Rumah yang Pintunya Terbuka

“Sudah sejak kapan jadi pemulung, Pak?” Tentu aku tahu, polisi itu sekadar berbasa-basi. Biasanya, orang- orang yang baru saling mengenal, tak pernah luput dari mempertanyakan perihal pekerjaan, sekadar merajut percakapan. Tapi aku harus menjawab apa? Saat ini pikiranku bercabang. Antara memikirkan anakku yang hilang dan menjawab pertanyaan basa-basi dari polisi itu. Sampai saat ini aku masih dirundung cemas. Ia masih sangat kecil, masih berumur lima tahun. Tentulah ia kebingungan, ketakutan, dan mungkin akan menangis ketika mengetahui sedang sendiri di bak mobil, tanpa ayahnya. Kecemasanku yang lebih menyiksa batin, ketika si sopir mobil mengetahui ada seorang balita di bak mobilnya, dan menurunkannya di tengah jalan. Bukankah tak ada waktu menjawab pertanyaan basa-basi, saat hati ini belum bisa tenang?

Menjawab pertanyaan polisi itu juga bukanlah perkara mudah saat ini. Aku harus mengingat masa berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat kegalauan berkecamuk di pikiranku. Sungguh tak ada waktu untuk itu, selain memikirkan anakku. Maka aku hanya menjawab dengan sumir, “Aku tak tahu.” Sesederhana itu.

**

Tak ada harta yang lebih berharga yang kumiliki saat ini kecuali Basri. Aku percaya Tuhan sengaja mempertemukanku dengannya. Tuhan pasti tahu aku hendak ke pembuangan sampah, sebab itulah Ia menitipkan Basri di tempat itu, dalam keadaan masih bayi dan terbungkus sarung. Tentulah Tuhan tak langsung turun tangan saat menitipkan Basri di pembuangan sampah. Pastinya melalui orang lain, yang melahirkan Basri. Mungkin melalui perempuan yang belum siap mengasuh anak, entahlah. Aku berpikiran seperti itu, sebab kejadian demikian sudah biasa di kehidupan perkotaan. Seks bebas, pelacuran, menjadi penyebab perempuan hamil di luar nikah, dan membuang begitu saja anak yang dilahirkannya saat tak ada kesempatan untuk aborsi.

Kesulitanku sejak kutemukan Basri adalah mengasuhnya tanpa seorang ibu. Aku harus mengasuh Basri seorang diri, dan harus alpa dalam urusan memungut botol maupun sampah plasitik. Tak mungkinlah aku terus-menerus hidup tanpa memulung. Aku mesti mengais sampah, agar bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memenuhi kebutuhan Basri. Jika aku harus menunggu Basri tumbuh menjadi lelaki yang bisa mengurusi diri sendiri, rentan waktunya terlalu lama. Membujuk para tetanggaku untuk mengurusi Basri saat aku tengah bekerja juga tidak mungkin. Sebab aku pikir, mustahillah mereka membantu mengurusi anak yang mereka curigai sebagai anak hasil curian. Siapa juga yang mau melibatkan diri dalam masalah? Selalu kupikirkan untuk memberitahu mereka mengenai asal usul Basri yang sebenarnya, tapi itu tak perlu. Di kota ini, perkataan pemulung sukar dipercaya. Bagi masyarkat kota, pemulung identik dengan pencuri.

Aku sangat bersyukur pada Sinta, seorang banci yang bersedia membantu mengurusi Basri. Ia salah satu tetanggaku, seorang pengusaha salon. Ia datang sendiri ke rumahku, dan menawarkan untuk menjadi pengasuh sementara Basri. Entah dari mana ia tahu, jika saya butuh pertolongan. Tapi kesediaannya akhirnya mengurangi sedikit bebanku. Dengan ini, aku bisa kembali memulung. Kukumpulkan rupiah demi rupiah melalui penjualan botol bekas, sampah plastik, dan rongsokan lainnya yang masih layak dijual, untuk biaya hidup Basri.

