Cinta bermula ketika semua ini dimulai. Pada hitam malam yang remang terjadi permulaan bagaimana aku bisa merasakan kekosongan akan arti. “Jatuh cinta kepadamu adalah hal yang sangat manusiawi, sebab setiap manusia haruslah memilikinya”.


Sudah tujuh hari berlalu tak kulihat manusia layang-layang bermain di langit-langit desa, tidak seperti biasanya. Suasana desa seminggu ini nampak bahagia sewajarnya maklumlah seteleh beberapa hari berturut-turut manusia layang-layang menebar akan kesedihan dan ingatan-ingatan masa lalu. Sudah tujuh malam pula para penduduk desa merayakan kebahagiaan mereka dengan kretek gulungan sendiri. Mengalir dari tenggorokan mereka minuman khas desa yang barangsiapa meminumnya mereka dapat menertawakan penderitaan diri sendiri, siapa saja yang meminumnya akan merasakan tak sia-sia pula Tuhan menciptakan ketidakteraturan ini. Musik dangdut bergoyang menikam telinga pemuda serta bapak-bapak paruh baya. Sungguh tak mengecewakan malam yang bisa dirayakan. Lantas apakah ada malam yang tak bisa dirayakan? Tentu tidak ada. Setiap malam yang kita lalui layak untuk dirayakan meskipun dengan setelungkup doa. Angin malam menerbangkan tawa suka jiwa manusia yang sedang bercinta dengan nasibnya. Nasib baik selalu menjadi momok masa depan. Padahal untuk mengetahui hal baik atau buruk kita tidak bisa membelakangi waktu, kita harus melewati dan memberi jarak sehingga hal tersebut menjadi masa lalu dan menjelma hal baik atau buruk.

“Mari kita rayakan, malam masih panjang”

Terlihat pak lurah duduk bersedekap dingin ditemani radio dangdut dan secarik amplop putih. Beginilah hidup yang baik, hidup yang patut diberikan kepada orang-orang kota. Perbincangan pak lurah dengan beberapa penduduk desa menjadi cukup serius. Entah proyek apa yang mereka bahas, atau sekedar kegiatan desa yang belum dilaksanakan. Turut hadir pula beberapa perangkat desa yang sudah agak mabuk dan ngelantur bicaranya. Namun perbincangan mereka tertutup pada satu pokok bahasan yang dapat menentukan nasib penghuni sekitar desa bahkan mempengaruhi keseimbangan perekonomian kota.

“Saya kira seperti itu pak. Harusnya pak lurah lebih tegas”

“Saya paham saudara-saudara, tapi untuk hal seperti itu mana mungkin kita tidak memikirkan dampaknya”

“Dampak apa sih pak, wong kita ini sehari-hari paling cuma ke sawah, KUD desa, rumah, udah pak tidak akan ada apa-apa”

“Itu hal berat yang harus kita pikirkan matang-matang, manusia layang-layang itu mitos yang nyata. Tidak ada yang tahu kapan ia datang kapan ia pergi. Apalagi asal usulnya. Coba pak kasdi, apa mbah-mbah buyutmu ngerti kok bisa ada manusia layang-layang di desa ini. Bukan masalah dia harus pergi atau tidak manusia layang-layang pernah memberikan kita atas pandangan kehidupan yang baik”

“cuma pandangan kan pak, sapi juga punya”

“Iya tapi sapimu tidak bisa mengundang turis”

“Kami ini resah pak sudah lama manusia layang-layang tak terlihat, di danau desa sebelah juga sepi, kalau saja manusia layang-layang itu datang lebih lama, mungkin kita tidak hanya membuat sungai air mata dari tangisan orang yang bersedih, ya kan pak?”

