Muhammad Amin Zaim
Aug 27, 2017 · 4 min read

Mengapa Keberjalanan Organisasi adalah Cerminan Diri Pemimpinnya

“Memimpin bukan cuma tentang membuat orang lain melangkah ke arah yang disepakati. Lebih dari itu, memimpin adalah soal mengalahkan diri sendiri.”

Organisasi pasti dibentuk karena adanya suatu tujuan, dan tujuan ini menjadi sesuati yang worth it untuk dicapai karena adanya suatu ‘kepentingan’. Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang tingkat kebenaran dari kepentingan ini, karena hal ini cukup rumit dan membutuhkan sudut pandang yang luas. Yang jelas, di setiap tindakan yang kita lakukan, pasti terdapat kepentingan yang hendak dicapai olehnya.

Namun di sini, saya ingin sedikit menggelitik nurani kita semua, tentang bagaimana asal-usul kepentingan yang dipegang oleh suatu organisasi.

Idealnya, setiap organisasi pasti memiliki suatu tujuan jelas yang hendak dicapai. Ketika tujuannya jelas, maka sudah pasti bahwa kepentingannya pun sudah pasti jelas. Tujuan organisasi ini pada umumnya tercantum pada dokumen legal/formal organisasi tersebut. Dan segala hal yang diputuskan dalam keseharian organisasi seharusnya mengacu pada tujuan tersebut.

Namun pada kenyataannya, lemahnya sistem pengawasan terhadap dokumen legal/formal tadi acap kali menyebabkan tujuan organisasi menjadi bias, dan sering tercampur aduk dengan kepentingan ‘orang-orang’. Biasnya tujuan organisasi dapat terlihat dari keberjalanan organisasi tersebut dalam kesehariannya. ‘Kepentingan-kepentingan’ ini tidak secara langsung menggerogoti tujuan organisasi, Ia masuk lewat keberjalanan organisasi hariannya, yang secara perlahan akan membelokkan arah organisasi dari tujuan yang seharusnya. ‘Orang-orang’ ini bukan sembarang orang, orang yang dapat mencampuradukkan kepentingannya ke dalam keberjalanan organisasi merupakan orang yang tentunya memiliki influence yang cukup, yang biasanya disimplifikasi sebagai pengurus organisasi, pentolan geng, dll.

Hal ini sebenarnya wajar, karena sebenarnya organisasi ini secara riil digerakkan oleh ‘orang-orang yang memiliki influence’, bukan oleh dokumen-dokumen legal/formal yang lapuk itu (atau bahkan beberapa hilang karena pengarsipan yang buruk). Serta secara logis, seharusnya ketua organisasi lah yang memiliki influence terbesar di antara berbagai influence besar pihak-pihak lain.

Selanjutnya influence ini akan saya analogikan sebagai pedang

Dalam posisi ini, apabila melalui mekanisme pemilihan yang benar, pemimpin pasti akan memegang ‘pedang’ ini pada saat awal-awal masa kepemimpinannya (entah pada waktu-waktu berikutnya pedang ini bisa saja terlepas). Pemimpin selanjutnya akan dihadapkan pada berbagai pilihan untuk membuat suatu decision, dan pada saat ini lah pemimpin melalui sebuah masa-masa krusial pada masa kepemimpinannya. Secara garis besar, pilihan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu 1. Pilihan benar, dan 2. Pilihan mudah (tanpa menutup kemungkinan ada pilihan yang benar dan mudah serta pilihan yang salah dan sulit. Namun dalam 2 kondisi tersebut, sudah pasti jelas pilihan mana yang akan diambil oleh si pemimpin).

Sudah menjadi human nature bahwasannya manusia memang terlahir untuk memilih sesuatu yang ‘mudah bagi dirinya’. ‘Kemudahan’ merupakan sesuatu yang relatif bagi masing-masing orang. Layaknya berlari marathon 10k pasti lebih mudah daripada mengerjakan observasi di laboratorium bagi seorang pelari, dan kenyatannya akan berbalik ketika hal tersebut dilihat dari kacamata seorang saintis lab. Lain hal nya dengan suatu kebenaran yang nilainya absolut dan tetap saja benar apabila dilihat dari sudut pandang manapun pada akhirnya (dengan syarat kebenaran ini telah disintesis dengan sungguh-sungguh serta dilihat secara mendalam dan esensial).

Preferensi mudah/tidak nya sesuatu ini erat kaitannya dengan egoisme, sudut pandang ke-aku-an. Pemimpin yang memilih untuk mengambil pilihan mudah biasanya akan 1. terombang-ambing oleh preferensi dari berbagai pihak di sekitarnya, apabila Ia bersedia mengurangi egonya dan bersikap ingin menyenangkan semua pihak ; atau 2. Secara membabi buta akan menerapkan preferensi dirinya sendiri karena ketidakmampuannya mengalahkan ego dirinya sendiri. Pilihan 1 akan melahirkan pemimpin yang dicap ‘gampang disetir, tak punya standing point, dll.’ Sedangkan pilihan 2 akan melahirkan cap ‘pemimpin batu, keras kepala, tangan besi, dll’.

Lain hal nya ketika pemimpin berorientasi pada suatu hal yang benar. Hal yang benar bukan lah preferensi dari siapa pun, bahkan bukan preferensi dari pemimpinnya itu sendiri. Pilihan benar terkadang bisa dikatakan sebagai ‘pilihan Tuhan’ karena pemimpin sebenarnya hanya melanjutkan apa yang Tuhan pilih. (ini lah mengapa pemimpin secara harfiah disebut sebagai Khalifah / pengganti Tuhan di muka bumi. Karena pada dasarnya Ia hanya ‘robot’ Tuhan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya Tuhan mau, dan yang Tuhan mau pastilah kebenaran, karena kebenaran datangnya dari Tuhan). Pemimpin yang seperti ini akan terlihat kaku dan minim toleransi. Ia tidak akan dicap sebagai ‘pemimpin gampang setir, dll.’ atau pun ‘kepala batu, dll.’ karena Ia memiliki standing point yang jelas, terprediksi, bukan dari dirinya semata, dan benar (kebenaran akan diterima oleh semua orang apabila disintesis secara benar, namun sayangya kebenaran seringkali pahit sehingga orang menolak buat menerimanya hehehehe). Pemimpin seperti ini akan terlihat seolah ‘terkungkung oleh suatu prinsip’. Dan hal ini akan diikuti oleh anggotanya. Sebenarnya anggotanya bukan setia pada pemimpinnya, tapi setia pada prinsip yang dipegang oleh pemimpinnya. Kesetiaan mereka buka terletak pada orang, tapi terletak pada prinsip.

Decision seorang pemimpin lah yang akan menentukan bagaimana bentuk organisasi. Dan kembali lagi, sifat pemimpinnya lah yang akan menentukan decision mana yang akan Ia ambil. Pemimpin yang cari aman (alias takut menghadapi ‘perih’ di depan mata) hampir bisa dipastikan akan memilih pilihan mudah. Karena pilihan benar merupakan pilihan yang penuh konsekuensi, dan konsekuensi itu cenderung sangat pahit dan berat untuk dilalui. Apabila pemimpin sudah memutuskan untuk memilih pilihan yang mudah, maka sedikit-banyak preferensi/‘kepentingan’ si pemimpin itu akan ikut tercampur aduk dalam decision-nya, dan di situ lah karakter seorang pemimpin akan terlihat, dan tercermin dalam keberalangsungan organisasi.

“If you want to test a man’s character, give him power”- Abraham Lincoln

Eits, tapi untuk beberapa kasus, ‘pedang’ diambil alih oleh pihak lain, dan pemimpin menjadi powerless, sehingga organisasi adalah cerminan pemimpinnya menjadi tidak berlaku sesignifikan itu. Tapi yang jelas, akan terjadi chaos karena si pemegang ‘pedang’ yang baru itu tidak akan ‘se-established’ itu dibandingkan apabila Ia mengambil pedangnya dengan cara yang ‘resmi’, alias bisa terjadi ‘distabilitas power’, dan kembali lagi ini adalah salah pemimpin kenapa pedangnya bisa ‘terlepas’

Muhammad Amin Zaim

Yang sedang melepas segala hal yang melekat pada dirinya, dan mencoba memandangnya dari sudut pandang orang ke-3

)
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade