Let me tell you about the food that I ate yesterday

Nama tempatnya, Foodtopia. Saya datang bersama pasangan untuk makan malam. Impresi pertama saat menginjakkan kaki ke pelataran parkirnya, Vintage. Dari luar bangunannya terlihat sangat sederhana dengan daun pintu dan jendela tertutup rapih khas arsitektur Indonesia tahun 50-60an. Tidak ada yang terlalu mencolok menarik perhatian. Kecuali plang nama besar putih minimalis dengan font sans serif sederhana sebagai penanda tempatnya.

Perlu percaya diri yang sedikit ekstra untuk masuk ke dalam. Karena kaca pintunya menggunakan kaca film gelap. Seakan-akan ingin mengejutkan indera kita saat membuka pintunya nanti. Saat mendorong pintu, kami disambut dengan udara dingin dan dinding warna cream sejuk. Terlihat sekilas lemari tua dengan pigura-pigura yang menjaga foto-foto tua. Juga meja marmer ukuran sedang yang menjadi tempat diletakkannya sebuah vas dengan desain kuno juga ditemani beberapa pigura foto minimalis.

Saat itu seorang pramu saji menyambut kami dan membukakan pintu lebih lebar. Benar saja, saat melangkahkan kaki lebih ke dalam, yang terpikirkan adalah, rumah. Seketika itu saya merasa nyaman berada di sana. Tidak ada sedikitpun ada perasaan bahwa saya sedang berada di sebuah rumah makan.

Kami memilih sebuah meja di area merokok. Meja sederhana yang berada di pojokan ruangan itu. Berat. Kayu solid. Dengan kaki besi. Setiap meja memiliki 2 jenis kursi. Sepasang dengan gaya serupa dengan mejanya. Sepasang lagi, kursi dari bahan plastik dan alumunium dengan desain modern. Sekilas terlihat bahwa memang kursi-kursi modern itu pantas berada di sana. Tidak aneh sama sekali. Tidak aneh juga terlihatnya bahwa kursi-kursi di setiap meja itu tidak seragam selayaknya set meja makan.

Nakal. Elemen interior lainnya pun terkesan nakal. Bermain-main dengan kesan modern dan vintage dengan bebasnya. Tidak ada rasa takut sama sekali. Sekali lagi, anehnya, tidak ada rasa janggal sedikitpun. 17 lampu yang memendarkan warna kuning lembut dengan rumah lampu minimalis modern, bermain-main dengan kipas di langit-langit dengan desain vintage yang berputar lembut. Semua itu dinaungi langit-langit telanjang yang dengan bangga memperlihatkan tulangan kayu kokoh yang menambah kesan sejuk dan luas.

Daftar menu diletakkan di meja. Sebagian besar menu yang ditawarkan, adalah masakan Indonesia. Setelah menimbang-nimbang, pilihan kami jatuh pada 4 masakan. Nasi Kecombrang, tumis toge ikan asin, sate maranggi dan spaghetti bandeng bumbu matah. Dengan minuman es buto ijo dan teh kembang goyang.

Sambil menunggu, kami membahas betapa interiornya ditata indah tanpa mengurangi fungsi dari rumah makan ini secara keseluruhan. Akan tetapi, pikiran kami tertuju pada menu yang kami pesan sebelumnya.

Minuman datang pertama. Berbarengan dengan camilan krupuk kecil dan alat-alat makan. Sendok, garpu dan tissue disajikan rapih di dalam wadah alumunium keluaran ikea yang sederhana berbentuk menyerupai ember kecil.

Teh kembang goyang ternyata adalah teh celup dengan infusion berbentuk kembang dan dia akan mengapung di permukaan air. Kembang goyang. Centil sekali.

Es buto ijo, saat melihat warna dan menghirup baunya, segera diketahui bahwa warna hijaunya berasal dari matcha. Akan tetapi terlihat potongan kecil persik yang mengapung di pinggir gelas. Seakan memberikan petunjuk rasa apa yang dapat dinantikan saat meminumnya nanti. Tidak ketinggalan sepasang daun mint mungil menghiasi minuman tersebut.