“Mungkin samudera akan bertambah satu”


Seperti itulah manusia ditakdirkan, kebahagiaan tidak pernah dapat menyelamatkan terlebih jiwa yang ada dalam dirinya. Manusia diciptakan untuk menanggung hal-hal yang tidak bisa diurus makhluk lainnya. Di desaku ini, manusia layang-layang sudah jarang terlihat lagi mungkin bisa dikatakan tidak pernah. Lama setelah manusia layang-layang itu tak terlihat sliweran diatas langit- langit desa memang tidak terjadi apa-apa. Hal itu sudah menjadi rutinitas. Setiap penduduk desa telah bahagia. Namun beberapa bulan kemudian para penduduk yang berbahagia itu tetap tidak bisa bahagia seutuhnya, kiranya wajah kuyu para petani terlihat sedikit lebih bergairah tapi itu semua hanya terjadi saat mereka berada di sawah saja. Para peternak sama halnya dengan petani tersebut. Terlepas dari cengkraman kebahagiaan sewaktu bekerja, mereka semua kembali dari rutinitas yang membahagiakan dengan raut wajah yang tidak sumringah lagi, seperti padi yang tak memiliki petani, seperti tumbuhan tanpa ladang. Terkabullah pembicaraan yang cukup serius di malam yang sudah lama mereka tinggalkan. Desa yang berbahagia akibat kehilangan manusia ajaib, garis edar kehendaknya. Dan ajaib pula tidak ada apa-apa yang terjadi, tidak terjadi krisis perekonomian yang berarti, tidak terjadi gejolak auman emosi, yaa tidak terjadi apa-apa, melainkan sekeping rasa gundah. Perasaan gundah ini tidak dapat terbeli oleh beberapa krat telur hasil peternakan. Tidak dapat ditukar satu gerobak padi hasil panen yang ketiga dalam satu tahun. Teringat pembicaraan penduduk dan pak lurah di malam yang bahagia. Sering kebahagiaan membawa hal yang tidak terduga. Padahal untuk taraf kesejahteraan hidup desa ini cukup mewakili untuk menjadi jawara di tingkat kota. Dan pernah sekali pak bupati beserta jajarannya meninjau pertumbuhan di desa.

“Bagus sekali desa ini. Hewan ternak dan lahan-lahan sangat produktif. Koperasi Unit Desa yang transparan. Dan warga yang berbahagia”

“Tapi pak, ada satu yang kurang”

“Saya rasa tidak ada yang kurang dari desa ini, mungkin beberapa fasilitas infrastruktur penunjang dapat kita bangun bulan depan, masih ada anggarannya kok”

“Bukan pak bukan itu, kami yang berbahagia ini merasa ada yang ganjil setelah manusia layang-layang lama tidak terlihat melayang-layang tanpa beban di langit desa kami”

“Siapa itu manusia layang-layang?”

“Silahkan bapak lihat catatan tahunan milik desa kami, hasil yang memuaskan tahun ini tidak ada apa-apanya dari pada saat kami semua bersedih”

“Apa yang bisa kalian lakukan saat bersedih?”

Pak bupati bertanya dengan nada penasaran khas anggota partai berlabel birokrat ternama. Meragukan hal luar biasa yang dapat dilakukan seseorang ketika bersedih maka jangan sesekali menyangkal. Mungkin hanya orang yang bersedih, yang sanggup memikul mukjizat dalan sekejap.

“Kami dulu selama tujuh tahun berturut-turut ya kerja pak, kerja kami menjual kesedihan. Banyak sekali variannya, sungai di ujung desa adalah saksinya”

“Lalu kemana perginya manusia layang-layang itu?”

“Tidak tahu pak, barangkali menetap di kota”

“Saya tidak pernah melihat manusia layang-layang terbang di atas kota”

“Mungkin bapak tidak pernah ke alun-alun”

“Baik, itu akan menjadi tugas saya menemukan manusia layang-layang”

Keluhan para penduduk menjadi pr misterius bagi pak bupati. Seperti bupati dan kepala daerah lainnya keluhan tersebut hanya menjadi pr, tidak lebih. Bagian terburuk dari semua yang terjadi selama ini adalah tidak terjadi apa-apa. Manusia layang-layang tetap tidak menampakkan dirinya lagi di langit-langit desa. Kebahagiaan penduduk desa cepat tersebar di berbagai daerah sekitar. Desa kami menjadi desa percontohan dengan kualitas kebahagiaan yang tidak dapat terukur nilainya. Mitos nyata yang hilang menjadi cibiran hati para penduduk yang berbahagia. Tidak ada kebahagiaan yang sanggup menggeser kesedihan yang murni. Kepergian manusia layang-layang telah meninggalkan luka paling candu. Kini setiap penduduk meratapi nasibnya sendiri-sendiri.


Di ruang paling sendiri mereka menyadari, cinta dimulai saat semua ini telah berakhir.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.