Yang Nyaris dan Berujung Manis

Taufik Nandito
Aug 25, 2017 · 3 min read

Judul : O

Penulis : Eka Kurniawan

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 468

Cetakan : II

Pengarang novel melulu berupaya untuk menemukan bentuk terbaik dari anak rohaninya. Mereka terus mencari-cari bagaimana gagasan, ide, maupun tumpahan kegelisahannya dapat tersampaikan dengan baik. Banyak pengarang melakukan hal ini, tak terkecuali seorang Eka Kurniawan.

Bagi saya Eka Kurniawan adalah seorang penulis yang profilik. Ia mempunyai ciri khas yang sangat kuat di mata pembaca sastra di indonesia. Ciri khas itu dapat dilihat dalam karya prosa panjangnya yang kedua, Lelaki Harimau. Di novel itu, tampak jelas bagaimana pengaruh-pengaruh penulis luar negeri termakhtub dan melebur dalam lokalitas yang diciptanya. Dan itulah corak khas dari Eka Kurniawan yang menjungkirbalikkan pemahaman puncak karya pada dunia sastra kita.

Di novelnya yang ketiga, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, kita akan menemukan pembacaan tempo cepat yang diciptakan penuh gaya oleh Eka. Eka memang sengaja membubuhkan tempo cepat dengan dalih untuk menyesuaikan gaya hidup masa kini yang serba cepat. Respon pembaca pun sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga novel ini, meskipun tak semeledak novel sebelumnya tetaplah dapat dibilang sebagai salah satu karya sukses Eka Kurniawan. Begitulah kiranya bagaimana hasil kontemplasi pengarang membuahkan bentuk-bentuk baru bagi karya-karyanya.

Dan di novelnya yang keempat ini, kita akan menemukan buah dari eksperimentasi Eka yang termutakhir. O, begitu judul yang tertera pada sampul buku terbaru Eka. Judulnya kelewat simpel, namun isinya memuat hal yang sebaliknya. O menceritakan hal yang sama sekali tidak sepele. Di buku ini, Eka kembali menulis dengan subyek yang konsisten ia angkat, tentang orang-orang pinggiran. Dan dengan keliahaiannya ia dapat mengolahnya menjadi cerita yang tidak dapat dilewatkan begitu saja.

Dalam O, terdapat beraneka tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Eka. Tokoh-tokoh itu merupakan karakterisasi yang berangkat dari barisan masyarakat kelas bawah pada struktur ekonomi masyarakat. Mulai dari pengemis, waria, pemulung, juragan topeng monyet, hingga preman pemburu anjing. Semua tokohnya itu rata-rata memilik kesamaan, mereka semua mempunyai hasrat terpendam agar dapat mendaki tangga dalam stratifikasi sosial lingkungannya.

Dan dalam proses mobilitas sosial itu terbubuh pula bagaimana motif itu bertolak dari dendam, nafsu, dan gejolak-gejolak jiwa yang menggerakkan akibat narasi masa lalu yang terpendam-dalam pada lapisan ingatan mereka. Mereka semua tergambarkan dalam O, sebagai orang-orang yang terpekur tak berdaya dalam rantai ekonomi yang mengikat. Dan mobilitas pun jadi sebatas hasrat saja.

O, sebagai medium penyampai gagasan Eka Kurniawan sepertinya berperan dengan optimal. Banyak lelucon-lelucon satir beroperasi dalam dialog tokoh-tokohnya dan nampak jelas dalam pembacaan. Semisal, dalam salah satu dialog yang menampilkan ejekan terhadap Persija, ”Untuk apa kau teru-terusan mendukung persija, Persija tak pernah menang,” atau bumbu humor pada dialog si burung Beo selalu meneriakkan ajakan untuk sembahyang padahal sendirinya tak pernah sholat, ”Marilah kita sholat, marilah kita sholat,”

Tak berhenti sampai pada dialog-dialog jenaka itu, dalam O masih berceceran humor-humor yang menyindir, menyentuh, ataupun sekedar menggelakkan tawa. O pun ibarat suara kedua dari Eka Kurniawan. Jika kita sedikit mengintip profil dari Eka Kurniawan, mungkin sebagian dari pembaca akan paham, bahwa dialog-dialog dalam O seperti merepetisi apa yang pernah kita ketahui sebelumnya tentang si penulis. Dalam subjektif saya, buku O nyaris serupa dengan novel-novel moralis khas eropa klasik, namun dengan metode, gaya, dan penceritaan yang lebih fresh, segar, dan tentunya jenaka.

Untuk bagian narator sendiri, Eka berkomitmen untuk meletakkan sudut pandang orang ketiga sebagai narator yang tidak menjadi serba tau dan serba berkotbah. Meskipun plot dan alur-alurnya sengaja dipecah-pecah menjadi penggalan demi penggalan. Namun narator dan bangunan cerita dibuat kokoh dan cukup baik sehingga ketebalan dan kekompleksan cerita dapat dilahap dengan khidmat oleh pembaca.

Dari celah ke celah dalam novel ini kemudian tergambar dalam pernyataan Eka yang pernah mengeluarkan statement bahwa O adalah novelnya yang nyaris berstatus gagal. Eka menulis O selama delapan tahun lamanya. Ia sendiri mengakui lebih mengandalkan penulisan ulang, dan tak begitu mengindahkan kerangka penulisan. Itu terbilang riskan bagi penulis yang mengandalkan naluri dan berupaya mengomplekskan karyanya. Sehingga ketika kita sedikit terbenging-bengong saat membaca O yang dipenuhi dengan adegan absurd,kita dapat mafhum, bahwa ini seperti karya yang nyaris gagal, dan terselamatkan karena keliahan dan pengalamannya sebagai penulis.

Akan tetapi aksi penyelamatan yang dilakukan oleh Eka, tak serta merta hanya mengangkat O ke dalam derajat novel yang layak baca belaka. Eka memoles, memperbaiki, dan merias O menjadi sebuah novel dengan bentuk, narasi, dan cerita yang tak lazim, dan sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi mereka yang ingin berjumpa dengan sastra.

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade