Adakah manusia yang mampu menghentikan hujan, saat sedang Jatuh berguguran.

Bagiku Ini tentang dia yang berubah menjadi setiap bagian yang rintik,

Kedipan mata cantiknya, wajahnya, senyumnya dan Pertanyaan pertanyaan dibalik semuanya

Menghujani, beribu menyusup, hingga ke celah celah kecil pori pori kulit, yang sebelumnya tertutup setiap lara dari keraguan. kemudian melebur bersatu dengan darah, menjalar keseluruh tubuh.

Seketika proses itu menjadi bagian diri yang baru. Bagian tubuh lebih jauh dari sekedar rasa.

Semuanya mengalir melarungkan diri hingga bermuara disuatu tempat

Di laut atau di tempat lebih luas lagi, hatimu.

Sekarang,

Untuk Dirimu yang yang selalu dia rindukan.

Beranikah kamu berjalan hingga tersesat di palung fikirannya?

Lalu kamu tidak mencoba berenang, hanya tenggelam. . didalamnya .

Bila hujan kelak berhenti dan palung sudah kering, kamu akan mendapati dirimu bernafas kembali, mengerti berapa dalam kamu sudah jatuh dan hidup disana.

Lalu apa yang membuat hujan mampu berhenti.

Jadilah matahari untuk dirinya, setidaknya dengan begitu dirimu mampu membuatkan pelangi ketika hujan reda, membuat nya hangat dalam senyum.

Bila dirimu bukan matahari

Maka berlakulah sebagai seorang manusia biasa, yang mampu menghentikan gugur cai panon maneh sorangan dan air mata orang lain.

Bila kamu bertanya,

Bagiku ini tentang cara menemaninya, cara mengantarnya pulang dan cara berkata dirinya akan baik baik saja.

Walaupun kamu sibuk dengan banyak urusan seperti hujanmu sendiri.

Kadang Aku harap diriku adalah dirimu atau matahari, saat itu terjadi.


Mural made by : annoying ateng

Lovely stuff

Sean lennon — tommorow

Alina baraz & galimatias — can i


Note :

Dirimu bisa saja hanya laki laki

beruntung. . yang ingin mati duluan daripada takut merasa kehilangan gadismu.

Menurut sim kuring yang awam, Bila dirinya (gadismu) mati duluan maka beruntunglah dia, karena sebenarnya dirinya benar-benar mencintaimu, dia akan kesulitan hidup bila kamu pergi duluan.

Aku geram 😒 . . . .😑 dengan kalakuan maneh ujang ujang kasep nu pernah nyeungceurikan budak batur. Tp da kumaha deui, ulah kamalinaan. Sabar ya buat eneng eneng sadunnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.