Pujian

Muhammad Saadilah
Aug 28, 2017 · 2 min read

Cuma pengen ngajak pembaca mikir, boleh ?

Pernah dipuji ? entah oleh orang tua , keluarga , sahabat, pasangan, teman atau bahkan lawan ? mana pujian yang paling berbekas di hati ? Simpan saja jawabannya, saya hanya basa — basi.

Saya pribadi , sejak dulu benci dengan pujian. Bila anda mengenal saya, mungkin senyuman anda terima saat memuji saya dan terkadang saya tidak bisa menutupinya lalu memasang muka datar atau mungkin segera saya lontarkan perkataan sombong yang menjengkelkan dan melebih2kan anggapan anda.

Karena sebenarnya saat menerima pujian, di hati kecil saya sedang berlangsung peperangan batin dalam waktu beberapa detik sebelum memutuskan harus berbuat apa. Gambaran kebingungannya kurang lebih seperti saat dinyanyikan lagu ulangtahun oleh banyak orang.

Namun apa yang sedang diperangi ?

Begini , Dahulu kala saya menerima saja semua pujian sampai saya mengenal bahwa pujian memiliki maksud tersendiri dibaliknya. Hal yang membutuhkan kelihaian dalam menilai situasi sebelum pujian itu terjadi dan mengaitkan dengan pribadi orang si pemberi pujian. Alasannya bervariasi namun yang kerap terjadi hanya sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana, tapi sayangnya berlebihan.

Namun ada hal yang lebih penting. Saya menyadari bahwa dalam menerima pujian ada sebuah perasaan puas yang membuat saya merasa lebih hebat daripada pencapaian itu sendiri. Sehingga membuat tujuan awal tergerus. Dan secara tidak sadar, ini melatih diri saya untuk melakukan sesuatu untuk sekedar menuai pujian dan bukan mencapai makna sebenarnya dalam bertindak. Hal ini juga merupakan awal dari sebuah kesombongan. Paham kan maksud saya ?

Kebencian terhadap pujian inipun terus saya tanamkan, tapi cukup untuk diri saya. Karena adalah suatu tindakan tidak sopan saat anda marah kepada orang yang memuji anda. Niat mereka hanya ingin menjadi ramah dan sopan. Dan hal ini saya yakini akan terus terjadi sampai nanti entah kapan.

Saya sendiripun sering memuji orang lain. Namun karena saya paham permasalahan pujian ini, sebisa mungkin saya memuji seadanya. Dengan tatapan serius , jabatan tangan yang keras dan senyuman kecil. Menurut saya sudah cukup. Tanpa harus merangkai kalimat berlebihan dan beracun. Tujuannya hanya sebagai apresiasi bahwa melakukan kebenaran itu benar. Tidak lebih. Bilapun saya merangkai kalimat yang terdengar berlebihan, tujuannya agar tujuan pencapaian orang itu bisa lebih meresap dan menjadi inspirasi untuk orang lain.

Seiring berjalannya waktu saya kepikiran dan menemukan penangkal pujian. Bukan, bukan dengan melakukan hal buruk sehingga menuai hinaan demi terjauh dari pujian.

Meluruskan niat. Terus mengingatkan diri. Saat memulai, saat proses sampai pencapaian itu tercapai. Jangan pernah bosan menanyakan diri, apa makna dari tindakan saya kali ini ? Apabila terbesit agar terlihat “wah” segera lupakan. Yakini bahwa pujian mereka hanyalah sekedar basa-basi , sedangkan tujuan yang ikhlas membuat kamu mulia di mata Rabbmu.

)
    Muhammad Saadilah

    Written by

    Sekedar berbagi sudut pandang, semoga menemukan hal yang membantu disini.