Aku sadar pekerjaan sebagai pemulung tak membuat seseorang menjadi kaya raya. Basri akhirnya mesti kuasuh dengan biaya yang pas-pasan. Tapi aku harus bekerja apa selain menjadi pemulung? Aku tak punya ijazah yang bisa kugunakan untuk melamar pekerjaan. Aku juga tidak punya keluarga yang bisa memberikan solusi pekerjaan yang lebih layak. Beberapa kali aku bertanya tentang keberadaan tante, om dan sanak keluarga lainnya kepada ayah dan ibuku, tapi mereka malah memarahiku dan mengatakan, tak usah mencari tahu! Sampai keduanya meninggal, aku tidak tahu keberadaan mereka.

Meski seperti itu, aku tak akan menyia-nyiakan pemberian Tuhan. Kurawat Basri dengan penghasilanku sebagai pemulung yang tak seberapa itu, meski aku harus berhenti merokok, dan harus makan sehari sekali. Pun, Basri adalah keluargaku satu-satunya saat ini. Kan kuurus dia dengan baik. Apalagi di usiaku yang menginjak 50 tahun, adalah masa-masa seseorang menenun kebahagiaan dengan mengasuh sendiri anaknya, membesarkannya, dan melihatnya di puncak-puncak kesuksesan. Kehadiran Basri adalah awal kebahagiaan itu, saat diriku tak memungkinkan memiliki momongan. Aku tak punya istri yang bisa menghadiahiku seorang anak, dan tak akan pernah bisa memiliki istri. Siapa juga yang ingin menikah dengan seorang pemulung, yang dekil, kurus, miskin seperti saya? Di dunia modern saat ini semua orang melihat hal ihwal dalam perspekif materi, tak terkecuali dalam berkeluarga. Aku tahu, setiap orang menikah atas landasan saling mencintai. Tapi, cinta hari ini selalu identik dengan mencintai asal-usul keluarga sang kekasih, mencintai wajahnya, mencintai uangnya. Sedangkan aku tak memiliki kategori demikian, yang bisa membuat perempuan cinta kepadaku. Yah, hidup ini memang pelik. Tapi sejak kumiliki Basri aku tak lagi pernah bermimpi menikahi seorang perempuan. Di samping aku tahu itu tak mungkin, aku juga merasa, Basri sudah cukup menjadi keluarga kecilku.

Dari kisah yang kuceritakan ini, tahulah kau betapa berharganya Basri dalam hidupku. Maka, kehilangannya adalah pukulan telak bagiku.

**

“Pak, aku mohon, tolong temukan anakku,” kataku kepada polisi itu, dengan nada cemas, dan memohon. Entah sudah keberapa kalinya aku mengucapkan perkataan itu. Yang aku tahu, balasannya selalu sama. “Sabar, Pak,” hanya itu ucapan yang selalu kudengar dari polisi itu. Hingga tak lama kemudian, kudengar sayup-sayup suara Basri yang sedang menangis. Segera kucari arah suara itu. Kulihat dia sedang digendong oleh seorang polisi yang ditugaskan mencarinya.

“Basri,” ucapku lirih. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, sejak sepeninggal ayah dan ibuku, aku baru lagi menitihkan air mata.

“Pak, anak ini lantas mau dikemanakan? Bisa menghubungi ibunya untuk menjemput anak ini?” kata polisi yang sedaritadi bersamaku.

“Dia tidak punya ibu, tapi bapak bisa menghubungi ini,” kuserahkan nomor telepon Santi yang tertulis di secarik kertas. 
Polisi yang membawa Basri segera menyerahkannya padaku. Kupeluk ia erat-erat, sebagai tanda pertemuan terakhir dengannya. Sebab tak lama lagi aku harus mendekam di penjara.

**

Aku bersyukur Basri ditemukan dalam keadaan utuh. Tapi tangisan itu, Aku tahu, adalah isyarat betapa dia berada pada puncak penderitaan. Dia harus menelusuri kota dengan keadaan sendiri di bak mobil, bersama pria asing yang tak dikenalnya. Dan itu sangat menakutkan bagi anak seusia Basri. Aku sangat kasihan padanya. Selama ini dia sudah merasakan masa-masa penderitaan yang panjang. Dia harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, sampai-sampai kerap menganggap Santi sebagai ibunya sendiri. Dia juga tidak memiliki teman. Anak-anak tetangga banyak, tapi tak ada yang sudi untuk sesekali mengajak Basri ikut bermain. Bahkan mereka selalu saja memamerkan mainan terbarunya kepada Basri, dan membuat anakku selalu iri.

Kesyukuranku adalah, aku masih sanggup membelikan Basri mainan, agar ia tidak iri lagi dengan anak-anak tetangga. Meskipun dengan itu, aku tidak pernah bisa menabung untuk biaya sekolahnya kelak. Sebab, penghasilanku harus kuarahkan semuanya untuk kebahagiaan Basri.

Yang aku tak sanggupi, ketika harus memiliki tanah sendiri, dan membangun rumah untuk Basri. Selama ini aku dan Basri menempati rumah — lebih tepatnya, gubuk reok yang lebih mirip kandang kambing — di atas tanah milik orang lain. Saat sang pemilik meminta kembali tanahnya, mau tak mau aku harus pindah membawa serta Basri dan gerobak sampahku. Aku harus berterimah kasih untuk yang kedua kalinya kepada Santi, yang mempersilakan kami untuk menetap di rumahnya. Tapi, aku tak akan mungkin terus-terusan menetap di sana.

Lantas, bagaimana aku bisa memiliki rumah sendiri? Penghasilanku saja tak akan cukup untuk menyewa indekos, apalagi untuk membeli tanah dan membangun rumah. Andai saja pemerintah lebih memperhatikan keadaan kaum miskin kota sepertiku. Semisal, memberi bantuan tempat tinggal. Tapi, jangankan tempat tinggal, bantuan uang atau sembako saja tak pernah. Kecuali jika mereka ingin mencalonkan kembali untuk menduduki kursi kekuasaan. Biasanya mereka akan turun lapangan menemui para pemulung, dan memberikan bantuan berupa uang atau sembako, sembari memberikan perhatiannya kepada kami di hadapan para wartawan.

Seringkali aku berpikir untuk memiliki uang banyak dengan merampok rumah. Dan pikiran demikian semakin menggangguku saat kulihat rumah yang pintunya terbuka lebar, tak tertutup, saat aku pergi memulung dengan membawa serta Basri. Aku pikir itu kesempatan yang baik, saat kuketahui semua penghuni rumah itu pergi dengan menggunakan mobil pribadi. Mungkin hendak berwisata, entahlah. Yang kutahu, situasiku serba dilema, antara melakukan perampokan atau tidak. Serasa terjadi pergulatan antara malaikat dan iblis di ruang batinku. Kutatap Basri yang sedang tertidur lelap di gerobak sampahku, sembari menyudahi dilema yang menerjangku. Yah, aku mesti mengambil pilihan. Pilihan yang akhirnya membuatku harus mendekam di sel tahanan, dan membuatku sempat kehilangan Basri.

**

“Kenapa bisa kamu merampok di rumah orang?” Baru juga Santi sampai di kantor polisi, dia langsung menodongkan pertanyaan kepadaku. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku lelah menjawab pertanyaan seperti itu. Sebab sedari tadi aku sudah ditodong dengan pertanyaan serupa, baik oleh para polisi maupun si empunya rumah. Pun jika aku hendak menjawabnya, jawabannya pasti sama dengan jawaban yang kuberikan kepada para polisi dan si empunya rumah: aku tak merampok, aku hanya ingin menutup pintu rumah itu karena tak terkunci. Begitupun tak perlulah aku beri tahu tentang Basri yang kusembunyikan di bak mobil, saat dia tertidur lelap, agar dia tidak menyaksikan bapaknya lari ketakutan, dan di hajar massa sampai babak belur. Itu sudah tidak penting lagi. Aku bersyukur, Basri masih selamat. Aku hanya meminta Santi untuk merawat Basri sampai aku dibebaskan.

[Makassar, 2016]