Kepedulian (2)

Muhammad Saadilah
Aug 8, 2017 · 2 min read

Kepedulian kali ini saya jelaskan setelah menjelaskan kepedulian dengan hal2 didekat kita terlebih dahulu. Agar kita paham apa itu peduli. Setelah memahami mewahnya kepedulian, saya sadar, bahwa kepedulian adalah hal yg dimiliki semua orang2 yang kita anggap baik dan tidak dimiliki orang2 yg kita anggap buruk. Saya menggunakan kata anggap karena penilaian kita hanyalah sebuah anggapan atau perkiraan. Kebenarannya ? mari serahkan kepada yang maha tau.

Kepedulian seperti : membukakan pintu untuk org lain, memberi jalan untuk orang yang sedang terburu2, membalikkan badan seekor binatang yg kesulitan untuk bangkit dan hal lainnya yg mungkin bisa anda bantu sebutkan. Intinya, kepedulian asalnya dari hati. Hati sendiripun adalah hal yg paling abstrak , sampai2 hanya penciptanya yang tau maksud dari sebuah hati. Bahkan orang yg memiliki hati itupun bisa lupa dengan maksudnya. Maka kepedulian dengan keistimewaannya membuat mulia mereka yang selalu mengaplikasikan kepeduliannya. Peduli membuat manusia menjadi manusia seutuhnya. Peduli membuat agama, ras, jahat, baik, masa lalu bisa dipinggirkan dengan sekejap. Berdasarkan kesoktahuan saya, mungkin rasa iba dan kasihan pun bentuk kepedulian. Kepedulian ini pun selalu tertuju untuk kebaikan. Sampai2 saya khawatir barang siapa yg sering2 peduli akan menjadi orang yg sangat baik hatinya.

Peduli pun punya banyak sebab. Bisa jadi karena kita pernah merasakannya dan tau rasanya di posisi seperti itu, atau membayangkan diri kita di posisi yg sama.

Nah sekarang, peduli ? bisakah sebuah kepedulian salah ? wuhuw favorite gua ini. Bisa banget. Tapi jangan takut. Kesalahan membawa orang yang hatinya jujur kepada kebenaran.

Tapi kebenaran kan relatif men? Iya tau. Makanya pengen gua jelasin. Bener banget, misal orang amerika bilang ke nyokapnya pake “you” kalo org indo mah bilangnya pake kata2nya sendirilah yg sopan pokoknya, setelah gua perhatikan setiap anak punya caranya masing2 untuk berusaha sopan ke ortunya.

Bener itu ujungnya yg paling ujung selalu baik. terlepas dari konteks atau ketidaktepatan perbuatan. Ya benar sekali, sesuai niat yg ada dalam hati kita aja. Engga dong, jgn setuju2 aja. Kalo begitu terlalu luas dong kebenaran. Bahkan dengan mudahnya kebenaran dan kebatilan tecampur aduk. Kita butuh sesuatu yg bisa menjadi standar untuk setiap manusia yg berakal. Meskipun akalnya sedikit. Dimanakah engkau kebenaran , cepat datang. Kami menunggu.

    Muhammad Saadilah

    Written by

    Sekedar berbagi sudut pandang, semoga menemukan hal yang membantu disini.