Camping ceria
Serasa Dia tiba di pagi buta
Baru saja aku menjemputnya
Dia. . , yang mampu bermanifestasi. .
Saat Dia embun dan udara,
Mampu semu hilang perlahan . .
namun tetap menyejukan,
Masih Terasa disini. .
Ketika aku menarik nafas dalam. .
yg sebenarnya sesaku adalah rindu. . akan kesejukannya.
Saat dia suara dan cahaya. .
Masih terdengar dan memancar hangat. .
Ketika bersama bercerita mengaggumi lagu orang lain.
berima setiap candanya via udara. .
Saat dia air dan tanah
Memuai perasaan ini dalam kuncian haranya
Kadang lekat berlumpur enggan mengering dibuatnya
Hanya tak terkira Saat dia api.
Yakin ku tak ingin menyulutnya
Dia masih disini.
Di tempat yg tak perlu Dia sebutkan. .
Agar Aku bisa pura pura tutup telinga dan mati rasa. .
Dia masih disini. .
Di tempat yg tidak perlu aku sebutkan. .
Yg terlihat hanya jari manisnya,
Ragu mengundangku untuk bertamu. . Mungkin karena pilu yg kurasa semu
Lalu mengapa Dia yang kemunculannya sekarang . . membelakangi pancaran matahari dr timur. .
Berat sekedar menatap barat
Padahal di barat, kaku kakiny. .
Apa karena bayangan yang biasa mengikutinya dr belakang
kini sedang berpindah kedepan
Menutupi wujud ku. . .
Maka, Perkenankan aku untuk tidak membisu kali ini
Untuk memintanya tetap disini. .
Bercerita pada semesta arti wujudnya. .
Walaupun saat ini hening yang dia berikan. .
Tetaplah seperti itu . .
Sudi karenanya diriku untuk masih tak terlihat.
Asal dirinya masih disini. .
Setidaknya dalam diam
perkenankan siang sejenak,
menikmati menanti pagi. .
Hingga pagi besok kukenal dia , mengukang 😅, kembali.
Sukabumi, 10–13 july 2016.
Lamunan api unggun, aliran sungai kecil hingga tempat tidur.
Lagu puisi alam 4.20
https://youtu.be/Xqzqux3tSTM
Fana merah jambu — 4.20