Rencana
Dalam hidup ini katanya, manusia harus memiliki rencana. Bahkan dosen saya pun pernah menyuruh mahasiswa dikelasnya untuk membuat dream book. Isinya tentang perencaan hidup dari awal sampai akhir. Menyusun rencana dari mulai usia 20 (saat itu) sampai menyusun rencana ingin mati di usia berapa. Saya tidak mengerti kenapa dosen bisa sekepo itu sama kematian saya. Pada akhirnya tanpa dasar yang jelas saya menulis usia 65 tahun, itu rencana saya mati. Terdengar lucu bukan? Lucu jika ketika usia 66 tahun saya melihat buku perencanaan saya, lalu membuka halaman direncana kematian, dan menyadari bahwa saya telah gagal merencanakan kematian.
ya masa itu salah saya si :(
13/08/2018
Pada hari ini, saya mendapatkan pengumuman seleksi masuk universitas negeri di Indonesia
Hasilnya tidak diterima
Apakah saya kecewa ? Tidak
Mengapa?
Saya sudah tau saya akan kecewa berat jika berharap banyak. Perencanaan itu memang berhubungan dengan harapan, ketika kita berencana pasti muncul harapan. Namun, disitu saya mencoba berencana tanpa berharap, dan ya berhasil. Itu merupakan pertama kalinya saya berencana tanpa harapan.
Sekarang sekarang ini mengekspetasikan sesuatu hal yang berlebihan menurut saya tidak baik untuk diri kita karena kekecewaan terbesar berasal dari kita, dari ekspetasi atau harapan kita
Lalu apakah saya tetap berencana kedepannya walaupun ada kemungkinan munculnya harapan ? ya
Mengapa?
Ini saya lakukan agar tidak mengecewakan orang yang saya sayang dan mempunyai hidup yang terarah.
Ada poin diatas dimana saya tidak ingin mengecewakan seseorang, karena manusia selalu berharap kepada kita dan menganggap kita adalah aset. Diharapkan lebih dan dipandang bisa berguna adalah tekanan untuk diri saya. Disisi lain saya pun ingin berguna dalam hidup ini. Saya percaya hidup ini cuma sekali, walaupun ada kepercayan lain juga bahwa setelah ini ada kehidupan selanjutnya.
Kembali ke pembahasan rencana saya
Mereka bertanya apa rencana saya selanjutnya. Saya yakin mereka mengharapkan perencanan yang tinggi.
Namun, saya mulai tidak ingin berekspetasi tinggi dalam hidup ini, bahkan saya berharap bisa mengosongkan ekspetasi dalam menjalani hidup, saya yakin itu bisa menjadi ketenangan untuk setiap manusia dan munculnhya kebahagiaan.
Saya ingin tetap menjalani apa yang saya suka, dan melakukan sesuai passion. Namun dalam bekerja sepertinya tidak semua orang bisa bekerja sesuai passion karena alasan tertentu. Persetan dengan passion, manusia butuh makan, saya tidak bisa berekspetasi tinggi kepada passion saya, dan sekali lagi
Persetan dengan passion
Anjing kasar banget dah gua, maapin gua ya passion, inimah biar keren aja. Ok lanjut serius dengan merubah kembali kata ganti orang pertama dengan “saya”
Namun bukan berati saya akan meninggalkan passion saya. Saya akan tetap menjalani itu sampai kapanpun walaupun itu tidak menjadi pekerjaan saya karena menurut saya kerja itu tidak harus sesuai passion.
Oiya, hidup ini sudah saya bulatkan untuk berguna. Apa yang saya lihat dan bisa berguna untuk orang lain saya lakukan walaupun saya tidak suka (itu ngomongin kerjaan ya, kalo lu tbtb nyuru2 gua cuma buat ngerjain gua ya gua gamau lah sayang). Ok lanjut serius dengan merubah kembali kata ganti orang pertama dengan “saya”.
Lalu bagaimana dengan diri saya ?
Ah saya tidak terlalu peduli, dalam hidup ini sepertinya sulit jika memiliki keduanya, berguna untuk diri sendiri dan orang lain adalah hal yang sulit untuk dicapai, sepertinya
Walaupun saya berpikir seperti itu, namun saya yakin akan ada titik dimana saya mendapatkan keduanya.
Lalu bagaimana kedepannya?
Saya akan lakukan yang sudah ada dan tetap berencana untuk diri sendiri tanpa harapan tinggi. Ketika sudah terbuka peluang, saya akan berusaha mendapatkan keduanya, berguna untuk orang lain dan diri sendiri.
Semoga umur saya cukup untuk mendapatkan keduanya.
