Kambing Cup

Beberapa dari kita mengharapkan untuk segera mengakhiri jam kerja dan segera mengemasi bawaan. Sebenarnya bukan segera pulang yang ditunggu. Melainkan selesainya kewajiban menatap pekerjaan yang itu-itu saja. Lewat jam kerja kewajiban selesai. Obrolan ringan antar rekan masih saja mengalir bahkan sampai menyeduh kembali kopi yang sudah tandas siang tadi. Membicarakan hal remeh temeh politik, hasil skor sepakbola timnas. hingga seputar problema rumah tangga. untuk yang terakhir saya lebih diam. Ya tentu saja karena saya belum berumahtangga.

Kambing Cup. Sebuah kompetisi yang pernah viral di kecamatan kami. Ketika sepakbola tarkam masih merajai kampung dan perumnas. saat sepatu bola-yang ada pulnya-menjadi babak akhir dari sebuah perjalanan celengan. Saat maghrib dipenuhi keringat dan daki debu.

Kambing Cup. Kompetisi antar RW yang jelas kita tahu dari namanya. memperebutkan kambing bagi yang mampu menjuarainya. Kambing yang nantinya menjadi santapan lezat nan massal diluar hari raya idul adha. Adanya salah satu warga yang tergabung PSIS junior merupakan anugerah yang tak ternilai harganya.

Sebuah kompetisi yang sarat perjuangan atas harga diri kampung. Tentang anak-anak libur mengaji, bapak-bapak menyulut rokok, ibu-ibu yang makin sering teriak “pulang” dan tentu, melahirkan musuh bebuyutan baru.

Sekarang. Atau entah kapan Kambing Cup terakhir dilaksanakan. Pamor sepakbola tarkam kian meredup tergantikan oleh sepakbola dengan lapangan yang lebih mini dengan sepatu tanpa “pul”.

Di era yang kian tertunduk, butir-butir byte menggantikan produksi keringat. Kompetisi tak pernah sedekil dahulu.

Kambing Cup adalah sekedar memori masa lalu. Menjadi stok cerita yang akan terus kita ulang-ulang lagi dan lagi. Mengingatkan kepada anak-anak kami kelak bahwa sepakbola pernah merasuk hingga ke sendi-sendi terbawah di tanah kelahirannya.

Tabik!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.