikasi mereka sendiri ya, jadi aturannya bisa diatur oleh mereka sendiri, macam koperasi gitu. (tunggu tulisan tentang ini ya, haha)


Diversifikasi Uber

Melihat analisis ekonomi Uber oleh Pak Hubert Horan di situs Naked Capitalism, sebenarnya tidak aneh kalau Uber ingin merambah ke ranah self-driving car sampai rela mengucurkan dana sebesar $680 juta dan mengambil risiko dengan membeli Otto yang bermasalah dengan Google.

Dapat dilihat bahwa biaya driver merupakan presentase yang sangat besar dalam struktur biaya Uber. Maka menjadi langkah yang logis ketika Uber berusaha jor-joran riset ke arah self-driving car.

Uber pingin ngilangin driver, biar murah. Sumber: NakedCapitalism

Tapi satu hal yang perlu diingat adalah implementasi nyata dari self-driving car yang benar-benar tanpa sopir masih sangat amat jauh. Google dan Tesla yang sudah riset dari lama pun sampai sekarang masih belum berani mengimplementasikannya secara 100% full tanpa sopir di jalanan umum.

Belum lagi masalah peraturan dan legalitas terkait self-driving car. Dilema moral seperti kalau ada kecelakaan siapa yang disalahkan? Kalau ada kerusakan siapa yang harus tanggung jawab? Kalau dia melanggar aturan, siapa yang harus membayar denda dan dihukum? Banyak sekali kerumitan yang akan muncul dan ini tidak akan selesai dengan cepat.

Secara model bisnis pun ini menimbulkan masalah yang besar. Kalau driver hilang dari ekosistem Uber, siapa yang menjadi pemilik mobil-mobil self-driving itu? Mengajak orang untuk membeli self-driving car? Membuat mobil biasa menjadi self-driving dengan tambahan alat? Seberapa mahal uang yang dibutuhkan?

Kalau Uber yang membeli mobil-mobilnya sendiri, keunggulan utama Uber yang tidak memiliki aset akan hancur dengan segera. Modal yang dibutuhkan akan menjadi jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Langkah-langkah Uber ke arah self-driving car ini sangat terburu-buru, tidak feasible, dan hanya bagian dari propaganda bahwa Uber ini perusahaan yang paling maju dan ciamik di bidang transportasi.

Propaganda Gila-gilaan Uber

Sebenarnya bukan cuma di US, di Indonesia pun kita terlena dengan propaganda Uber yang menonjolkan kemudahan dan harga murah bagi konsumen serta kebebasan dan pendapatan tinggi bagi mitranya.

Promosi driver Uber di FB, yang ditonjolkan selalu kebebasan dan pendapatan. Apakah benar begitu?

Propagandanya begitu sukses karena ketika angkot dan taksi protes, kita semua sepakat buat mendamprat mereka. Kita anggap mereka ketinggalan zaman, egois, dan tidak mau berkembang. Pernyataan tersebut ada benarnya, namun perlu diperhatikan apakah opini kita benar murni atau sudah terpengaruh oleh Uber dkk?

Padahal sebenarnya para driver dan owner (baca: partner) itu dibunuh pelan-pelan oleh Uber. Di US saja turn-over rate driver Uber dalam 12 bulan mencapai 96%. Artinya, dalam waktu satu tahun hanya ada 4% driver Uber yang bertahan. Ini artinya bagus apa jelek? Artinya para partner Uber sejahtera atau tidak?

Siapa yang Paling Dirugikan?

Kalau Uber hancur, kira-kira yang paling rugi siapa? Investornya? Secara angka uang mungkin iya. Tapi namanya juga investasi, jadi mereka harus siap dengan konsekuensi dong. Lagipula mereka kan orang-orang kaya, jadi hidupnya ga bakal terpengaruh-terpengaruh amat.

Pegawainya? Jelas mereka susah karena kehilangan pekerjaan. Tapi kalau orang bisa masuk Uber maka bisa diperkirakan bahwa mereka punya kemampuan yang hebat, jadi cari kerja lagi seharusnya tidak sulit.

Konsumen? Yaelah, gampang banget buat konsumen. Ada Grab, ada Gocar, tinggal download app-nya maka masalah selesai.

Namun, sekarang coba bayangkan posisi partner Uber di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Owner banyak yang mengambil kredit mobil karena teriming-iming pendapatan besar jangka panjang. Driver Uber banyak yang resign dari pekerjaannya demi meraup untung lewat Uber.

Googling-lah barang sebentar dan Anda akan banyak menemukan kisah-kisah driver yang harus tidur di mobil, jarang pulang, dan berjuang di jalanan berjam-jam demi memenuhi target.

“Kerja sesuai ritme Anda, semau Anda” hanya slogan kosong. Yang menentukan aturan itu perusahaan, si Uber, driver dan owner hanya bisa mengikuti. Protes belum tentu didengar, kecuali mereka menghimpun masa sampai demo atau menuntut di pengadilan.

Solusi Sementara

Walaupun masalah-masalah tersebut ada di luar negeri, tetapi ketika pengaruhnya begitu besar, ya nanti lama-lama Uber bisa mati. Kalau mati di US ya mati di mana pun juga, termasuk di Indonesia.

Saya bukan siapa-siapanya Uber, Gojek, maupun Grab, jadi solusi yang terpikirkan oleh saya bukan untuk si perusahaan tetapi untuk para partner Uber, yaitu driver dan owner:

  1. Bagi yang berbasis roda-4, segera daftarkan diri Anda ke Grab atau Gocar, karena setahu saya kalau roda-4 bisa-bisa saja dobel aplikasi.
  2. Bagi yang berbasis roda-2, segera cari info cara mendaftar ke Gojek (G1) atau Grab (G2) agar bisa pindah dengan mulus ketika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan. Kalau mau lebih ekstrim sekarang juga langsung angkat kaki dari Uber dan pindah ke G1 maupun G2.

Khusus untuk konsumen, kalau sepengetahuan saya kita-kita ini tidak loyal ke apps tertentu, semua tergantung promo. Jadi pragmatis saja, pakai yang mana juga boleh selama masih untung.

Saya sendiri sekarang cuma pakai Gojek saja, karena Grab saya error dan Uber sudah saya hapus sejak lama, haha.


Referensi Lanjutan

Sumber utama dari tulisan saya ini adalah seri dari Naked Capitalism yang membahas dengan detail tentang Uber dari segala aspeknya. Kalau yang ingin mempelajari lebih lanjut silahkan buka tautan berikut, ada 10 bagian: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4, Bagian 5, Bagian 6, Bagian 7, Bagian 8, Bagian 9 dan Bagian 10.

Kalau kerasa kepanjangan, baca saja dulu dari Bagian 10, ini semacam rekapan tulisan-tulisan sebelumnya.


Terima kasih :)

Mohon komentar dan tanggapannya ya!

Jika Anda suka tulisan ini, jangan lupa klik clap (lambang tepuk tangan) sebanyak-banyaknya dan sebarkan pada kawan-kawan Anda.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.