Perlahan saya aduk minuman tersebut dengan sedotan gemuk yang tersedia. kembali saya hirup aromanya. Matcha. Tidak salah lagi. Saya lanjut menyeruput sedikit minuman tersebut. Mata saya langsung terbelalak kaget. Saya tertawa senang sambil berkata pada pasangan saya, "JERUK!" Iya. Jeruk. Aroma matcha yang khas bercampur riang bersama rasa jeruk peras yang segar dengan sedikit hint of mint.

Gila. Ini nakal sekali. Jarang sekali saya dibuat terpesona dan gembira pada saat yang bersamaan oleh sebuah minuman yang hanya seharga 25 ribu rupiah. Dengan sedikit tidak percaya, saya seruput sedikit lagi. Kembali senyum saya mengembang tanpa bisa berkata lebih. This is fun! Saya tertawa kecil sembari menyesali betapa kecil gelas yang diberikan ke saya ini. Mungkin hanya sekitar 200cc.

Kembali kami membahas betapa pengalaman awal ini begitu memanjakan indera perasa dan penciuman kami. Senakal desain interiornya. Pasangan saya berkata, "Ini pasti yang membuat menu, orang yang sekolah. Terlalu cerdas dia memanjakan indera kita." And I couldn't agree more to it. Semakin gelisah lah kami menunggu makanan yang kami pesan

Tak lama kemudian, datang makanan yang kami pesan. Presentasi dari setiap masakan, benar-benar memanjakan mata kami. Nasi kecombrang datang dalam bentuk tumpeng kecil. Dari warnanya yang off white, dapat terbayangkan gurih rasanya. Dihiasi taburan dedaunan dan irisan daun sereh tipis-tipis panjang yang bertengger manis di keliling tumpeng kecil itu.

Tumis toge ikan asin disajikan dengan wadah berbentuk daun. Warna segar togenya masih dapat terlihat. Saat mendekatkan hidung ke sana, tercium bau gurih hasil tumisannya berbaur dengan segar toge. Terlihat irisan tipis bawang merah dan putih, ditemani irisan cabe merah yang menambah cantik penampilannya. Di sela-sela tumpukan toge, terselip dengan malu-malu potongan-potongan jambal berwarna coklat sempurna.

Sate maranggi disajikan di atas wadah yang menyerupai tungku pemanas kecil. 4 tusuk sate sapi bumbu maranggi itu berbaring di atas daun pisang yang segar. Bersama dengan acar yang semakin menggugah selera. Tidak sabar rasanya untuk mengambil 1 tusuk, menyelaputinya dengan minyak bumbu maranggi yang menggenang di bawah tumpukan tusuk sate lalu melahapnya sekaligus. Tapi perhatian saya teralihkan ke menu terakhir, yang dipesan oleh pasangan saya.

Spaghetti bandeng bumbu matah. Sekilas seperti aglio olio biasa. Daging bandengnya tersuwir dan terbumbui seperti ikan tuna. Yang membedakannya adalah kehadiran bumbu matah di sana. Masakan yang sangat meriah memanjakan indera, padahal belum di santap. Kesetimbangan porsi warna dari tiap bahan masakannya benar-benar sangat menggugah selera. Jika anda dapat membayangkan indahnya warna pada aglio olio yang disajikan dengan suwiran daging ikan, segera tambahkan warna-warna cerah yang terlihat pada bumbu matah. Bawang segar yang teriris tipis dipadukan dengan cabai merah cerah dan daun-daunan yang membumikan kembali warna-warna cerah tadi.

Cukup lama kami tertegun terpesona melihat presentasi menu yang kami pesan. Saatnya menyantap masakan-masakan ini. Air liur sudah memenuhi rongga mulut kami, seakan-akan kami belum makan beberapa hari.

Saya ambil satu sendok penuh toge tumis ikan asin dan saya letakkan di piring nasi kecombrang. Saya ambil sedikit nasi kecombrang, saya campur dengan sejumput toge dan tidak lupa saya ambil sepotong jambal. Saya suapkan ke dalam mulut.

