Ilusi dari Kesempurnaan

“Perfect is the enemy of good.” Ini adalah penulisan ulang dari intisari tulisan yang saya baca.

Semua orang memang mengejar kesempurnaan, akan tetapi jika sampai harus menuntut kesempurnaan dengan iterasi minimum, itu lebih dekat dengan tidak masuk akal. Beberapa orang mungkin akan menganggap kesempurnaan adalah suatu hal yang dapat dikejar dan diwujudkan.

Ambil contoh suatu produk, iPhone. Beberapa orang menyebut itu produk yang sempurna. Saya lebih suka mengatakan, iPhone adalah produk dengan pemasaran yang baik. Mari kita lihat “kebobrokan” iPhone di awal: Tidak ada App Store untuk aplikasi asal (native application). Ya! iPhone generasi awal hanya memiliki Safari, sebuah landasan dinamis karena dapat memuat seluruh konten HTML berikut skrip yang terkandung di dalamnya. Bisa luring juga, akan tetapi bukan itu poinnya. Poinnya adalah iPhone generasi awal tidak dirancang sempurna. Herannya, orang-orang dapat dengan mudah mengatakan hal ini masuk akal.

Sama sekali tidak masuk akal. Itu pertengahan dekade 2000, bukan? Bagaimana mungkin Anda menganggap aplikasi yang dijalankan di atas aplikasi adalah sebuah aplikasi? Tanpa Safari, tidak ada yang bernama aplikasi di iPhone. Hanya saja, Apple berhasil memasarkan bahwa ini tidak terlalu menjadi masalah.

Apple beriterasi. Setahun setelahnya, diumumkan iPhone SDK. Akan tetapi, mengembangkan aplikasi untuk iPhone kala itu hanya dapat dilakukan dengan bahasa Objective-C — sebuah bahasa “ajaib” yang tidak semua orang suka. Jika “banyak yang menyukai”, “populer” menjadi syarat kesempurnaan bagi Anda, ini menjadi tanda ketidaksempurnaan lain.

Andai kita tahun ini membuat sesuatu yang lebih baik daripada tahun sebelumnya, berarti kita beriterasi. Kita berkembang. Akan tetapi, apakah proses kita tahun lalu dapat disebut ketidaksempurnaan? Mungkin tidak. Kita dapat menciptakan hal yang baik tahun ini karena kita belajar dari ketidakbaikan yang kita alami tahun lalu.

Pada akhirnya, kesempurnaan adalah tentang beriterasi terus menerus dan membuat anggapan bahwa Anda dapat bersyukur dengan kondisi aktual. Bukankah telah dijanjikan bahwa dengan bersyukur, apa yang kita miliki akan ditambah?

Bukan berarti kita tidak boleh mengejar kesempurnaan. Bukan berarti kita tidak boleh beriterasi. Justru kita harus beriterasi. Itu wajib. Bukankah perintahnya memang kita harus lebih baik daripada hari kemarin? Oleh karenanya, kita beriterasi dan bersyukur di saat yang sama.


Saat membaca blog Mark Manson, saya melihat video “People are Awesome”:

Anda melihat kesempurnaan di sana? Anda melihat mereka dapat melakukan atraksi dengan baik? Baguslah. Sekarang, berapa banyak orang yang dapat melakukan atraksi tersebut? 5%? 10%? 1%? .5%? Sedikit?

Sekarang, berapa jam waktu yang mereka habiskan agar dapat melakukan atraksi tersebut dengan baik? Dapatkah Anda menerkanya? Apakah mereka melakukan itu dengan latihan satu hari? Satu minggu? Satu tahun? Seringkali kita menilai seseorang hanya dari hasil akhir. Padahal, dibalik semua hasil, ada proses panjang yang meneteskan keringat, air mata, dan kadang darah.

Saya pikir, semua orang punya jalan hidup masing-masing. Ada orang yang bergaji lebih besar. Ada orang yang terlahir di keluarga yang lebih beruntung. Ada orang yang sanguin. Ada orang yang kelihatannya riang sekali. Tetapi itu hidup mereka, bukan hidup kita. Tidak perlu iri. Kita jalani saja hidup kita sendiri.

Sebagai penutup, saya akan mengulang kembali: Beriterasi itu harus. Lebih baik daripada hari kemarin itu wajib. Akan tetapi, bersyukur tetap penting karena dengan itulah kita mendapatkan hal yang lebih.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.