Tsamara dan Wajah Generasi Politik Termutakhir
Mungkin masih hangat di ingatan publik perseteruan antara Tsamara Amany dan Fahri Hamzah yang berlangsung di jagad dunia maya. Tsamara Amany adalah seorang perempuan politik muda yang baru berkecimpung di dunia politik bersama partai baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sedangkan Fahri Hamzah adalah politikus ulung yang sudah berkarir di parlemen selama belasan tahun.
Perdebatan yang terjadi dunia maya itu bermula dari kicauan kontroversial Fahri Hamzah di Twitter. Fahri Hamzah berkicau mengenai beberapa macam hal terkait pansus KPK dan kebobrokan yang tengah melanda institusi tersebut. Lalu, Tsamara Amany memberikan tanggapan sembari menyatakan bahwa Fahri Hamzah sedang dalam kondisi sesat fikir.
Kiprah Tsamara tersebut diapresiasi postif oleh warga dunia maya. Ia dianggap berani melawan Fahri Hamzah yang merupakan pimpinan parlemen, politikus berpengalaman, dan dicap sebagai antagonis dalam drama politik di Indonesia. Respon positif pun membanjiri personal Tsamara Amany. Ia jadi begitu dielu-elukan di dunia maya.
Namun, di balik euforia munculnya sosok segar di dunia politik itu, telah menyeruak begitu jelas kiprah dari wajah politik generasi millenial. Kejadian ini pula menjadi representasi bagaimana dua generasi politik beradu dalam dunia yang semu samar (Maya).
Tsamara boleh saja mendakwa Fahri dengan gamblang kalau ia berfikir dengan sesat. Namun kalau kita menelisik lebih lanjut, teranglah alasan kalau ia menyerang Fahri. Tsamara merupakan perempuan politik dari PSI, Partai yang mendukung pemerintahan. Sedangkan Fahri adalah politikus oposisi. Jadi, sebenarnya jelas bagaimana kemudian dinamika ini terjadi.
Namun, dakwaan sesat yang dilontarkan Tsamara tak lebih dari sebuah metode perdebatan yang menyerang pada sebuah penolakan langsung.Dakwaan tanpa mengetahui konteks pembahasan, posisi, dan kapasitas lawan hanya akan berakhir menjadi sebatas retorika dan nir-makna.
Dan dari sini pun kemudian terlihat jelas, bagaimana rupa, wujud, dan habitus dari para lakon-lakon politik di dunia maya. Yang mana pada dunia ini, sebagian besar dihuni oleh generasi millenial.
Ciri Ciri
Generasi Millenial besar dan berproses dalam corak yang serba praktis. Lingkungan digital adalah salah satu di antara corak-corak itu. Mereka dimanjakan dengan hal-hal yang terintegrasi pada dunia digital. Segala macam pesan pun kini dengan mudahnya dapat tersampaikan, termasuk pesan politik.
Pada dunia maya, kini muncul politikus-politikus baru. Politikus ini lahir dari keberlimpahan informasi. Informasi-informasi itu bertebaran dan muncul lewat medium-medium baru yang tercipta dari waktu ke waktu.
Dalam dunia maya pula, dinamika politik jadi lebih trengginas, panas, dan tentunya juga lebih gaduh. Sebelum adanya UU ITE, tak ada batasan untuk melontarkan ucapan. Dan ini bukanlah iklim yang baik untuk mengenalkan dunia politik kepada publik.
Karakter-karakter yang tercipta dari iklim tersebut adalah karakter yang kemudian menjauh dari apa yang bersifat arif. Karakter pada dunia maya memungkinkan pengguna salah satu mediumnya dapat menyampaikan segala gundah gelisah.
Segala gelak tawa, emosi, dan bentuk ungkapan lainnya dengan mudah meluncur di dunia maya. Bentuk tuduhan pun juga dapat gampang melayang di dunia serba dinamis ini. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Tsamara Amany dengan menuduh Fahri telah berlaku sesat fikir.
Politikus baru pun seperti yang pernah diungkapkan oleh sutradara kenamaan Garin Nugroho, menjadi serba paradoks. Dalam satu sisi, politikus dunia maya akan membentuk lahirnya politikus yang serba otentik. Akan tetapi di satu sisi, mereka akan menjadi serba maya. Menjadi apa yang telah ditampilkan oleh dunia maya, gaduh.
Dalam hal ini, kepopuleran akan dengan mudah dapat direngkuh. Namun kejatuhan juga berlangsung dengan cepat. Dinamika yang berlangsung dengan kejam, dan cepat, akan jadi salah satu momok dari politikus-politikus era dunia maya ini.
Membaca dan Berfikir
Saat ini, melihat begitu banyaknya politikus penuh dengan omong kosong, kita jadi memimpikan sosok yang arif, bijak, dan bersahaja. Hal ini seringkali dianggap bagai utopia belaka. Tetapi tanpa harus pesimistis pada keadaan, sebenarnya kita dapat menghasilkan figur-figur yang diimpikan itu.
Figur-figur yang didambakan ini dapat diproduksi dengan cara membaca dan berfikir dengan baik. Era dunia maya memberikan modal yang cukup untuk memproduksi politikus yang handal. Informasi yang meruah dengan hebat dari dunia ini menyuguhkan beragam macam modal untuk diolah oleh para calon politikus muda.
Namun untuk menjadi politikus yang kritis, bersahaja, konsisten, serta tidak mudah memutlakkan sesuatu kita memerlukan lebih dari sekedar membaca dari dunia maya. Kita perlu membaca dari sumber primer, sekunder, dan juga tentunya mengkritisi dari sumber lain.
Era dunia maya memberikan keleluasaan penuh kepada setiap orang untuk rutin membaca dan memelihara aksara. Tinggal kemudian, bagaimana para pemain ini dapat memungut modal itu jadi sebuah medan latihan untuk berfikir secara komprehensif, tidak gaduh, dan tentunya, tidak sesaat pula.
Dunia serba digital telah memberikan seturut yang diungkapkan Dennis Baron (2001) memutus kesabaran manusia dalam berfikir melalui aktivitas literasi. Sekarang ini para generasi penghuni dunia maya perlu adanya rasa untuk menahan diri. Rasa itu berupa seperti kontemplasi memecahkan masalah agar problematika terpecahkan tidak disertai keriuhan.
Keriuhan akan memancing sebuah kegelisahan. Kondusivitas dalam dinamika politik pun sebenarnya yang jadi hal yang paling dibutuhkan. Generasi millenial membutuhkan figur yang bukan sebatas pintar saja, tapi juga sanggup memainkan peran selaku pengendali suasana, bukan perusak suasana.
Generasi politik muda tak harus bersikap seperti pendahulu-pendahulunya. Tidak perlu menjadi epigon sebagai penceloteh, dan meniru jadi tukang tuduh sana-sini. Yang diperlukan adalah sebuah ketelatenan dalam berfikir, kesabaran dalam berliterasi, dan kebersahajaan dalam bersikap.