Rasa gurih nasi kecombrang segera mendominasi lidah saya bercampur nikmat dengan minyak tumisan toge. Di kunyahan pertama, segarnya toge segera meredakan rasa gurih memabukkan tadi. Setiap kunyahan gurih dan segarnya toge bergantian bermain di lidah saya. Hingga tiba-tiba, pada satu kunyahan, potongan kecil jambal pecah di dalam mulut saya. Asin yang mengagetkan membuat saya terjaga dari buaian gurih dan segar yang tadi saya rasakan. Seakan memberikan tanda bahwa suapan ini dapat segera ditelan.

Suapan-suapan berikutnya memberikan kesan yang berbeda. Tidak ada satu suapan yang memberikan kesan sama. Sampai saya melupakan satu menu yang sebenarnya sangat saya tunggu-tunggu. Sate maranggi. Pada suapan berikutnya, saya siapkan satu tusuk sate yang sudah saya lumuri dengan lebihan minyak dan bumbu maranggi di pinggir piring saya.

Satu suapan kecil nasi dan toge sudah masuk ke dalam mulut saya. Saya kunyah sedikit, tidak mau rugi kehilangan momen di mana lidah saya dimanjakan. Dikunyahan ke tiga, saya masukkan sepotong sate maranggi ke dalam mulut. Segera saja bumbu maranggi yang khas dan sangat kuat berbaur dengan kaldu daging mendominasi ruang mulut saya. Sempurna. Sedikit pikiran saya kembali mendambakan gurih dan segarnya nasi kecumbrang dan toge. Tapi kembali dihibur dengan betapa on point-nya sate maranggi ini disiapkan.

Saat sedang terbuai dengan foodgasm yang sedang saya alami, pasangan saya menyentuh pundak saya dan menawarkan segulung spaghetti yang dia pesan. Awalnya saya agak ragu karena saya kurang suka dengan ikan. Tapi mengingat pengalaman dengan pesanan saya sebelumnya, saya buka mulut dan menerima suapan dari dia. Mata saya langsung terpejam menikmati betapa nikmatnya bandeng suwir dan bumbu matah ini memperkenalkan rasa baru di perbendaharaan palet lidah saya. Daging bandeng berbumbu matah yang lembut menari-nari diantara rasa spaghetti di setiap kunyahan saya. Saat tertelan, lidah saya masih belum puas menikmati perpaduan rasa yang membuai indera perasa saya tadi. Saya meminta satu suap lagi.

Menit demi menit berlalu, kami terus menerus memuji betapa kami sekarang berada dalam foodies heaven. Setiap suapan selalu menyajikan perpaduan rasa yang berbeda. Tidak terasa makanan kami habis. Porsi yang besar ini benar-benar membuat kami kenyang. Kami tertegun saling memandang dengan wajah bodoh karena bahagia dan kekenyangan. Dan setuju tanpa kata-kata, kami akan memesan their handmade gelato.

Setelah memesan, tak lama pencuci mulut itu datang. Disajikan dalam gelas kecil. Terlihat indah dari dindingnya, presentasi antara semprong, serutan gelato dan daun mint mungil. Pasangan saya berkata, "You know what mas, they made this from scratch and called it, Tolak Angin." Kening saya berkerut tidak percaya, saya hirup aromanya, vanilla. Tapi saya tidak mau tertipu lagi seperti pengalaman saya dengan es buto ijo sebelumnya. Saya berserah dengan permainan rasa mereka tanpa mau punya harapan apa-apa.

Dengan sendok kecil dia remukkan potongan semprong di bawah, lalu dia ambil satu sendok gelatonya dan disuapkan ke mulut saya. Benar saja. Rasa vanilla yang kuat dipadukan manis dengan rasa mint yang segar. Semua sensasi gurih dari makanan yang saya santap sebelumnya hilang tanpa bekas. Seakan menyatakan bahwa ini adalah akhir acara makan malam kami. Renyahnya semprong yang menyertai gelato, membuat saya menginginkannya lagi dan lagi dan lagi.

Hanya rasa kenyang yang dapat menghentikan ini semua.

Benar-benar sebuah pengalaman yang amat sulit untuk dilupakan.

Bravo Foodtopia!