#PerjalananRasa: Berdialog dengan Waktu

Muftia Chalida
Nov 4 · 3 min read
Photo by Kaylah Otto on Unsplash

Orang bilang aku harus membunuhmu agar tidak mati bersama kesepian,kesunyian dan ketertinggalan

Paman itu berkata kamu adalah uangku

Kekasihku berkata aku tak boleh mempercayaimu dalam-dalam karena kamu tak ubahnya kefanaan yang hakiki, hanya cinta kamilah abadi

Ibuku berkata kamu serupa kawanku, semenjak Tuhan menuliskan takdirku untuk jadi manusia hingga nanti aku kembali kepadaNya kamu senantiasa bersamaku

Kakakku selalu menasehati bahwa kamu adalah satu-satunya hal terbaik yang kumiliki saat ini, maka aku tak boleh menyia-nyiakanmu

Tunggu dulu, siapa sebenarnya kamu?

Hari ini adalah hujan pertama setelah terik kemarau panjang yang sangat melelahkan. Seluruh penduduk bumi bersorak gembira. Berbondong-bondong mereka menyaksikan kedatangan hujan yang perdana ini. Tetapi mengapa atas nama waktu aku tak bergairah merayakan datangnya hujan yang dirindukan semua orang.

Lagi-lagi atas nama waktu, Aku tiba-tiba dibawanya kembali kepada hujan bulan juni saat dengan gagah berani seseorang melindungiku dari hujan. Padahal aku tahu jika ia membenci hujan, begitu pula aku. Lalu aku bertanya kepadanya,

“Mengapa kamu menghampiriku di saat hujan bukankah kamu tahu bahwa aku membenci hujan dan begitu pula dirimu?” tanyaku.

“Penderitaan di saat dinikmati sendiri tentu sangat melelahkan dan menyebalkan. Tetapi bersama orang yang kita cintai segala derita dan kesulitan terasa begitu mudah dan menyenangkan. Cinta menguatkan kita.Selepas hujan ini kita akan berjumpa dengan pelangi, begitulah waktu bekerja” begitu jelasnya.

==

Lain cerita lagi dengan Bunga, ia merasa telah merasa kehilangan waktunya.

“Mengapa?”, tanyaku.

“Aku merasa menjadi manusia yang tak berguna. Waktu tak pernah bersahabat denganku. Waktu telah merenggut hidup dan masa depanku. Ibu-Bapakku orang-orang yang sangat kusayangi meninggalkanku seorang diri semenjak satu tahun lalu. Dengan sendiri aku harus banting tulang menghidupi adik-adikku. Mengorbankan mimpiku yang kini melayang begitu saja di angkasa. Nyatanya hingga saat ini aku juga belum mampu menghidupi mereka dengan layak. Aku merasa jadi manusia tak berguna, aku gagal, aku tak punya harapan. Sampai kapan waktu waktu akan bersahabat denganku?”.

==

Hingga aku menemui Putri. Sudah dari lima bulan ia mengurung diri dalam kamar. Tetangganya sebelah rumahnya mengatakan jika ia divonis depresi berat. Dulunya ia adalah gadis periang nan manis. Sampai ia bertemu Bram. Seseorang yang dulunya pernah berjanji menjadikanya makhluk paling berbahagia di bumi.

Singkat cerita mereka akan menggelar pernikahan bulan depan. Di suatu malam dalam perjalanan mereka menuju ibu kota. Naasnya kecelakaan dahsyat menghampiri dua sejoli yang tengah dimabuk asmara ini.

Bram selamat tanpa kurang suatu apapun. Tetapi apa yang terjadi pada Putri? Dengan sangat berat hati ia harus kehilangan dua kaki yang selama ini menopangnya pergi kemanapun. Disitulah cinta mereka diuji. Keterbatasan fisik yang dialami Putri saat itu telah mengaburkan pandangan Bram tentang cinta. Ia lupa dulu ada seorang gadis yang bersedia menerimanya meski ia berperangai kasar,pemabuk dan suka bermain wanita. Ia lupa ada orang yang telah membantunya berubah menjadi Bram versi terbaiknya di saat ini. Bram memilih opsi termudah untuk pergi dengan kekasih barunya.Putri ditinggalkan begitu saja bersama sisa-sisa kenangan dan reruntuhan harapan yang bercampur dengan luka hati juga fisik yang entah akan sembuh sampai kapan.

“Andai saja dulu aku tak memilihnya”

“Andai saja aku tak bertemu denganya”

“Andai saja waktu dapat membawaku kembali”

Begitu terus ucapnya dalam isak tangis yang mendalam. Menyakitkan. Tragis.

==

Halo kamu waktu, kemarilah aku ingin memulai sebuah percakapan. Jangan gusar dulu ini bukanlah dialog membosankan yang penuh kata diplomatis, normatif dalam bingkai pencitraan. Kita akan berbicara dari hati ke hati tentu saja. Dan kali ini hanya ada kamu dan aku. Kita berdua.

Aku akan memulainya dengan pertanyaaan.

Mengapa kamu diciptakan jika kehadiranmu banyak menjadikan orang berputus asa, terluka dan bertanya-tanya?”

“Bukankah kau tahu jika Tuhan menciptakanku agar manusia mengerti bahwa semua tak terjadi secara tiba-tiba, supaya manusia tak terkaget-kaget; ada proses perlahan dan naik turunnya; mengetahui hulu-dan hilirnya; mengerti hasil dan kualitasnya; hingga akhirnya kita bisa mencerna dengan akal bahwa setiap kejadian tidak dianggap tiba-tiba begitu saja, supaya logis dan mampu dicerna oleh akal manusia. Roma tak dibangun dalam sehari. Begitu juga dengan mimpi, gagasan, bisnis ,pernikahan, dan pastinya sebuah bangsa tak menjadi besar dengan sendirinya secara tiba-tiba. Ada ‘proses’ yang mereka lalui. Tuhan mengirimkanku agar manusia mampu bercermin pada diri mereka sendiri”

Waktu menyuruhku merenungkan jawabanya itu. Sampai aku dapat dengan sungguh memahami maksutnya. Ia berjanji akan kembali berdialog bersamaku hanya jika aku telah siap tenggelam dalam kompleksitas dunianya. (bersambung)

#muftia #muftiachalida #katamutiara #ceritaharini #nantikitasambat #mempuisikan #waktu #puisi #katamutiara

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade